KAIDAH  KETIGA

لاَ شَيْءَ  يُعْـجِزُهُ

“TIDAK ADA SESUATUPUN YANG DAPAT MELEMAHKANNYA”

Kaidah ini merupakan pernyataan atas kesempurnaan Qudrah (ketentuan/taqdir) Allah Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 “Sesungguhnya Allah berkuasa (berkehendak/menentukan) atas segala sesuatu”. (QS Al Baqarah 20)

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (Menentukan Taqdir)”. (QS Fathir 44)

PENJELASAN

1.      Setiap bentuk penafian atau peniadaan Sifat Allah (yang maksudnya : Mustahil Allah memiliki Sifat seperti itu) dalam Al Qur’an berarti penetapan atas Kesempurnaan Sifat yang sebaliknya.

Seperti Firman Allah :

“Dan Rabb mu tidak akan mendzalimi seorang pun” (QS Al Kahfi 49)

adalah  penetapan (itsbat) atas kesempurnaan keadilan Allah.

Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS Saba’ 3)

adalah penetapan atas kesempurnaan ‘Ilmu (pengetahuan) dan Qudrah (kehendak) Allah

2.      Manhaj Salaf dalam Nama dan Sifat Allah adalah : Menetapkan Sifat yang wajib bagi Allah dengan terperinci, meniadakan sifat yang mustahil bagi Allah secara garis besar saja (tidak terperinci).

Hal ini berlawanan dengan metodologi kaum Mu’tazilah dan para ahli Kalam (filsafat) yang menjelaskan secara rinci sifat yang mustahil bagi Allah tetapi menerangkan secara garis besar saja Sifat yang Wajib bagi Allah.

Sebagaimana diyakini oleh kaum Mu’tazilah (rasionalis) seperti yang ceritakan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ary -setelah beliau bertaubat dari Aqidah Mu’tazilah dan kembali kepada Manhaj Salaf- . Kaum Mu’tazilah menyatakan :

“Allah bukan tubuh juga bukan ruh, bukan pula jasad atau bentuk, bukan daging bukan darah …… tidak pula yang memiliki warna ……. Tidak bergerak tapi juga tidak diam, tidak berada di arah tertentu, tidak di atas tapi juga tidak di bawah, bukan di depan tapi juga bukan di belakang, bukan di kanan tapi juga bukan di kiri dan seterusnya…..”

3.      Manhaj Salaf dalam menjelaskan tentang Al Haq  adalah : “Dengan menetapkannya apa adanya sesuai nash (teks) yang tertulis di dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi wasallam”.

Menjelaskan kebenaran (Al Haq) dengan menggunakan istilah dan lafadz syar’iy yang berasal dari Allah dan rasul-Nya adalah manhaj Ahlus Sunnah, sedangkang para penganut madzhab Ta’thil, lebih suka menolak lafadz yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya dalam hal Nama dan Sifat Allah, tidak mau menghayati maknanya bahkan mereka menetapkan sendiri makna-makna yang diada-adakan kemudian menjadikan penafsiran mereka itu sebagai sesuatu yang muhkam (telah tetap hukumnya) yang diwajibkan meyakini dan menjadikannya sebagi pegangan. [1]

Sedangkan Ahlus Sunnah wal jama’ah berkeyakinan bahwa firman Allah dan sunnah rasul-Nya adalah haq yang wajib diyakini dan dijadikan sebagai pedoman, sedangkan pendapat para mereka yang menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah baik karena menolak secara keseluruhan atau sebagian. Ahlus Sunnah menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai hujjah atas pendapat mereka bukan menjadikan pendapat mereka sebagai bantahan atas Al Qur’an dan Sunnah

Kalimat Syaikh Abu Ja’far Ath Thohawy tidak bermaksud “Tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkannya” bukan bermaksud membuat penafian yang dilarang Syari’ah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya) :

“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (Menentukan Taqdir)”. (QS Fathir 44)

Di akhir ayat Allah Mengingatkan kita dengan kalimat : “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”,  sebagai dalil penafian sifat ‘ajz (lemah) dan itu berarti Allah Menetapkan sifat kesempurnaan dalam Ilmu dan Qudrah.

Karena sifat lemah muncul dari ketidakmampuan melakukan sesuatu yang diinginkan atau karena ketidaktahuan terhadap sesuatu itu, sedangkan Allah  telah Berfirman (artinya )

Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”, (QS Saba’ 3) 

Dan sesuatu yang lemah tidak layak dijadikan Ilaah, Maha Suci Allah dari semua kelemahan dan ketidakmampuan

 

[1]  Seperti menafikan “Tangan Allah” lalu mengganti maknanya menjadi “Kekuasaan Allah” dan mewajibkan orang untuk meyakini penafsiran mereka itu (pent)