• WAHAI AHLI IBADAH DI DUA TANAH HARAM, IBADAHMU HANYA MAIN-MAIN

Diriwayatkan dari Al Hafidz Ibnu Asakir dalam biografi Ibnul Mubarak, beliau mengatakan : “Suatu hari Ibnul Mubarak menulis beberapa bait syair sebelum beliau berangkat berjihad, (Ibnul Mubarak adalah seorang ulama yang termasyhur di zamannya sekaligus seorang panglima perang yang sangat disegani) saat itu tahun 170 Hijriyah. Syair tersebut akan beliau kirimkan kepada Imamul Haramain Al Fudhoil  Bin Iyadh

يا عابدَ الحرمين لَوْ أبْصَرْتَنا … لَعَلمْتَ أنكَ في العبادِة تلعبُ

من كان يخضب خدَّه بدموعِه … فَنُحورنا بدمائنا تَتَخضَّب

أو كان يُتْعِبُ خَيْلَه في باطلٍ … فخُيولنا يومَ الصبِيحة تَتْعبُ

ريحُ العبيرِ لكم ونحنُ عبيرُنا … وَهجُ السنابِك والغبارُ الأطيبُ

ولَقَد أتانا من مَقَالِ نبينا … قول صَحيح صادق لا يَكْذبُ

لا يستوي وَغُبَارَ خيل الله في … أنف امرئ ودخانَ نار تَلْهَبُ

هذا كتاب الله يَنْطق بيننا … ليس الشهيدُ بمَيِّت لا يَكْذبُ

“Wahai orang yang tak pernah putus beribadah di Haramain

Andai engkau saksikan kami, engkau pasti ‘kan tahu

betapa engkau hanya bermain-main dengan ibadahmu

Jika orang-orang membasahi pipi mereka dengan airmata,

kami basahi tengkuk kami dengan cucuran darah kami.

Atau  kuda-kuda mereka kelelahan dalam hal-hal yang bathil,

sedang kuda-kuda kami telah lelah lunglai semenjak pagi (dlm Jihad)

Debu jalanan yang mengotori kalian,

sedang kami kotor oleh debu suci dan  abu bekas pertempuran” 

Ibnu ‘Asakir mengatakan : “Lalu aku segera menjumpai Imam Haramain, Al Fudhail Ibnu Iyadh,aku lihat matanya berlinangan dan beliau menangis tersedu-sedu. Lalu beliau berkata : “Abu Abdurrahman (Ibnul Mubarak) benar. Wahai saudaraku, tulislah hadits ini sebagai jawaban surat beliau”. lalu Imam Haramain mendiktekan kepadaku sebuah hadits Rasulullah -Shollallohu ‘alaihi wa sallam- :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ « لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ ». قَالَ فَأَعَادُوا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ « لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ ». وَقَالَ فِى الثَّالِثَةِ « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لاَ يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى

Dan dari Abû Huroiroh Radhiyallohu ‘Anhu  berkata : Seseorang bertanya : “Wahai Rosululloh, apa yang bisa menyamai jihad di jalan Alloh?” beliau menjawab: “Kalian tidak akan sanggup melakukannya.” Para sahabat terus mengulangi pertanyaan itu sebanyak dua atau tiga kali, tetapi semuanya beliau jawab: “Kalian tidak akan sanggup melakukannya.” Kemudian beliau bersabda:“Sesungguhnya perumpamaan orang yang berjihad di jalan Alloh itu seperti orang yang berpuasa dan sholat dan selalu patuh dengan ayat-ayat Alloh, ia tidak membatalkan puasanya dan menghentikan sholat sampai orang yang berjihad di jalan Alloh itu pulang.”  (Muttafaq ‘Alaih, dan ini lafadz Muslim, lihat Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 203)

  • DUHAI ANDAI KAKIKU TERSENTUH DEBU JIHAD

Tatkala hendak wafat, Yunus bin Ubaid rahimahullah, tabi’in yang agung, memandangi kedua kakinya, lalu menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya, “Wahai Abu Abdillah, apa yang menyebabkan engkau menangis ?” beliau menjawab: “Kedua telapak kakiku ini belum pernah tersentuh debu jihad di jalan Allah. Kalau saja kedua kakiku pernah tersentuh debu jihad di jalan Allah, tentulah aku merasa aman dari azab Allah.”

Sedemikian tingginya tingkat wara’ dan cita-cita para salaf shalih. Mereka berangan-angan untuk mampu meraih puncak kebaikan supaya tidak terlewat satu pun pintu kebaikan. Inilah Yunus bin Ubaid, pemilik motto, “Bersegera dalam ketaatan di setiap saat dan menunaikan kewajiban di setiap kesempatan.”

Demikian hebatnya keimanan dan ketaatan beliau, sampai-sampai orang berkata, “Tiada datang hak-hak Allah melainkan Yunus bin Ubaid telah menunaikannya.”

Namun demikian, beliau masih menyesali dirinya tatkala menjelang wafat, karena belum terbuka kesempatan bagi beliau untuk berjihad fi sabilillah yang beliau isyaratkan dengan istilah “debu jihad di jalan Allah…!!!!

  • KEUTAMAAN DEBU DI JALAN ALLOH

Dari Abu Abbas, Abdurrahhman bin Jabr Radhiyallohu ‘Anhu berkata : Rosululloh Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda :  “Tidaklah dua kaki seorang hamba berdebu jalan Alloh, kemudian keduanya akan tersentuh api neraka.” (HR. Bukhari)

Dan dari Abu Huroiroh Radhiyallohu ‘Anhu  berkata : Rosululloh Shollallohu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Alloh, hingga air susu kembali kepada putingnya. Dan tidak akan berkumpul menjadi satu pada diri seorang hamba debu Jihad Fi Sabilillah  dan asap neraka Jahannam.” (HR. Tirmizi)

  • TIDAK SHODAQOH DAN TIDAK JIHAD, LALU DENGAN APA ENGKAU AKAN MASUK SURGA ?

عَنْ بَشِيْرِ بْنَ الْخَصَاصِيَةِ t قاَلَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ  eلأُبَايِعَهُ عَلَى الإِسْلاَمِ فَاشْتَرَطَ عَلَىَّ :«تَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَتُصَلِّى الْخَمْسَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا اثْنَتَانِ فَلاَ أُطِيقُهُمَا أَمَّا الزَّكَاةُ فَمَا لِى إِلاَّ عَشْرُ ذَوْدٍ هُنَّ رِسْلُ أَهْلِى وَحَمُولَتُهُمْ وَأَمَّا الْجِهَادُ فَيَزْعُمُونَ أَنَّهُ مَنْ وَلَّى فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنْ اللَّهِ فَأَخَافُ إِذَا حَضَرَنِى قِتَالٌ كَرِهْتُ الْمَوْتَ وَجَشِعَتْ نَفْسِى قَالَ فَقَبَضَ رَسُولُ اللَّهِ e يَدَهُ ثُمَّ حَرَّكَهَا ثُمَّ قَالَ :« لاَ صَدَقَةَ وَلاَ جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ ». قَالَ ثُمَّ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أُبَايِعُكَ فَبَايَعَنِى عَلَيْهِنَّ كُلِّهِنَّ  ﴿رَوَاهُ البيهقي والطبراني والحاكم في المستدرك على الصحيحين وقال«هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه  

Dari Basyir bin al-Khoshoshiyyah Radhiyallohu ‘anhu  berkata, : “Aku datang kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam  untuk berbai’at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku agar bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, sholat lima waktu, puasa Romadhon menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan berjihad di jalan Allah”.

Basyir melanjutkan, “Lalu aku berkata : “Wahai Rasulullah, ada dua hal yang aku tidak mampu, yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu pun kecuali beberapa ekor unta yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa mereka yang lari (ketika perang) akan mendapat kemurkaan dan adzab dari Allah, sedangkan aku khawatir  jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin lari (menyelamatkan) jiwaku.

Rasulullah menggenggam tangannya kemudian menggerakkannya lalu berkata, “Tidak shadaqah dan tidak jihad ? Dengan apa engkau akan masuk surga?”

Maka aku pun  berkata : “Ya Rasulullah aku akan berbai’at kepadamu maka baiatlah aku atas semua itu”

(Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Imam Ath Thabrani dan Imam al-Hakim dalam Al Mustadrok dengan sanad shahih, juga dinyatakan  shohih oleh Imam adz-Dzahaby).