Catatan Dari Penjara  Seri 1 :

Mengamalkan Dinul Islam Menurut Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam 

(Muqoddimah Penyunting)

Hampir satu bulan penahan ustad Abu Bakar Ba’asyir namun kejelasan tentang dakwaan dan masa lamanya tahanan yang diulur-ulur oleh mabes polri membuat terhambatnya dakwah yang dilakukan beliau.namun demikian bukan Ustad Abu Bakar Ba’asyir namanya kalau dakwah beliau bisa dihentikan oleh jeruji besi, meskipun fisik beliau tidak bisa hadir di tengah umat islam namun beliau menghadirkan dakwah dengan cara lain,yaitu melalui tulisan dan  buku yang bisa di baca oleh umat islam  sebagai pedoman.

Salah satu buku / tulisan yang beliau himpun adalah “Cara mengamalkan dinul islam menurut Al Qur’an dan Sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam ” yang beliau susun sewaktu beliau menghuni hotel prodeo cipinang 19 Rabii’ul Awal 1426 H bertepatan dengan 28 April 2005 .

Sembari menunggu buku dan tulisan ustad Abu Bakar Ba’asyir berikutnya alangkah baiknya redaksi menghadirkan kembali tulisan dan pemikiran beliau di halaman saveabb.com dan kami akan sampaikan secara berseri .semoga menjadi penyemangat kita semua pejuang penegak syariat Islam

MUQODDIMAH

Bahwa sesungguhnya nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dilimpahkan kepada hamba-Nya baik manusia, jin dan lainnya, sungguh tiada terhingga banyaknya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mencukup semua kebutuhan hamba-hambanya, sehingga tidak mungkin manusia maupun jin mampu menghitungnya meskipun memakai alat yang tercanggih teknologinya.

Allah SWT berfirman (artinya) :

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzolim dan sangat mengingkari nikmat Allah”. (QS. Ibraahiim : 34).

 

Maka pada hakekatnya satu detikpun semua hamba Allah tidak pernah ada yang lepas dari nikmat Nya, karena diantara sifat-sifat Allah yang terpuji adalah sifat Pengasih dan Penyayang kepada semua hamba-hamba Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman (artinya) :

 “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hasyr : 22)

 

Di antara nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala  yang tiada terhingga ini, ada satu nikmat yang tertinggi nilainya karena nikmat ini dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala  akan membawa hamba Nya baik manusia maupun jin, ke pintu gerbang keselamatan dunia akherat. Nikmat yang tertinggi itu ialah nikmat Dinul Islam. Ia merupakan satu-satunya nikmat yang mampu menghantarkan hamba-hamba Nya dengan izin Nya kepada keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan yang sebenarnya, baik di dunia maupun di akherat.

Sumber pokok Dinul Islam adalah Al Quran dan Sunnah Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam , ia adalah merupakan satu-satunya kitab suci yang diturunkan dari Allah yang Maha Bijaksana kepada Hamba Nya yang menunjukkan jalan yang paling lurus di dunia ini, sehingga apabila manusia dan jin berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah, berarti hidupnya berada di jalan yang lurus dan mendapat kemuliaan yang hakiki maka dijamin tidak akan sesat selama-lamanya dan pasti dijamin keselamatannya dunia akherat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman (artinya) :

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada diatas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” (QS. Az Zukhruf : 43-44)

 

Dan firman-Nya lagi (artinya):

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukimin yang mengerjakan amal saleh, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar“ (Al Isra’ : 9).

Rasullah Shollallohu ‘alaihi wasallam  bersabda (artinya) :

“Aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian dua perkara, setelah ada dua perkara tersebut, kamu sekalian tidak mungkin sesat selama kamu masih berpegang teguh kepada kedua perkara itu, yakni kitab Allah (Al Quran) dan Sunnahku” (HR. Al Hakim – Shahih).

Disamping itu Al Quran dan Sunnah adalah merupakan satu-satunya obat yang sanggup menyehatkan hati manusia sehingga berakhlak mulia. Oleh karena itu sudah sepantasnya nikmat Al Quran dan Sunnah ini disambut dengan perasaan gembira karena ia merupakan nikmat yang jauh lebih baik dan lebih berharga dari pada harta dan semua nikmat dunia yang dikumpulkan oleh orang-orang Kafir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman (artinya) :

 “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyebuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus : 57 – 58)

 

Oleh karena itu manusia yang menerima nikmat Dinul Islam adalah dinyatakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai umat yang terbaik nilainya, karena sehat kepercayaannya yakni Tauhid dan Iman kepada Allah dan Rasul Nya dan terpuji kegiatannya, yaitu Amar Makruf Nahi Mungkar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman (artinya) :

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah … “ (QS. Ali’ Imran : 110).

 

Ketinggian nilai Dinul Islam dan kebaikan kaum Muslimin ini akan benar-benar menjadi kenyataan apabila hakekat akidah dan syariatnya benar-benar dipahami sehingga benar pengamalannya.

Tetapi kenyatannya, sekarang kaum muslimin kecuali mereka yang mendapat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hidup nista dan rendah dibawah kekuasaan kaum Kafir dan kaum Sekuler, Syariat Islam dilecehkan, pengamalannya dipotong-potong, akibatnya ketinggian nilai Dinul Islam dan kebaikan kaum Muslimin tidak nampak menjadi kenyataan.

Hal ini disebabkan karena kaum Muslimin pada umumnya tidak memahami hakekat Dinul Islam sehingga pengamalannya pun menjadi amburadul bercampur-aduk antara yang haq (Islam) dengan yang bathil (ideologi buatan manusia), akidahnya bercampur aduk dengan praktek-praktek kemusyrikan, ibadah madhlohnya (ritualnya) penuh dengan bid’ah dan muamalahnya banyak diwarnai cara-cara hidup orang Kafir.

Islam yang diamalkan bercampur aduk dengan ideologi buatan manusia seperti ini akibatnya menjadi penyakit yang merusak ahlak dan menjerumuskan kepada kehinaan dunia akherat, laksana air minum yang jernih yang dicampur air longkang berubah fungsinya menjadi minuman yang membawa penyakit.

Demikian pula jamaah-jamaah kaum Muslimin yang memperjuangkan tegaknya Dinul Islam makin hari bukan membawa kemajuan Islam tetapi makin melemahkannya – kecuali jamaah-jamaah yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ini semua karena manhaj perjuangannya tidak murni menepati panduan Al Quran dan Sunnah tetapi bercampur aduk dengan manhaj jahiliah yang diciptakan oleh orang-orang Kafir.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab beliau Ighotsatullahfaan menyatakan bahwa Umat Islam sedang ditimpa fitnah yang berbahaya yaitu fitnatussubuhat, yakni fitnah kekaburan; kabur pahamnya tentang Dinul Islam akibatnya kabur pula pengamalannya. Obat untuk menyembuhkan penyakit ini adalah ilmu. Menyadari kenyataan-kenyataan ini, dengan izin dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, saya menyusun risalah sederhana ini dengan tujuan ingin membantu meluruskan kembali kebengkokan amalan dan manhaj perjuangan saudara-saudara saya umat Islam, menurut kemampuan saya, semoga dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  mereka akhirnya diberi kepahaman yang benar tentang hakekat Dinul Islam sehingga mampu mengamalkan dan menegakkannya sesuai dengan panduan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dan Rasul Nya.

Keterangan dalam risalah ini sengaja dibuat secara garis besar dengan tujuan agar mudah dipahami.

Siapa yang ingin mendapatkan keterangan secara terperinci hendaknya membaca kitab-kitab para ulama Shalaf antara lain kitab Al Jami’ Fii Tholabil Ilmissyarif yang ditulis oleh seorang alim mujahid pengikut ulama Salaf Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz –fakkallohu asroh

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat bagi kita semua dan diterima di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala  sebagai amal. Amin

LP Cipinang.

 

19 Rabii’ul Awal 1426 H / 28 April 2005

Al Faqiir Ilallah

 

Ust. Abubakar Ba’asyir