Maraknya aktifitas pengafirkan kepada sesama muslim tanpa diiringi ketakwaan dan rasa takut kepada Allah membuat resah para ulama dan ‘amilin fi sabilillah. Bagaimana tidak, saat takfir ini ditegakkan oleh bukan ahlinya dan tanpa memperhatikan syarat-syarat syar’inya maka permusuhan tertujukan kepada orang yang hukum aslinya muslim. Sementara kafir asli penentang kebenaran bisa rehat dari bidikan panah dan pedang permusuhan mereka.

Sehingga muslim yang dihukumi kafir –terkadang ia juga aktifis dakwah dan jihad- menjadi korban aksi-aksi ightiyal, penculikan, dan sabotase mereka. Lebih dari itu, musuh Islam tertolong dengan sikap mereka tersebut. Karena dengan sendirinya kelompok jihad akan dijauhi dan dimusuhi oleh kaum muslimin secara umum dan menyangka para aktifis jihad adalah orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karenanya para ulama mujahid berusaha memberi kritik dan nasehat kepada para aktifis aktrimis tersebut.

Adalah Syaikh Abdul Aziz bin Syakir al-Rafi’i, salah seorang anggota majlis syari’ah mimbar tawhid wal jihad, menulis kritik keras dan peringatan tegas kepada para aktifis ektrim tersebut perusak dengan judul Tanzih I’lam al-Mujahidin ‘an ‘Abats al-Ghulat al-Mufsidin.

Berikut ini ringkasan dari tulisan beliau yang mengalisa dampak buruk dari perilaku aktifis takfir ektrim:

Tidak dipungkiri bahwa beberapa orang yang sangat ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan sesama muslim tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat tersebut adalah orang-orang yang memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap perjuangan Islam. Bahkan, mereka melakukan hal itu didorong oleh semangat mendakwahkan tauhid, memerangi syirik dan menegakkan panji jihad di jalan Allah Ta’ala.

Niat mereka baik, bahkan sangat baik. Namun terkadang niat yang baik tidak mampu membuahkan hasil yang baik, karena cara untuk merealisasikan niat baik tersebut keliru dan tidak tepat. Syaikh Abdul Aziz bin Syakir Asy-Syarif hafizhahulah menyebutkan bahwa sikap mereka yang ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan tersebut -sadar maupun tidak sadar- telah melayani musuh-musuh Islam.

Sikap mereka tersebut -sadar maupun tidak sadar- telah merusak dakwah dan jihad dari tiga aspek :

Pertama : Memisahkan mujahidin dari umat Islam dengan menggambarkan mujahidin -bagi orang awam yang bodoh dan tidak mengenal hakekat mujahidin- sebagai orang-orang ekstrim yang mengkafirkan kelompok-kelompok, ulama-ulama dan juru dakwah Islam yang berbeda pendapat dengan mujahidin.

Kedua : menyebar luaskan pemahaman-pemahaman ekstrim di tengah kelompok-kelompok mujahidin dalam perkara-perkara yang sifatnya ijtihad fiqih yang bersifat zhanni. Akibatnya sebagian mujahidin yang terkena racun pemikiran-pemikiran tersebut akan mengarahkan peperangan mereka kepada umat Islam sendiri, yaitu orang-orang Islam yang mereka vonis sebagai “orang-orang musyrik”, “orang-orang kafir” dan “ahlu bid’ah”. Hal itu akan mengalihkan konsentrasi mujahidin dari memerangi aliansi zionis, salibis, paganis dan komunis yang memerangi kaum muslimin.

Ketiga : Mengecilkan dan meremehkan kedudukan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin dalam pandangan masyarakat serta mencela mereka, dengan tuduhan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin memiliki kelemahan di bidang kajian syariat dan tidak memiliki ilmu yang mumpuni.

Dengan demikian masyarakat luas akan meragukan kemampuan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin. Lalu masyarakat akan meninggalkan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin, terutama para ulama dan komandan yang memiliki peranan penting dalam mengatur jihad di bidang syariat maupun operasi lapangan.

Jika umat Islam telah hilang kepercayaan kepada para ulama mujahidin dan komandan mujahidin serta meninggalkan mereka, maka umat Islam akan menyerahkan kepemimpinan dakwah dan jihad mereka kepada orang-orang bodoh dan “anak-anak kecil”.

Usaha memetik kemenangan dakwah dan jihad yang telah dirintis selama puluhan tahun oleh para ulama mujahidin dan komandan mujahidin akan musnah begitu saja dalam hitungan waktu yang singkat oleh orang-orang yang disifati oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai “orang-orang yang muda usianya dan sempit wawasannya”.

Pada saat itulah umat akan menemui kehancurannya dan musuh-musuh Islam bertepuk tangan karena meraih kemenangan dengan “meminjam” tangan orang-orang Islam sendiri.

Wallohu Jalla Fie Ulaahu a’lam

Sumber Arab : http://archive.org/details/TnzuhE3lamAlmojaheden