Beranda

ULAMA NU : “JIHAD HUKUMNYA FARDHU KIFAYAH MINIMAL SETAHUN SEKALI …!!!”

Tinggalkan komentar

Tulisan ini hanyalah terjemahan dari kitab kuning yang  menjadi rujukan di berbagai pesantren yang berafiliasi ke Nahdhatul Ulama (NU) yang selama ini menentang kewajiban jihad dan menyematkan berbagai julukan buruk kepada para mujahidin.

Lagi

Iklan

BANTAHAN SYAIKH JIBRIN ATAS FITNAH TERHADAP SYAIKH BIN BAZ DAN SYAIKH USAMAH BIN LADIN

5 Komentar

في كلمة للشيخ عبد الله الجبرين .. 

سئل عن ابن لادن  : 

– هل أسامة بن لادن من المفسدين في الأرض كما قال الشيخ ابن باز رحمه الله في فتواه ؟!

 

Lagi

JIHAD YANG TAK KITA INGINKAN

4 Komentar

JIHAD YANG TAK KITA INGINKAN

نوع من الجهاد لا نريده

لا نريد الجهاد التي تكون بواعثه الضجر  وقلة الصبر على الواقع  فيحمل صاحبه على استشراف مواطن الهلكة والموت  ليستريح

“Kami tidak menghendaki jihad yang timbul akibat kebosanan dan kurangnya kesabaran menghadapi realitas perjuangan,  sehingga membuatnya bersikap berlebihan dalam melakukan kerusakan dan menyebabkan kematian.  Karena ia ingin segera beristirahat dari perjuangan”

Lagi

FATWA ASY SYAHID -KAMA NAHSABUH- SYAIKH ABDULLAH AZZAM TENTANG MU’AMMAR QADDAFY

Tinggalkan komentar

Berikut pertanyaan Asy Syahid –kamaa nahsabuh– Syaikh DR. Abdullah Azzam yang beliau tujukan kepada  para ulama tentang Qaddafy :

“Ketika anda bertanya kepada para ulama’ : “Apa yang kan kalian fatwakan terhadap Qaddafy yang tidak menyisakan satu pun pemuda muwahhid (yg teguh memegang tauhid) kecuali akan dijebloskan ke dalam penjara. ……………. Apa yang akan kalian fatwakan tentang orang ini (Qaddafy) yang telah nyata-nyata KAFIR kepada Allah senyata dan seterang siang hari serta ingkar kepada sunnah Rasulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Apa yang akan kalian fatwkan wahai ulama yg mulia ?”

“APAKAH DIA MASIH MUSLIM ?”

“Saya tidak yakin ada agama yang mau menerima orang seperti ini yang kedzalimannya sudah di luar batas, dan barangsiapa yang mau menerima kedzaliman seperti ini, ia telah berdosa di dunia ini dan ia akan menerima adzabnya di akhirat kelak ”  (Syaikh Abdullah Azzam : “Al Jihad : Fiqhun Wa Ijtihadun hal 195 – 196)

Lagi

THE MIRACLES OF SHAHEED

Tinggalkan komentar

  • MATI SYAHID ADALAH CITA-CITA RASULULLAH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أُقْتَلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ 

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku ingin terbunuh di jalan Alloh, kemudian dihidupkan kembali kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan kembali kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi kemudian terbunuh lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • PARA SYUHADA’ TETAP HIDUP DI JANNATUL FIRDAUS

 وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Robbnya dengan mendapat rizki”. (QS Ali Imron 169)

Jabir Bin Abdullah Radhiyallohu ‘Anhu berkata : Ketika Abdullah bin Amr bin Haram (ayah Jabir)  syahid pada perang Uhud, Rasulullah menemuiku seraya bertanya : “Wahai Jabir, apa yang membuatmu terlihat begitu sedih dan berduka ?”. Aku menjawab : “Ya Rasulullah, ayahku syahid, sedangkan ia meninggalkan banyak anak dan hutang”. Rasulullah lalu berkata : “Wahai Jabir maukah engkau kuberitahu apa yang dikatakan Allah kepada ayahmu ?”. “Baik ya Rasulullah”, jawabku. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak pernah mengajak bicara siapa pun kecuali dari belakang hijab, kecuali kepada ayahmu. Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung dengan berhadap-hadapan. Allah Berfirman (kepada Abdullah) : “Wahai Abdullah berangan-anganlah kepadaku, pasti aku kabulkan”. Abdullah menjawab : “Ya Rabb, hidupkanlah aku ke dunia lagi lalu aku terbunuh fi sabilillah untuk kedua kalinya”. Allah Azza Wa Jalla Berfirman : “Wahai Abdullah Aku telah Memutuskan bahwa orang yang telah mati tidak akan kembali ke dunia lagi”. Maka Abdullah bin Amr berkata : “Ya Rabb jika demikian, kabarkanlah keadaanku ini kepada orang-orang yang ada di belakangku”. Maka Allah menurunkan ayat ini”.(HR. Ibnu Majah & Tirmidzi, beliau berkata hadits ini hasan Gharib)[1]

Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya dari Masruq Radhiyallohu ‘Anhu berkata  “Kami bertanya kepada Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallohu ‘Anhu tentang ayat ini :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ  

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb nya dengan mendapat rezeki. (Ali Imron: 169)

Lalu beliau menjawab : “Kami telah bertanya tentang masalah ini kepada Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa sallam dan beliau bersabda : “Ruh-ruh mereka berada pada tembolok burung-burung hijau yang memiliki lentera yang tergantung pada Arsy Allah, mereka terbang di dalam jannah ke manapun mereka kehendaki, lalu kembali menuju lampu tersebut lalu Rabb mereka menampakkan dirinya kepada mereka dengan sebenar-benarnya  seraya berfirman : “Apakah yang kalian inginkan?” Mereka menjawab : “Apakah ada hal lain yang kami inginkan sementara kami telah bebas terbang ke sana kemari di dalam jannah ini?” . Allah mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali, lalu pada saat mereka menyadari bahwa mereka tidak akan ditinggalkan kecuali harus meminta sesuatu mereka berkata : “Wahai Rabb kami, kembalikanlah ruh-ruh kami pada tubuh-tubuh kami sehingga kami terbunuh kembali di jalan -Mu, lalu pada saat Rabb mereka mengetahui bahwa tidak memiliki hajat apapun maka merekapun ditinggalkan” (HR. Muslim) 

Dari Anas Radhiyallohu ‘Anhu  bahwasanya Nabi Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda : “Tidaklah seseorang masuk jannah itu ingin kembali lagi ke dunia dan mendapatkan apa yang ia miliki di dunia kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya ia berangan-angan untuk bisa kembali lagi ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali, lantaran kemuliaan yang ia lihat.” Dalam riwayat lain disebutkan : “…lantaran keutamaan mati syahid yang ia lihat.” (Muttafaq ‘Alaih)

فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ 

“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan -Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Ali Imron : 170).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik tentang kisah tujuh puluh shahabat Anshar yang terbunuh syahid di sumur Ma’unah karena dikhianati orang-orang kafir, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut guna berdo’a untuk kebinasaan kaum yang telah membunuh mereka. Sebelum mereka syahid, mereka sempat berdo’a :

اللَّهُمَّ بَلِّغْ عَنَّا نَبِيَّنَا أَنَّا قَدْ لَقِينَاكَ فَرَضِينَا عَنْكَ وَرَضِيتَ عَنَّا

Ya Alloh, sampaikan kondisi kami kepada Nabi kami, bahwa kami menjumpai-Mu dalam keadaan ridho kepada-Mu dan bahwa Engkau juga telah ridho kepada kami”. 

Allah memberitahukan hal ini kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam kemudian beliau berkata kepada para shahabat nya :  “Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah terbunuh syahid, dan sesungguhnya mereka telah berkata : “Ya Alloh sampaikanlah kondisi kami kepada Nabi kami, bahwa kami menjumpai-Mu dalam keadaan ridho kepada-Mu dan Engkau pun ridho kepada kami.” (Muttafaq ‘Alaih, lafadz hadits dari Imam Muslim).

Maka kemudian Allah turunkan surat Ali Imron ayat 169 – 170  di atas.

Imam Ibnu Katsir berkata : “Seakan-akan para syuhada tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok, di antara mereka ada yang ruh-ruhnya beterbangan di dalam jannah, dan di antara mereka ada yang berada pada sungai di pintu jannah, dan bisa jadi perjalanan terakhir mereka pada sungai ini dan mereka berkumpul di sana, mereka diberikan rizki yang berlimpah baik pada waktu pagi atau petang.

“Dan kami telah meriwayatkan di dalam musnad Imam Ahmad sebuah hadits yang menjelaskan tentang kabar gembira bagi setiap orang yang beriman, bahwa ruh mereka berada di jannah, beterbangan di dalam nya, makan dari buah yang berada di jannah, dia memandang padanya apa-apa yang membuat mereka senang dan berseri-seri, dia juga menyaksikan apa-apa yang dipersiapkan oleh Allah subhanahu wata’ala bagi mereka berupa kemuliaan”.

Sanad hadits ini shahih disepakati oleh oleh tiga dari empat imam madzhab, karena Imam Ahmad meriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i dari Imam Malik bin Anas dari Imam Az Zuhri dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari bapaknya radhiallahu anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :  “Ruh seorang mukmin di jannah menjadi seekor burung yang bergantung pada pohon-pohon sehingga Allah mengembalikannya ke dalam tubuhnya pada hari dia dibangkitkan”  

 “Maksud bergantung di pohon adalah mereka mendapatkan makanan dari pohon ituDi dalam hadits ini disebutkan bahwa jiwa orang yang beriman seperti burung di dalam jannah, sementara ruh para syuhada’ berada pada tembolok burung yang berwarna hijau maka dia bagai bintang-bintang jika dibandingkan dengan ruh kaum mukminin pada umumnya, dia terbang sendiri-sendiri. Kita memohon kepada Allah yang Maha Memberi untuk mematikan kita di dalam keimananWallahu A’lam” [2]

  • DI ANTARA KEUTAMAAN SYUHADA’

Dan dari Ubadah bin Shomit Radhiyallohu ‘Anhu  berkata : Rosululloh Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda :

إِنَّ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الإِِيمَانِ ، وَيُزَوَّجَ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ ، وَيُجَارَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَيَأْمَنَ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ وَيُوضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ، وَيُزَوَّجَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ ، وَيُشَفَّعَ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ 

“Sesungguhnya orang yang mati syahid memiliki tujuh keutamaan di sisi Alloh :  diampuni dosanya ketika darah pertamanya menetes, diperlihatkan tempat duduknya di jannah, disematkan perhiasan iman, diselamatkan dari siksa kubur, diamankan dari kegoncangan terbesar (hari kiamat), diletakkan mahkota kemuliaan di kepalanya di mana satu mutiara yang ada padanya lebih baik daripada dunia seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua isteri dari Huurun ‘Ien (bidadari bermata jeli), dan diberi kesempatan memberi syafaat kepada tujuh puluh keluarganya.” (HR. Ahmad dan Thabranî, sanad Ahmad adalah hasan)

 

  • SEBUAH IBROH DARI SYAHIDNYA SA’AD BIN MUADZ RADHIYALLOHU ‘ANHU 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda : “Arsy Allah berguncang karena kematian Sa’ad bin Muadz” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan “Kematiannya mengguncang ‘Arsy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, pintu yang banyak, kesyahidannya disaksikan oleh 70.000 malaikat, maka sesungguhnya ia mengalami himpitan kubur, kemudian Allah melapangkannya.”

“Jika ada orang yang selamat dari himpitan kubur, pastilah Sa’ad bin Muadz termasuk orang yang selamat”  (Hadits Shahih)

“Sesungguhnya setiap kubur pasti akan menyempit dan menghimpit orang yang di dalamnya. Seandainya ada orang yang bisa selamat dari himpitan kubur, pastilah Sa’ad bin Muadz selamat dari himpitannya” (Hadits Shahih) [3]

Kalau Sa’ad bin Mu’adz,  seorang shahabat yang mulia, hamba yang shalih dan mendapatkan mati syahid dengan disaksikan 70.000 malaikat, beliau hampir mengalami himpitan kubur, lalu bagaimana dengan saya dan anda ???!!!

  • ORANG YANG MATI SYAHID TIDAK MERASAKAN SAKITNYA LUKA

“Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali sebagaimana seorang di antara kalian merasakan (sakitnya) gigitan serangga.” (HR. Ahmad,  Tirmidzi, Nasa’i dengan sanad hasan)

Asy Syahid –Insya Allah- Dr. Abdullah Azzam menceritakan : ”Kami melihat hal ini pada saudara kami, Khalid Al Kurdi dari Madinah Al Munawwaroh ketika ranjau meledak mengenainya, sehingga terbang kakinya, terbelah perutnya, keluar ususnya dan terkena luka ringan pada tangan luarnya. Datanglah Dr. Shalih Al Lybie mengumpulkan ususnya dan mengembalikan ke dalam perutnya seraya menangis bercucuran air mata. Maka bertanyalah Khalid Al Kurdie kepadanya, “Mengapa engkau menangis, dokter?  Ini hanya luka ringan di tanganku.”

Dan tinggalah Khalid Al Kurdie berbincang-bincang dengan mereka selama 2 jam hingga akhirnya ia menjumpai Allah. Dia tidak merasakan bahwasanya kakinya telah terpotong, perutnya terbuka dan ususnya terburai.” Allahu Akbar …!!!!  

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) :

“Tidaklah suatu luka tergores di jalan Alloh, melainkan luka itu akan datang pada hari kiamat, lukanya masih mengeluarkan darah, warnanya warna darah dan aromanya aroma misik.” (Muttafaq ‘Alaih)

 

  • MATA PARA PENGECUT TIDAK AKAN PERNAH TERPEJAM..!!!

Mati syahid di medan jihad adalah rizki yang tidak ternilai harganya, dan tidak sembarang orang mendapatkannya dengan mudah, bahkan setelah mengikuti ratusan medan jihad sekalipun. Saifullah Al Maslul (Pedang Allah Yang Terhunus) Khalid bin Walid contohnya, beliau Insya Allah syahid namun bukan di medan jihad seperti yang diimpikannya, beliau wafat di atas kasurnya, cara kematian yang sangat tidak diinginkannya.

Ibnu Zanad menyebutkan : “Saat maut akan menjemput Khalid  bin Walid beliau menangis seraya berkata : “Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkal pun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku terkulai di atas ranjangku menunggu maut seperti seekor unta yang sekarat. Sungguh mata para pengecut tak akan pernah terpejam (karena kebencian mereka terhadap jihad dan mujahidin)…!!!”

Pada saat berita kematian tersebut sampai kepada Amirul Mu’minin, Umar bin Al Khattab beliau berkata : “Semoga Allah meberikan rahmatnya kepada Abu Sulaiman (Khalid bin Walid), sesungguhnya dia seperti apa yang kami perkirakan”.

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ سَألَ اللهَ تَعَالَى الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ ، وَإنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Siapa meminta kesyahidan kepada Allah Ta‘ala dengan jujur, Alloh akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid, meskipun ia mati di atas kasurnya.”(HR. Muslim) [4]

[1]  Fathul Bari Juz 6 hal 5 Bab “Angan-angan mujahid agar dikembalikan ke dunia” . (The Miracle of Shaheed Hal 129 – 130) 

[2]  Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 164

[3]   Siyaru A’lamin Nubala’ juz 1 hal 291

[4] Mukhtashor Tarikh Dimasyq juz 3 hal 42, Siyar A’lam An Nubala’ juz 1 hal 383(The Miracle of Shaheed Hal 129 – 130) 

JANGAN MIMPI BERJIHAD, SEBELUM MAMPU RIBATH YG INI..!!

Tinggalkan komentar

  • KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMA’AH DI MASJID SEBANDING DENGAN RIBATH (BERJAGA-JAGA) FI SABILILLAH

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ t رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ  أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ.

Dari Abu Hurairah t beliau berkata : Rasulullah bersabda :

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amal yang karenanya Allah akan menghapuskan dosa-dosa kalian dan mengangkat derajat kalian ?” Para Shahabat menjawab : “Mau Ya Rasulullah”.Rasulullah  bersabda : “(yaitu) menyempurnakan wudhu’ di saat kalian dalam kondisi kesulitan, memperbanyak langkah menuju masjid-masjid Allah dan menunggu datangnya waktu sholat sehabis kalian selesai melaksakanan sholat (berjama’ah). Itulah yang dimaksud dengan ribath (berjaga-jaga)”.(HR Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan : “Ribath yang dimaksud di sini juga berarti berjaga-jaga di medan jihad. Sedangkan ribath aslinya bermakna menahan atau mengikat diri terhadap sesuatu. Seakan-akan kita berusaha menahan hawa nafsu kita agar senantiasa berada dalam ketaatan seperti ini dan tidak mudah tergoda untuk berbuat maksiat”.

  • MALAS BERJAMA’AH KETIKA DATANG WAKTU SHOLAT DAN SEDIKIT BERDZIKIR ADALAH TANDA SIFAT NIFAQ

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا [النساء/142]

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (pamer) (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah (berdzikir)  kecuali sedikit sekali (QS An Nisa’ 142)

Menipu Allah :  pura-pura beriman, taat dan patuh kepada Rasulullah padahal di dalam hatinya mereka kufur dan ingkar terhadap Allah dan Rasul-Nya

  • MENINGGALKAN SHOLAT JAMA’AH ADALAH TANDA-TANDA MUNAFIK 

Dari Abu Ahwash diriwayatkan dari Abdullah t beliau bersabda :

“Barangsiapa yang nanti (di hari kiamat) ingin berjumpa Allah dalam keadaan muslim maka hendaklah ia menjaga sholat lima waktu (dengan berjama’ah di masjid) saat datang panggilan (adzan), karena Allah mensyari’atkan kepada Nabi kalian  sunnah-sunnah yang memberikan hidayah. Dan sesungguhnya sholat lima waktu (berjama’ah di masjid) adalah bagian dari sunnah itu”.

“Maka seandainya kalian sholat di rumah kalian seperti orang yang menyelisihi sunnah Nabi ini (orang-orang munafik) yang sholat di rumahnya, itu berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian e.Dan jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian e kalian pasti akan tersesat”.

“Tidaklah seorang laki-laki berwudhu’ dan ia menyempurnakan wudhu’ nya itu lalu bersegera berangkat ke salah satu masjid di antara masjid-masjid Allah kecuali Allah tuliskan baginya pada setiap satu langkah kakinya satu kebajikan, mengangkatnya satu derajat, menghapuskan satu dosa dan sungguh aku sudah menyaksikan (keadaan) kami (seperti itu)”.

“Dan tidaklah seseorang meninggalkan hal ini (sholat berjama’ah 5 waktu di masjid) kecuali ia termasuk orang munafik yang jelas sekali kemunafikannya” (HR Muslim)

  • SHOLAT JAMA’AH  ISYA’ DAN SHUBUH ADALAH SHOLAT YANG PALING BERAT BAGI ORANG MUNAFIK

Dari Abu Hurairah t beliau berkata : Rasulullah  bersabda :

“Tidak ada sholat yang lebih berat untuk dilakukan oleh orang munafik melebihi sholat Isya’ dan Shubuh (berjama’ah di masjid). Padahal seandainya mereka tahu keutamaan yang Allah siapkan bagi mereka (sebagai imbalan dari sholat tersebut), pastilah mereka akan bersusah payah berangkat ke masjid untuk berjama’ah walaupun mereka harus merangkak. Sungguh aku sangat ingin memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan iqamat lalu aku suruh salah seorang dari kalian untuk mengimami sholat jama’ah sedangkan aku akan pergi mengambil obor untuk membakar rumah orang-orang yang tidak mau datang ke masjid untuk sholat berjama’ah (HR Bukhari)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim beliau bersabda :

“Sesungguhnya sholat yang paling berat untuk dilakukan oleh orang munafik adalah sholat Isya’ dan Shubuh (berjama’ah di masjid). Padahal seandainya mereka tahu keutamaan yang Allah siapkan bagi mereka (sebagai imbalan dari sholat tersebut), pastilah mereka akan bersusah payah berangkat ke masjid untuk berjama’ah walaupun mereka harus merangkak. Sungguh aku sangat ingin memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan iqamat lalu aku suruh salah seorang dari kalian untuk mengimami sholat jama’ah sedangkan aku akan mengajak orang untuk membawa kayu bakar yang menyala untuk membakar rumah orang-orang yang tidak mau datang ke masjid untuk sholat berjama’ah (HR Muslim)

  • HANYA ORANG YANG MEMAKMURKAN MASJID YANG BERHAK DISEBUT ORANG BERIMAN DAN YANG MENDAPAT HIDAYAH

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ  [التوبة/18]

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah (yang berhak disebut) orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian (kiamat), serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS At Taubah 18) 

  • TUJUH GOLONGAN YANG AKAN MENDAPAT NAUNGAN ALLAH DI HARI KIAMAT NANTI

Dari Abu Hurairah t beliau berkata : Rasulullah bersabda :

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah Azza Wa Jalla pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya : (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb nya, (3) hamba Allah yang hatinya selalu terpaut ke masjid-masjid Allah, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah di atas (jalan) Allah, (5) laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang cantik dan terhormat (bangsawan) tetapi ia berkata : “Aku takut kepada Allah”, (6) hamba Allah yang berinfaq dengan sembunyi-sembunyi sehingga ketika tangan kanannya berinfaq tangan kirinya tidak mengetahuinya dan (7)  hamba Allah yang menyendiri untuk mengingat Allah (berdzikir dan beribadah) lalu kedua matanya basah dengan airmata” (HR Bukhari dan Muslim)

JAUHILAH MAKSIAT WAHAI MUJAHID (nasehat dari hamba Allah yang faqir untuk para Mujahid penolong Sunnah dan Tauhid)

Tinggalkan komentar

DIENUL ISLAM ADALAH NASEHAT 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

 “Dienul Islam adalah Nasehat”. kami bertanya : “Milik (bagi) siapakah ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : “Milik Allah, Kitab-Nya (Al Qur’an), Rasul-Nya dan juga kaum muslimin, baik  para  pemimpinnya maupun orang-orang awam”. (HR Bukhari Muslim)

Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam suri teladan kita, agar kita saling memberi nasehat  menuju ketaqwaan dan kebajikan  dan ini pula yang mendorong penulis untuk menyusun nasehat ini.

Semoga Allah mengampuni kelemahan penulis dan kekurangannya dalam memadukan antara ilmu dan amal, antara tulisan dan tindakan. Semoga nasehat ini bermanfaat bagi penulis dan keluarga khususnya, dan juga bagi kaum muslimin seluruhnya. Amien.

إِلَهِى لاَ تُعَذِّبْنىِ فإَِنِّى              مُقِرّاً بِالَّذِى قَدْ كاَنَ مِنِّى

يَظُنُّ النّاَسُ بِى خَيْراً فَإِنِّى    لَشَرُّ الْخَلْقِ لَوْ لَمْ تَعْفُ عَنِّى

فَماَ لِي حِيْلَةٌ إِلاَّ رَجاَئِيْ    وَعَفْوَكَ إِنْ عَفَوْتَ وَحُسْنَ ظَنِّي

Ya Allah….  janganlah Engkau siksa diriku  

karena aku telah mengakui segala dosa-dosaku

Manusia menyangka diriku adalah orang baik,

Padahal akulah se buruk-buruk makhluk-Mu,

 Jika Engkau tak  sudi Mengampuniku

Tak ada lagi dayaku selain mengharap rahmat dan ampunan-Mu

Serta husnudzdzon akan belas kasih-Mu

 

IMAN ADALAH KEKUATAN

Tidak sedikit dari kita yang merasa bahwa kekuatan fisik, besarnya jumlah pasukan dan canggihnya peralatan lah yang akan membuat kita menang atas musuh-musuh kita. Padahal fakta di medan jihad di berbagai belahan bumi Allah ini telah membuktikan bahwa semua itu tidak ada artinya sama sekali di depan para mujahidin yang hanya bersenjatakan perlengkapan seadanya, namun mereka memiliki kekuatan yang luar biasa : Iman dan Islam yang kuat menghunjam di dada.

Abdullah bin Rawahah Rodhiyallohu ‘anhu , salah seorang shahabat pemberani yang syahid di perang Mu’tah mengingatkan kita dari mana sesungguhnya sumber kekuatan seorang mukmin dalam membela Dienul Islam dan menegakkan Syari’ah-Nya. Beliau berkata :

“Kita berjihad melawan musuh-musuh Allah bukan dengan mengandalkan kekuatan kita, bukan pula besarnya jumlah pasukan kita, kita berperang hanya berbekal Dienul Islam yang kita pegang  sekuat tenaga dan penuh keteguhan jiwa, dengan Islam itulah Allah telah memuliakan dan memenangkan kita semua”. [1]

Nasehat ini seharusnya menyadarkan kita agar kita benar-benar memegang kuat Dienul Islam serta menjaga  syari’ah Allah melebihi kuatnya seorang mujahid memegang erat senjatanya di kala perang berkecamuk. Manakala sedikit saja kita lengah dan terlena dalam memegang Dienul Islam, saat itu juga hilang segala harapan kita untuk mendapatkan pertolongan Allah, bahkan tak akan ada lagi asa yang tersisa untuk memperoleh kejayaan dan kemenangan. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan pertolongan-Nya hanya bagi mereka yang benar-benar taat  pada syari’ah-Nya, ikhlas dalam berjuang, memenuhi semua hal yang yang menjadi syarat-syarat datangnya pertolongan, berpegang teguh pada Dienul Islam dan hanya bertawakkal kepada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (Dien)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”(QS Al Hajj 40)

Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab Rodhiyallohu ‘anhu lebih takut terhadap maksiat yang dilakukan pasukannya dibandingkan dengan besarnya jumlah pasukan musuh. Sehingga beliau selalu mengingatkan pasukannya : “Jika kita tidak memperoleh kemenangan disebabkan ketaatan kita kepada Allah, pastilah musuh-musuh kita akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka”. [2]

BALASAN MAKSIAT DATANG SECEPAT KILAT

Tidak sedikit dari kita menyangka bahwa Allah akan memberikan toleransi kepada kita manakala kita bermaksiat kepada-Nya karena merasa bahwa kita telah sekian lama berkomitmen pada Syari’ah-Nya dan tidak pernah lelah sepanjang waktu berjuang dan beramal demi tegaknya Syari’ah Allah di bumi ini. Sedangkan maksiat yang kita lakukan itu hanyalah dosa kecil yang –kita sangka- pasti akan diampuni oleh Allah. Padahal yang sebenarnya terjadi tidaklah demikian.

Saat seorang mujahid telah menganggap remeh maksiat dan dosa yang dilakukannya atau menganggap dirinya mendapatkan toleransi untuk berada dalam wilayah syubhat, sesungguhnya ia akan mendapatkan balasan maksiat itu dari Allah dengan serta merta melebihi cepatnya balasan yang ditimpakan Allah kepada orang lain. Inilah yang tidak pernah terpikir dalam benak sebagian besar ikhwah mujahid dan para aktivis penegakan syari’ah di negeri ini. Mereka terlena dengan banyak perbuatan yang sia-sia, bersenda gurau terlalu berlebihan seakan-akan masalah dan problematika umat ini bisa diselesaikan dengan senda gurau, berlarut-larut dengan perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya, merasa dirinya atau jama’ahnya lah yang paling benar dan sebagainya.

Tatkala kita bemaksiat kepada Allah, kita tidak pernah menyangka akan secepat kilat Allah membalas maksiat itu. Padahal jika kita memahami hakikat Dienul Islam, pastilah kita akan tahu bahwa Allah amat sangat “cemburu” Melihat hamba-hamba pilihan-Nya terlena dalam kemaksiatan dan syubhat, sehingga tanpa menunda waktu lagi Allah langsung mengingatkan mereka. Apalagi seharusnya mereka adalah orang-orang yang paling takut melakukan maksiat, paling jauh dari syubhat dan paling menghindari dosa-dosa, bahkan dosa kecil sekalipun. Karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengingatkan ummat agar menjauhi maksiat dan dosa-dosa, tetapi mereka justru terlena dan berkubang di dalamnya. Maka wajar lah jika balasan Allah sangat cepat bahkan melebihi cepatnya balasan yang Allah timpakan kepada musuh-musuh Islam dan orang-orang yang melampaui batas dan kufur.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang melakukan kejahatan (maksiat dan dosa), niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. (QS An Nisa’ 123)

Para shahabat menyatakan bahwa inilah ayat Al Qur’an yang paling berat bagi mereka, sebagaimana diriwayatkan  oleh Ibnu Abi Hatim bahwa Aisyah mengatakan kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bahwa inilah ayat Al Qur’an yang terasa paling berat bagi dirinya. [3]

DAMPAK MAKSIAT BAGI JIWA

Ibnul Jauzi menjelaskan tentang dampak maksiat bagi jiwa seseorang : “Dan di antara contoh keajaiban balasan maksiat di dunia adalah ketika saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam mencelakakannya serta menjualnya dengan harga yang sangat rendah, tidak berapa lama Allah menghinakan mereka dengan menjadikan mereka  peminta-minta di hadapan Yusuf, orang yang telah mereka celakakan. Al Qur’an menceritakan kisah ini : 

 Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata : Hai Al Aziz (Yusuf), kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah takaran untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf 88) [1]

kemudian Allah butakan mata hatinya dan ia menjadi berat untuk tahajjud, serta matanya sulit menghayati ayat-ayat Al Qur’an dan menangisi dosa-dosa dan sebagainya, lalu Allah hilangkan kejernihan dan kepekaan jiwanya. Atau ia dengan gampang mengkonsumsi makanan yang berasal dari , (nurani) orang itu. Atau membiarkan mulutnya mengatakan ucapan-ucapan kasar, jorok, Kadangkala balasan itu bukan bersifat fisik seperti sakit, bangkrut, bencana alam dan sebagainya tetapi justru berupa balasan maknawi. Kita saksikan betapa banyak orang yang membiarkan matanya jelalatan memandang hal-hal yang diharamkan Allah, kemudian tanpa disadarinya Allah telah mencabut cahaya-Nya dari 

Ada pula dampak yang tidak kalah berbahaya, yaitu dengan menjadikannya bergelimang maksiat, karena dosa kecil atau maksiat yang diremehkannya telah menyebabkan dirinya terseret ke jurang kemaksiatan lainnya. Sesungguhnya maksiat yang dilakukan oleh seseorang setelah ia melakukan satu maksiat adalah balasan Allah atas maksiat yang pertama.

Demikian pula orang yang merasa bahwa setelah ia melakukan maksiat ternyata tidak terjadi sesuatu pun pada dirinya, harta dan keluarganya. Sesungguhnya ia tidak sadar bahwa kelalaiannya akan balasan dari Allah adalah balasan atas dosa-dosanya.

Diriwayatkan bahwa seorang pendeta Bani Israil pernah bermunajat kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah betapa banyak aku telah bermaksiat kepada-Mu namun Engkau tidak sedikit pun menimpakan balasan atas diriku”. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yang diutus saat itu : “Katakan kepadanya : “Betapa besarnya balasan yang telah Aku timpakan kepadamu, sedangkan engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah mengharamkan bagimu manisnya beribadah kepada-Ku, sehingga engkau tak pernah lagi merasakan nikmatnya bermunajat kepada-Ku”[2]

Abu Darda’ Radhiyallohu ‘anhu berkata : “Hindarkan diri kalian dari kebencian orang-orang mukmin terhadap kalian. Tahukah kalian apa sebabnya ? Sesungguhnya jika seorang hamba Allah telah banyak berbuat maksiat kepada Rabb nya, maka Allah akan melontarkan kebencian-Nya ke dalam hati orang-orang mukmin (agar mereka benci terhadap orang itu) dengan tanpa disadari orang itu” [3]

Ketika ada yang bertanya kepada Wuhaib bin Al Warad, seorang ulama salaf  : “Apakah orang yang banyak maksiat dapat merasakan nikmatnya ibadah ? beliau menjawab : “Jangankan yang banyak bermaksiat, bahkan yang baru berniat untuk bermaksiat saja tidak akan merasakan nikmatnya ibadah”  [4]

MAKSIAT SESEORANG, BERDAMPAK BAGI KAUM MUSLIMIN SECARA KESELURUHAN

Ironisnya , dampak dari maksiat yang dilakukan oleh seseorang, bukan hanya ditimpakan Allah atas dirinya saja, tetapi juga kepada seluruh jama’ah, tandzim dan bahkan kepada  seluruh kaum muslimin. Ujian dan cobaan yang Allah timpakan kepada suatu tandzim, bukan tidak mungkin adalah sebagai akibat dari maksiat  yang dilakukan oleh segelintir orang. Semakin besar maksiat dan dosa yang dilakukan, akan semakin besar pula balasan yang Allah timpakan kepada mereka. Lebih-lebih jika yang melakukan maksiat itu adalah mereka yang diberi amanah sebagai pemimpin, atau yang dipercaya menjadi teladan bagi yang lain.

Bahkan yang sangat jarang disadari sebagai maksiat yang tidak kecil adalah sikap kita membiarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita yang justru dilakukan oleh saudara kita sesama aktifis Jihad. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS Al Anfal 25) 

Perang Uhud telah memberikan pelajaran yang amat sangat berharga kepada kita, bahwa maksiat yang dilakukan oleh sebagian kecil kaum muslimin telah menyebabkan bencana pada seluruh umat Islam. Betapa dahsyatnya dampak yang Allah perlihatkan kepada kita atas ketidak patuhan para pemanah yang diperintahkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam agar tetap pada posisi mereka di atas bukit Uhud walau apapun yang terjadi di medan tempur di bawah mereka. Meskipun jumlah mereka tidak lebih dari 4 persen dari seluruh pasukan Islam, lihatlah dampak maksiat mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Tujuh puluh shahabat pilihan gugur syahid, tubuh mereka dicincang-cincang, perut mereka dirobek-robek bahkan jantung Hamzah bin Abdul Muthallib dicabut dari tubuhnya yang suci. Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam robek pipinya dan patah beberapa giginya terkena anak panah musuh. Namun meskipun demikian Allah telah mengampuni mereka semua :

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu (agar tetap pada posisi mereka) dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (harta rampasan perang). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka (Maksudnya: kaum muslimin tidak berhasil mengalahkan mereka) untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman”.(QS Ali Imran 152)

Seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Bashri : “Bagaimana mungkin Allah akan memaafkan mereka, sedangkan perbuatan mereka telah mengakibatkan gugurnya 70 orang shahabat ?”. Beliau menjawab : “Kalau bukan karena ampunan Allah, pastilah Allah telah membinasakan mereka semuanya tanpa tersisa”. [5] 

Ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak dan balasan yang Allah timpakan kepada kaum muslimin bukan karena mereka semua bermaksiat kepada-Nya tetapi hanya karena segelintir saja dari mereka yang bermaksiat. Ternyata balasan yang Allah berikan sungguh luar biasa. Sehingga kalau bukan karena Maha Pengampun nya Allah, pastilah mereka akan dibinasakan seluruhnya tanpa tersisa (700 orang shahabat seluruhnya, bukan hanya 70 orang saja.. !!!)

Kekalahan dan gugurnya banyak shahabat seperti di perang Uhud terulang kembali pada perang Hunain. Saat itu jumlah pasukan muslimin jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pasukan musuh. Sehingga sebagian mereka begitu yakin akan memenangkan pertempuran karena tidak berimbangnya kekuatan. Mereka lupa bahwa kemenangan-kemenangan yang mereka dapatkan dalam berbagai pertempuran semata-mata karena pertolongan Allah, bukan karena yang lain. Saking yakinnya, sampai-sampai di antara mereka ada yang berkata :  “Saat ini tidak mungkin kita dapat dikalahkan karena jumlah kita begitu besar”.

Maka terjadilah peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya pada perang Uhud. Bumi yang luas seakan menjadi sempit bagi kaum muslimin, pasukan yang besar seakan tidak berarti apapun dan para shahabat pun berguguran syahid satu demi satu, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an :

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai kaum mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) akan perang Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai”. (QS At Taubah 25)

Kalau shahabat yang begitu berhati-hati terhadap syubhat dan sangat kuat memegang syari’ah-Nya pun dapat terpeleset dalam maksiat seperti ini lalu bagaimanakah dengan kita yang setiap hari bergelimang dosa bergulat dengan maksiat ? Allahul Musta’an, hanya kepada Allah lah kita sepantasnya memohon perlindungan.

BERBANGGA  DENGAN KELOMPOK : BENCANA SEBELUM DATANGNYA BENCANA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS Al Anfal 46)

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Sesungguhnya (Dien tauhid) ini, adalah Dien kamu semua, Dien yang satu, dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan Dien mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. (QS Al Mukminun 52 -53)

Ibnul Atsir menyebutkan dalam Al Kamil Fit Tarikh tentang peristiwa yang memilukan hati berikut ini :

“Pada tahun 548 Hijriyyah, pasukan kerajaan Prancis mengepung kota Asqalan, Mesir selama 40 hari 40 malam, namun ternyata penduduk kota itu tetap sabar dan istiqomah menjaga setiap sudut benteng sehingga pasukan Prancis tidak mampu menembus sejengkal pun pintu gerbang kota itu. Bahkan karena putus asa, pasukan Prancis mulai kehilangan semangat tempur mereka sehingga ketika hal itu diketahui oleh pasukan muslim, mereka pun segera mengatur strategi untuk menyergap musuh yang berkemah di perbatasan kota Asqalan. Atas pertolongan Allah, pasukan Prancis dapat dipukul mundur keluar jauh dari kota. Namun ketika mereka bergegas hendak meninggalkan Asqalan, mendadak datang berita dari mata-mata mereka bahwa kaum muslimin di dalam kota Asqalan sedang bertikai sesama mereka, hingga terjadi pertumpahan darah dan tidak sedikit yang tewas karenanya. Sungguh menyedihkan, kaum muslimin justru saling bertikai hanya gara-gara masing-masing kelompok merasa paling berjasa dala006D memukul mundur pasukan Prancis. Mereka merasa bahwa kemenangan ini adalah atas jasa kelompok mereka sedang kelompok lain hanya diam saja demikian pula yang lain merasa sebaliknya. Terjadilah perang saudara antara kaum muslimin di kota Asqalan dan akhirnya……. dengan mudah pasukan Prancis menaklukkan kota itu dan menjajahnya hingga berabad-abad”. [6] 

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai bashiroh(nurani)”. (QS Al Hasyr 2)

NASEHAT PARA SHAHABAT  RODHIYALLOHU ‘ANHUM TENTANG MAKSIAT

– Ali Bin Abi Thalib Rodhiyallohu ‘Anhu

“Semua yang halal (mubah) di dunia ini, kelak di akhirat akan diperhitungkan hisabnya, sedangkan yang haram, pasti akan mendapatkan azab atasnya”. [7]

Jika yang halal (mubah) pun kelak akan dihitung oleh Allah, Sang Maha Pembalas amal dan dosa, lalu bagaimana pula dengan yang syubhat apalagi yang haram dari ucapan kita, tingkah laku kita, makanan, minuman, pakaian dan rizki yang kita peroleh ? Padahal menghadapi audit dari manusia saja banyak orang sudah ketakutan akan terbongkar kecurangannya, apalagi di hadapan Yang Maha Melihat, Yang Maha Mengetahui. Allahul Mus’taan.

– Abdullah Bin Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma

          “Wahai orang yang berbuat dosa, janganlah engkau merasa aman dari dosa-dosamu. Ketahuilah bahwa akibat dari dosa yang engkau lakukan, adalah jauh lebih besar dari dosa dan maksiat  itu sendiri”.

          “Ketahuilah bahwa hilangnya rasa malu kepada malaikat yang menjaga di kiri kananmu saat engkau melakukan dosa dan maksiat, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Sesungguhnya ketika engkau tertawa saat melakukan maksiat sedangkan engkau tidak tahu apa yang akan Allah lakukan atas kamu, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Kegembiraanmu saat engkau melakukan maksiat yang menurutmu menguntungkanmu, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Dan kesedihanmu saat engkau tidak bisa melakukan dosa dan maksiat yang biasanya engkau lakukan, adalah jauh lebih besar dosanya dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Ketahuilah bahwa perasaan takut aib dan maksiatmu akan diketahui orang lain, sedangkan engkau tidak pernah merasa takut dengan Pandangan dan Pengawasan Allah, adalah jauh lebih besar dosanya dari aib dan maksiat  itu”.

          “Tahukah engkau apa dosa Nabi Ayyub sehingga Allah mengujinya dengan sakit kulit yang sangat menjijikkan selama bertahun-tahun, ditinggalkan keluarganya dan habis harta bendanya ? Ujian Allah itu hanya disebabkan karena seorang miskin yang didzalimi datang meminta bantuan kepadanya, tetapi Nabi Ayyub tidak membantunya”. [8]

 

– Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘anhu

Saat beliau menderita sakit sebelum beliau wafat, para shahabat beliau menjenguknya seraya bertanya :

Wahai Abu Darda’ sakit apa yang engkau rasakan saat ini ? Beliau menjawab : “aku merasakan sakit yang amat sangat akibat dosa-dosaku”. Para shahabat beliau bertanya lagi : “Lalu apa yang engkau inginkan saat ini ?” Beliau menjawab : “Hanya ampunan dari Rabb ku yang aku harapkan saat ini”.

Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘anhu salah seorang shahabat yang terkenal sangat zuhud terhadap dunia dan sangat takut berbuat maksiat, merasa kesakitan di saat sakaratul maut akibat dosa-dosanya dan hanya satu yang diharapkannya yaitu maghfiroh dari Allah, lalu bagaimana dengan kita yang tidak pernah melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap semua dosa dan kesalahan kita ?

– Syidad Bin Aus Rodhiyallohu ‘anhu

Ubadah bin Nasyi meriwayatkan : “Suatu hari aku menemui Ubadah Bin Aus di tempat ia biasa sholat, aku dapati ia sedang menangis tersedu-sedu. Lalu aku bertanya : “Wahai Abu Abdurrahman, apa yang telah membuatmu menangis ?”. Beliau menjawab : “Aku menangis karena teringat hadits Rasulullah, suatu hari aku bersama beliau, tiba-tiba aku lihat perubahan raut  wajah beliau, lalu aku bertanya : “Ya Rasulullah, apa yang membuatmu mengerutkan wajahmu ?”. “Aku takut terhadap perkara yang akan terjadi pada ummatku sepeninggalku”. Jawab Rasulullah. “Apakah perkara itu ya Rasulullah ?”. “Syirik dan syahwat yang tersembunyi (kecil)”. Jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi : “Ya Rasulullah, apakah umatmu akan berbuat syirik sepeninggalmu ?”. “Wahai Syidad, mereka mungkin tidak menyembah matahari, bulan, berhala atau batu, tetapi mereka memamerkan amal ibadah mereka di hadapan manusia (riya’)”. Aku bertanya : “Ya Rasulullah, apakah riya’ termasuk syirik ? “Ya”, jawab beliau. “Lalu apakah yang dimaksud dengan syahwat yang tersembunyi”, tanyaku lagi. “Yaitu ketika seseorang telah berniat puasa sunnah di pagi hari, lalu di siang hari ia melihat berbagai macam godaan syahwat dunia (makan, minum, jima’ dsb –pen-)  lalu ia membatalkan puasanya. (Hadits Hasan Shahih Riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak) 

 

Riya’ dan syahwat kecil telah membuat Syidad bin Aus Rodhiyallohu ‘anhu menangis tersedu-sedu, sedangkan kita justru sebaliknya, ghibahnamimah (adu domba) fitnah, dusta dan maksiat lainnya malah membuat kita tertawa-tawa gembira.

– Umar Bin Khattab Rodhiyallohu ‘anhu

“Bermuhasabah lah kalian (menghitung-hitung kesalahan dan dosa) sebelum datang yaumul hisab (hari perhitungan amal), timbanglah amal kalian sebelum ditimbang Allah, dan bersiap-siaplah kalian akan datangnya hari di mana semua perbuatan akan diperlihatkan dan tidak ada satu pun yang tersembunyi, lalu beliau membaca ayat “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabb-mu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS Al Haqqah 18)[9] 

 

Diriwayatkan bahwa Umar selalu memukul-mukul badannya setiap kali beliau mengingat dosa-dosanya. [10]

CUKUPLAH SAKARATUL MAUTNYA RASULULLAH SEBAGAI IBROH BAGI KITA

Diriwayatkan dari Aisyah Rodhiyallohu ‘anha bahwa menjelang wafatnya, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya ke dalam bejana yang diisi air lalu diusapkan ke wajahnya seraya bersabda : “La Ilaaha Illallah, sungguh setiap kematian akan merasakan pedihnya sakaratul maut”.

Aisyah Rodhiyallohu ‘anha mengatakan : “Sungguh aku belum pernah menyaksikan orang merasakan kesakitan melebihi rasa sakit yang dialami Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut beliau”. (HR Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah) [11]  

Jika kekasih Allah -yang atas izin Allah beliau akan memberikan syafa’at udzma kepada seluruh ummat manusia, yang di tangannya kunci surga, yang ma’shum dan diampuni seluruh dosa yang telah lalu dan yang akan datang- merasakan sakitnya sakaratul maut, bahkan belum pernah ada rasa sakit yang dilihat oleh Aisyah melebihi rasa sakit yang dialami Rasulullah saat maut menjemput beliau, lalu bagaimana dengan kita ? Hamba yang lemah, sombong dan bergelimang dengan dosa ini ??

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَحَبِيْبِناَ وأُسْوَتِناَ وَعَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، عَدَدَ خَلْقِكَ وَرِضَى نَفْسِكَ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ، وَمِدَاد كَلِمَاتِك، وَسَلِّمَ تَسْليِْماً كَثيِْراً.

“Ya Allah limpahkanlah sholawat atas pemimpin kami, kekasih kami, teladan kami, hamba dan Rasul-Mu Muhammad sebanyak makhluk ciptaan-Mu, sebesar Ridho-Mu (kepadanya), sholawat yang menjadi hiasan Arsy-Mu, dan sebanyak limpahan kasih sayang-mu dalam tanda-tanda kebesaran-Mu, dan limpahkanlah keselamatan yang tiada batasnya atas beliau”.

اَلَّلهُمَّ إِلَيْكَ نَشْكُو ضُعْفَ قُوَّتِناَ.. وَقِلَّةَ حِيْلَتِناَ.. وَهَوَانَناَ عَلىَ النَّاسِ.. أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَأَنْتَ رَبُّناَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ  

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadukan lemahnya kekuatan kami, sedikitnya daya upaya kami dan betapa rendahnya kami di hadapan manusia (karena dosa-dosa kami). Engkaulah Rabb orang-orang yang teraniaya, Engkaulah Rabb kami dan Engkaulah Yang Maha Pengasih di antara yang mereka-mereka yang mengasihi”.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tidak ada Ilaah yang berhak diibadahi kecuali Engkau, aku memohon ampunan dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu”


Bumi Allah akhir Dzulhijjah 1430 H

hamba yang lemah yang mencintai saudara-saudaranya karena Allah

Abu Izzuddin

==================================

FOOTNOTES

[1]  Shoidul Khotir Halaman 73

[2]  Hilyatul Au;iya’  karangan Al Hafidz Abu Nuaim Al Ishfahani Juz 10 halaman 168

[3]  Hilyatul Au;iya’  karangan Al Hafidz Abu Nuaim Al Ishfahani Juz 1 halaman 215

[4]  Fathul Bari, Kitabul Iman : Ibnu Rajab juz 1/23, Hilyatul Auliya’ Juz 8 hal 144, Syu’abul Iman Al Baihaqi juz 5 hal 447

[5]  Risalah Ila Kulli Man Ya’malu Lil Islam : DR. Najih Ibrahim, Mimbar Tauhid Wal jihad

[6]  Disarikan dari Al Kamil Fit Tarikh Ibnul Atsir juz 4 halaman 363

[7]  Tafsir Ar Razi juz 12 hal 332

[8]  Suwar min Hayatis Shohabah jilid 3 hal 60 – 61

[9]  Tafsir Ibnu Katsir juz I hal 134

[10]  Tafsit At Tasturi juz I hal 210

[11]  Fathul Baari juz 12 hal 261

Older Entries