• JANGANLAH MENVONIS ORANG LAIN HANYA DENGAN MENGGUNAKAN PEMAHAMAN KITA SAJA

 

Kita tidak semestinya terburu-burunya menetapkan hukum atau vonis kepada orang yang berbeda pendapat dan keyakinan dengan kita dalam masalah yang terjadi ikhtilaf di dalamnya, hanya dengan mengacu pada pemahaman kita saja tanpa mempertimbangkan alasan, pertimbangan dan pemahaman orang tersebut, lalu kita vonis ia dengan apa yang kita yakini saja.

 

Namun demikian jika kita yang kemudian melakukan tindakan yang kita yakini tersebut maka kita jatuh pada vonis sesuai dengan apa yang kita yakini tersebut.

 

Berikut adalah contoh dari para salaf dan ulama yang terpercaya :

 

Dari Abdurrozaq, dari Ma’mar dari orang yang mendengar shahabat Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkomentar ketika kelompok Haruriyyah memerangi Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib -ayahandanya-.

 

Orang-orang bertnya kepada Ali Bin Abi Thalib :

 

“Wahai Amirul Mukminin, siapakah mereka ? Apakah mereka telah kafir (karena mereka mengkafirkan Ali) ?”

 

Beliau menjawab :

 

“MEREKA (MELAKUKAN ITU) JUSTRU KARENA LARI DARI KEKAFIRAN”

 

(lari dari kekafiran maksudnya adalah mereka mengkafirkan dan memerangi Khalifah Ali bin Abi Thalib karena mereka takut terjatuh kepada kekufuran -menurut anggapan mereka- disebabkan tidak mengkafirkan Ali yang menurut mereka telah berhukum kepada selain hukum Allah, pent)

 

 “Apakah mereka itu munafik ?”

 

Ali bin Abi Thalib menjawab :

 

“Orang munafik tidak pernah mengingat Allah (berdzikir) kecuali hanya sedikit sekali, sedangkan mereka ini orang-orang yang banyak berdzikir dan menyebut Allah”

 

“Lalu siapa mereka itu ?”

 

Ali bin Abi Thalib menjawab :

 

 

 

 

“Mereka adalah sekelompok orang yang terkena fitnah (kekacauan, ujian dan cobaan) lalu mereka menjadi buta dikarenakan fitnah itu dan menjadi tuli”

 

(Mushonnaf Abdurrozaq 4/150, Jami’ul Ahadits 32/5)

 

 

Khalifah Ali Bin Abi Thalib mengajarkan kepada kita agar kita tidak terjebak ikut-ikutan mengkafirkan secara serampangan tanpa hujjah syar’i yang kuat.

 

Beliau bukan hanya menolak menjatuhkan vonis terhadap mereka tetapi justru menyebutkan permakluman atas kekeliruan mereka dengan kalimat : “Mereka (melakukan itu) justru karena lari dari kekafiran”, serta menyebutkan kebaikan mereka dengan kalimat :

 

“Orang munafik tidak pernah mengingat Allah (berdzikir) kecuali hanya sedikit sekali, sedangkan mereka ini orang-orang yang banyak berdzikir dan menyebut Allah”

 

Sebuah kehati-hatian yang dibalut dengan sifat tawadhu’ dan husnuzhon yang sangat tinggi telah beliau ajarkan kepada kita. Semoga Allah Memberikan kita kecintaan kepada mereka yang mencintai dan meneladani kekasih tercinta kita, Rasulullah Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallan.

 

 

Kita juga bisa mengambil pelajaran dari jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap kelompok Jahmiyyah berikut ini :

 

و لهذا كنت أقول للجهمية من الحلولية و النفاة الذين نفوا أن الله تعالى فوق العرش لما وقعت محنتهم أنا لو وافقتكم كنت كافرا لأني أعلم أن قولكم كفر و أنتم عندي لا تكفرون لأنكم جهال وكان هذا خطابا لعلمائهم و قضاتهم و شيوخهم وأمرائهم و أصل جهلهم شبهات عقلية حصلت لرؤوسهم في قصور من معرفة المنقول الصحيح و المعقول الصريح الموافق له وكان هذا خطابنا

 

“Oleh karena itu aku katakan kepada para penganut Jahmiyyah yaitu orang-orang yang memiliki keyakinan hulul serta menolak keyakina bahwa Allah di atas Arsy, saat terjadi fitnah dan kerancuan :

 

“JIKA AKU MENYETUJUI PENDAPAT DAN KEYAKINAN KALIAN, MAKA AKU TELAH KAFIR KARENA AKU TELAH MENGETAHUI BAHWA UCAPAN KALIAN ITU ADALAH PERBUATAN KUFUR. NAMUN BAGIKU KALIAN TIDAK AKAN AKU KAFIRKAN KARENA KALIAN JAHIL (TIDAK MEMILIKI ILMU)”

 

“Ucapan ini saya tujukan kepada ulama’, qadhi, syaikh dan umara’ mereka (bukan kepada orang awamnya, pent). Dan pokok kebodohan mereka adalah syubhat (kerancuan) akal (pemikiran) yang terjadi di kepala mereka karena keterbatasan mereka dalam memahami dalil Naqli yang shahih dan dalil Aqly yang shorih (jelas dan terang) yang sesuai dengan pendapat. Inilah ucapan kami kepada mereka”

 

(Ar Roddu ‘alal Bakri 2/494)

 

 

Syaikhul Islam tetap menganggap para pemuka dan syaikh penganut paham Jahmiyyah sebagai juhhal (orang-orang bodoh) bukan karena mereka bodoh tetapi karena mereka tidak mampu membedakan dalil Naqli yang shohih dan dalil aqli yang shorih. Lalu bagaimana dengan keadaan umat Islam saat ini yang amat sangat jauh dari ilmu dan ulama ?

 

*****

 

PERTANYAAN SAYA :

 

1. Apakah akan kita kafirkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang tidak mengkafirkan para tokoh Jahmiyyah ini sementara beliau berkeyakinan bahwa apa yang diyakini oleh Jahmiyyah ini adalah perbuatan kekufuran ?

 

2. Apakah Khalifah Ali juga akan kita kafirkan karena beliau tidak mengkafirkan orang yang mengkafirkannya -kemudian membunuhnya saat sholat-, padahal beliau adalah salah satu Shahabat yang dijamin masuk surga dan saat itu beliau sebagai Khalifah.

 

Sedangkan para ulama sepakat bahwa mengkafirkan shahabat adalah perbuatan kekufuran.

 

Sayangnya, di antara kita ada yang kenal pun belum bahkan bertatap muka pun belum pernah tetapi sekonyong-konyong sudah menetapkan vonis a atau b atau c.

 

 

  • SALAH TIDAK MENGHUKUM ORANG YANG BERSALAH LEBIH RINGAN DOSANYA DIBANDING SALAH MENGHUKUM ORANG YANG TIDAK BERSALAH

Dalah ilmu Ushul Fiqh berlaku kaidah :

 

الحدود تسقط بالشبهات

 

“Hukuman (hudud) itu gugur disebabkan adanya syubhat”

 

Dasar kaidah :

 

عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْرَءُوا الْحُدُودَ عَنْ الْمُسْلِمِينَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَخْرَجٌ فَخَلُّوا سَبِيلَهُ فَإِنَّ الْإِمَامَ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعَفْوِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعُقُوبَةِ

 

“Hindarkanlah hukuman-hukuman pidana dari kaum muslimin semampu kalian, jika kalian mendapatkan jalan keluar bagi seorang muslim, maka pilihlah jalan itu. Karena sesungguhnya seorang pemimpin yang salah dalam memberi maaf itu lebih baik dari pada pemimpin yang salah dalam menghukum” (HR Tirmidzi)

 

 

Contohnya :

 

Salah tidak memotong tangan pencuri yang seharusnya divonis potong tangan, lebih ringan dosanya dibanding salah memotong tangan seorang yang seharusnya tidak bersalah.

 

Karena jika salah tidak memotong tangannya kemudian setelah direvisi ternyata keputusan itu harus dirubah, hakim tinggal memotong tangan si pencuri. Tapi bagaimana mengembalikan tangan orang yang sudah terlanjur terpotong, kemudian ternyata terbukti bahwa sebenarnya dia tidak bersalah.

 

Itu jika berkaitan dengan mencuri, bagaimana jika berkaitan dengan qishosh dan rajam ? Siapa yang bisa menghidupkan orang mati ?

 

Meskipun hadits yang dijadikan landasan kaidah tersebut diperselisihkan di kalangan para ulama tentang keshahihannya, tetapi secara makna hal ini sesuai dengan sikap Rasulullah yang berusaha mencari udzur terhadap seorang wanita yang telah mengaku berzina, selain itu, hal ini juga di dapati dalam sikap amirul mukminin Umar bin Khatab yang tidak memotong tangan para pencuri dizaman paceklik karena menganggap bahwa kondisi tersebut merupakan salah satu syubhat sehingga tidak dilaksanakan potong tangan…

 

Lalu bagaimana tentang perihal mengkafirkan orang muslim karena masalah yang masih terkandung banyak syubuhat dan ikhtilaf di dalamnya ?

 

Dalam masalah hudud yang tidak mengeluarkan dari millah saja perlu di carikan udzur agar pelakunya terbebas dari hukumannya apalagi mengkafirkan orang yang jika salah memvonisnya, maka konsekuensi di dunia sangatlah berat seperti dibunuh jika tidak mau taubat, hilangnya hak waris, batal pernikahannya, hakihat sebagai seorang muslim juga hilang dan lain sebagainya… 

 

Ini selaras dengan kaidah Ushul Fiqh :  al maskuutu anhu muwaafiqun lil mantuuqi bihi atau apa yang tersirat  (tidak diucapkan/implisit) sejalan (tidak bertentangan) dengan apa yang tersurat (eksplisit) atau yang biasa dikenal dengan istilah Fahwal Khithob.

 

Memang masalah takfir adalah masalah Aqidah, namun menetapkan seseorang telah kafir atau belum adalah bukan semata-mata masuk dalam ranah aqidah saja tetapi juga termasuk dalam ranah Ushul Fiqh dan Fiqh.

 

 

  • SALAH TIDAK MENGKAFIRKAN LEBIH RINGAN DIBANDING SALAH MENGKAFIRKAN

Syaikh Abu Basheer Ath Tahrthusi, ulama mujahid ahluts Tsughur yang hari ini sedang berjihad di Suriah menjelaskan :

 

أن الخطأ في عدم تكفير الكافر يعتبر خطأ في حق الله دون العبد؛ من جهة كونه لم يُصب حكم الله فيه .. بينما الخطأ في تكفير المسلم خطآن: خطأ بحق الله تعالى، وخطأ بحق العبد، والأول خطؤه ـ إن كان عن اجتهاد وتأويل ـ قد يغفره الله له، بينما الآخر ولو غُفر له خطؤه المتعلق بحق الله تعالى، يبقى حق العبد عليه إلى أن يقتص الله من الظالم للمظلوم، هذا إن وجد الظالم مخرجاً مما قال في أخيه المسلم بغير حق.

 

“Bahwasanya melakukan kesalahan tidak mengkafirkan orang yang seharusnya sudah jatuh pada kekafiran (karena melakukan perbuatan kekufuran) dikategorikan dalam kesalahan dalam masalah yang menjadi hak Allah, bukan hak nya hamba (manusia), ditinjau dari sudut pandang bahwa orang yang melakukan kesalahan itu salah dalam menetapkan aturan hukum yang Allah tetapkan.

 

Sedangkan salah mengkafirkan orang muslim mengandung dua kesalahan

  1. Salah dalam hal yang berkaitan dengan hak Allah
  2. Salah dalam hal yang berkaitan dengan hak hamba (sesama manusia)

Kesalahan yang pertama jika terjadi karena ijtihad atau takwil, bisa jadi akan diampuni Allah sedangkan kesalahan yang kedua walaupun dosa yang berkaitan dengan hak Allah telah diampuni Nya, namun hak yang melekat pada sesama manusia (orang yang dikafirkannya) sampai Allah mengampuni dosa yang berkaitan antara orang yang mendzalimi terhadap yang didzalimi.

 

Ini pun jika orang yang menzalimi tersebut diberikan kelonggaran (oleh yang dizalimi) disebabkan (kezalimannya) mengatakan saudara nya sebagai seorang kafir tanpa alasan yang haq.

 

Sebagaimana disebutkan dalam hadits

 

الظلم ثلاثة، فظلم لا يغفره الله، وظلم يغفره، وظلم لا يتركه، فأما الظلم الذي لا يغفره الله فالشرك ،قال تعالى : إن الشرك لظلم عظيم . وأما الظلم الذي يغفره فظلم العباد أنفسهم فيما بينهم وبين ربهم، وأما الظلم الذي لا يتركه الله فظلم العباد بعضهم بعضاً حتى يدبر لبعضهم من بعض

 

“Kezaliman itu ada tiga macam :

 

  1. Kezaliman yang tidak diampuni Allah,
  2. Kezaliman yang diampuni
  3. Kezaliman yang tidak akan ditinggalkan-Nya.

Adapun kezaliman yang tidak diampuni Allah sebagaimana firman Allah Jalla fii ‘Ulaahu (artinya) :

“Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar”.

 

Sedangkan kezaliman yang diampuni-Nya adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya dalam masalah antara dirinya- dan Rabb nya.

 

Dan kezaliman yang tidak akan ditinggalkan-Nya adalah kezaliman antara sesama hamba (manusia) sampai urusan itu diselesaikan antara mereka”

 

(Shahih Jamius Shaghir No 3961)

 

لأجل ذلك احتاط أهل العلم أشد الاحتياط في إصدار الحكم بالكفر على المسلم المعين، حيث إن كان كفره يُحتمل من تسع وتسعين وجهاً، ووجه واحد يصرف عنه حكم الكفر، تراهم كانوا يأخذون بالوجه الواحد ـ الغير مكفر ـ احتياطاً لدينهم، وصوناً لحرمات ذلك المعين.

 

Oleh karena itu, para ahli ilmu amat sangat berhati-hati dalam menetapkan hukum telah kafirnya seorang muslim dengan takfir mu’ayyan, di mana dilihat dari sudut pandang kekafirannya mereka menemukan sembilan puluh sembilan hal yg menguatkan kekafiran orang itu, tetapi masih ada satu sudut pandang (alasan) yang bisa menghindarkan orang tersebut dari kekufuran, maka akan kalain saksikan mereka lebih memilih alasan yang (hanya) satu saja yang tidak mengkafirkan orang itu, karena saking hati-hatinya mereka dalam dien mereka serta karena mereka sangat menjaga kehormatan pengkafiran mu’ayyan tersebut

 

(Al Udzru Bil Jahli, Syaikh Al Mujahid Abu Basheer At Tharthuusi Hal 168)

 

  • PENJELASAN SYAIKHUL ISLAM TENTANG ORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN KEMUSYRIKAN DISEBABKAN KEBODOHAN

فإنا بعد معرفة ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم نعلم بالضرورة أنه لم يشرع لأمته أن تدعو أحداً من الأموات؛ لا الأنبياء ولا الصالحين ولا غيرهم، لا بلفظ الاستغاثة ولا بغيرها، كما أنه لم يشرع لأمته السجود لميت ولا لغيره، ونعلم أنه نهى عن ذلك، وأن ذلك من الشرك الذي حرمه الله ورسوله، لكن لغلبة الجهل وقلة العلم بآثار الرسالة في كثير من المتأخرين لم يكن تكفيرهم بذلك حتى يتبين لهم ما جاء به الرسول مما يخالفه  

 

 

“Setelah kita mengetahui apa yang dibawa oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya kita sudah mengetahui dengan tanpa keraguan dan menjadi hal yang sangat mendasar untuk diketahui (ma’lum fid dien bidh dharurah) bahwasanya beliau shollallohu ‘alaihi wasallam tidak pernah mensyari’atkan kepada umatnya untuk berdo’a dan meminta kepada orang yang sudah mati, baik mereka itu para nabi, orang shalih atau selain mereka. Baik permintaan itu dengan lafadz istighotsah (permohonan bantuan) atau selainnya. Demikian juga beliau tidak pernah mensyari’atkan kepada umatnya untuk bersujud kepada mayit (orang mati) atau kepada selainnya. Dan kita pun mengetahui bahwa beliau shollallohu ‘alaihi wasallam melarang perbuatn-perbuatan itu dan bahwa itu termasuk perbuatan syirik yang diharamkan Allah Ta’alaa dan Rasul-Nya. Akan tetapi karena telah menyebarnya kebodohan secara luas dan sedikitnya pengetahuan umat tentang kehidupan Rasulullah terutama pada umat yang hidup di akhir zaman ini, maka kita tidak serta merta mengkafirkan mereka sampai jelas pada mereka apa yang diajarkan oleh rasulullah yang bertentangan dengan apa yang mereka perbuat

 

 

(Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : Ar Roddu ‘alal Bakry hal 377)

 

Jika di zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (sekitar abad 7 Hijriah) saja beliau katakan kebodohan sudah sangat merebak dan merajalela, apalagi di zaman akhir seperti sekarang ini ?

 

 

اللهم اليك نشكو ضعف قوتنا و قلة حيلتنا و هواننا على الناس

 

Allahumma ilaika nasykuu dhu’fa quwwatinaa wa qillata khiilatinaa wa hawaananaa ‘alannaas  Al Faqiir Ilaa Maghfiroti Robbihi Al Qadiir

 

Abu Izzuddin Al Hazimi