وقال تعالى: أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS Al Maidah 50)

وقال تعالى: وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS Al Maidah 44)

وقال تعالى: وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah,Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”(QS Al Maidah 45)

وقال تعالى: وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah,Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (melampaui batas)”. (QS Al Maidah 46)

وكل دولة لا تحكم بشرع الله، ولا تنصاع لحكم الله، ولا ترضاه فهي دولة جاهلية كافرة، ظالمة فاسقة بنص هذه الآيات المحكمات، يجب على أهل الإسلام بغضها ومعاداتها في الله، وتحرم عليهم مودتها وموالاتها حتى تؤمن بالله وحده، وتحكم شريعته، وترضى بذلك لها وعليها، كما قال عز وجل: قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“……DAN SETIAP NEGARA YANG TIDAK BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH, DAN TIDAK MENYERAHKAN URUSAN KEPADA HUKUM ALLAH, MAKA NEGARA TERSEBUT ADALAH NEGARA JAHILIYAH, KAFIR, ZHALIM DAN FASIQ SESUAI DENGAN NASH AYAT MUHKAMAT (TEGAS) INI, WAJIB BAGI ORANG ISLAM UNTUK MEMBENCINYA DAN MEMUSUHINYA KARENA ALLAH, DAN HARAM BAGI KAUM MUSLIMIN MEMBERIKAN WALA’ (LOYALITAS, KECINTAAN, KETUNDUKAN DAN KEPATUHAN) DAN MENYUKAINYA, SAMPAI NEGERI ITU BERIMAN KEPADA ALLAH YANG MAHA ESA, DAN BERHUKUM DENGAN SYARIAT-NYA DAN RIDHO DENGAN ITU SEMUA UNTUK DITERAPKAN DI NEGERA ITU DAN MENJADI DASAR NEGARA ITU,

SEBAGAIMANA FIRMAN ALLAH TA’ALAA (ARTINYA) : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (QS Al Mumtahanah 4)

Dinukil dari kitab tulisan beliau “Naqd Al Qoumiyyah Al Arobiyyah ‘Alaa Dhou’ Al Islam”

Lebih lengkapnya silahkan buka link ini

http://www.binbaz.org.sa/mat/8191 (Website resmi tulisan2 Syaikh Bin Baz)

atau didownload di link ini http://hewar.khayma.com/showthread.php?t=74615

Sebagai tambahan, berikut saya nukilkan fatwa para ulama’ tentang definisi Darul Kufr :

– Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah berkata :

“Jumhur Ulama menyatakan : “Darul Islam yaitu negeri yang didiami kaum muslimin dan berlaku padanya hukum-hukumIslam. Sedang jika tidak berlaku hukum-hukum Islam atasnya, maka ia bukan Darul Islam meskipun negeri tersebut berdampingan dengan Darul Islam. Thaif sangat dekat dari Mekah, namun tidak serta merta menjadi Darul Islam hanya karena Fathu Mekah” (Ahkam Ahli Dzimmah 2/728)

– Al Qodhy Abu Ya’la Al Hanbali menyatakan
“Setiap negeri di mana yang menguasai adalah hukum-hukum kafir maka ia Darul Kufr” (Al Mu’tamad Fi Ushuliddin hal 276)

– Imam Al Mardawi :
“Dar Harb adalah negeri yang didominasi oleh hukum kafir” (Al Inshof 4/121) dan persis dengan pernyataan ini terdapat dalam kitab ‘Al Furu’ karya Ibnu Muflih 6/185

– Imam As Sarkhosi berkata : ”Dari Abu Yusuf dan Abu Muhammad rohimahumalloh :

“Jika mereka menampakkan hukum syirik di dalamnya maka negeri mereka adalah DARUL HARB. Sebab suatu daerah itu dinisbahkan kepada kita (Islam) atau kepada mereka (Kafir) berdasar penilaian kekuatan dan dominasi. Maka setiap tempat di mana hukum syirik yang mengaturnya, maka kekuatan di tempat tersebut adalah milik kaum musyrikin. Sehingga jadilah ia Dar Harb. Dan setiap tempat di mana yg mengatur adalah hukum Islam maka kekuatan di sana adalah milik kaum muslimin” (Al Mabsuuth 10/114)

– Asy Syahid -kama nahsabuhu – Sayyid Quthb :

““Sedangkan masyarakat jahiliyah adalah setiap masyarakat yang bukan masyarakat Islam ! Kalau hendak membuat definisi yang tepat maka kami katakan : “Bahwa masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang tidak murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu pengabdian yang tercermin dalam kepercayaan, ideologi, keyakinan, syiar dan simbol-simbol peribadatan, juga di dalam peraturan dan undang-undang”

(Ma’alim Fit Thoriq – Sayyid Quthb hal 52 – 54 terbitan Mimbar Tauhid Wal jihad)

http://www.binbaz.org.sa/mat/8191