• MATI SYAHID ADALAH CITA-CITA RASULULLAH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أُقْتَلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ 

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku ingin terbunuh di jalan Alloh, kemudian dihidupkan kembali kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan kembali kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi kemudian terbunuh lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • PARA SYUHADA’ TETAP HIDUP DI JANNATUL FIRDAUS

 وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Robbnya dengan mendapat rizki”. (QS Ali Imron 169)

Jabir Bin Abdullah Radhiyallohu ‘Anhu berkata : Ketika Abdullah bin Amr bin Haram (ayah Jabir)  syahid pada perang Uhud, Rasulullah menemuiku seraya bertanya : “Wahai Jabir, apa yang membuatmu terlihat begitu sedih dan berduka ?”. Aku menjawab : “Ya Rasulullah, ayahku syahid, sedangkan ia meninggalkan banyak anak dan hutang”. Rasulullah lalu berkata : “Wahai Jabir maukah engkau kuberitahu apa yang dikatakan Allah kepada ayahmu ?”. “Baik ya Rasulullah”, jawabku. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak pernah mengajak bicara siapa pun kecuali dari belakang hijab, kecuali kepada ayahmu. Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung dengan berhadap-hadapan. Allah Berfirman (kepada Abdullah) : “Wahai Abdullah berangan-anganlah kepadaku, pasti aku kabulkan”. Abdullah menjawab : “Ya Rabb, hidupkanlah aku ke dunia lagi lalu aku terbunuh fi sabilillah untuk kedua kalinya”. Allah Azza Wa Jalla Berfirman : “Wahai Abdullah Aku telah Memutuskan bahwa orang yang telah mati tidak akan kembali ke dunia lagi”. Maka Abdullah bin Amr berkata : “Ya Rabb jika demikian, kabarkanlah keadaanku ini kepada orang-orang yang ada di belakangku”. Maka Allah menurunkan ayat ini”.(HR. Ibnu Majah & Tirmidzi, beliau berkata hadits ini hasan Gharib)[1]

Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya dari Masruq Radhiyallohu ‘Anhu berkata  “Kami bertanya kepada Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallohu ‘Anhu tentang ayat ini :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ  

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb nya dengan mendapat rezeki. (Ali Imron: 169)

Lalu beliau menjawab : “Kami telah bertanya tentang masalah ini kepada Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa sallam dan beliau bersabda : “Ruh-ruh mereka berada pada tembolok burung-burung hijau yang memiliki lentera yang tergantung pada Arsy Allah, mereka terbang di dalam jannah ke manapun mereka kehendaki, lalu kembali menuju lampu tersebut lalu Rabb mereka menampakkan dirinya kepada mereka dengan sebenar-benarnya  seraya berfirman : “Apakah yang kalian inginkan?” Mereka menjawab : “Apakah ada hal lain yang kami inginkan sementara kami telah bebas terbang ke sana kemari di dalam jannah ini?” . Allah mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali, lalu pada saat mereka menyadari bahwa mereka tidak akan ditinggalkan kecuali harus meminta sesuatu mereka berkata : “Wahai Rabb kami, kembalikanlah ruh-ruh kami pada tubuh-tubuh kami sehingga kami terbunuh kembali di jalan -Mu, lalu pada saat Rabb mereka mengetahui bahwa tidak memiliki hajat apapun maka merekapun ditinggalkan” (HR. Muslim) 

Dari Anas Radhiyallohu ‘Anhu  bahwasanya Nabi Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda : “Tidaklah seseorang masuk jannah itu ingin kembali lagi ke dunia dan mendapatkan apa yang ia miliki di dunia kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya ia berangan-angan untuk bisa kembali lagi ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali, lantaran kemuliaan yang ia lihat.” Dalam riwayat lain disebutkan : “…lantaran keutamaan mati syahid yang ia lihat.” (Muttafaq ‘Alaih)

فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ 

“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan -Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Ali Imron : 170).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik tentang kisah tujuh puluh shahabat Anshar yang terbunuh syahid di sumur Ma’unah karena dikhianati orang-orang kafir, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut guna berdo’a untuk kebinasaan kaum yang telah membunuh mereka. Sebelum mereka syahid, mereka sempat berdo’a :

اللَّهُمَّ بَلِّغْ عَنَّا نَبِيَّنَا أَنَّا قَدْ لَقِينَاكَ فَرَضِينَا عَنْكَ وَرَضِيتَ عَنَّا

Ya Alloh, sampaikan kondisi kami kepada Nabi kami, bahwa kami menjumpai-Mu dalam keadaan ridho kepada-Mu dan bahwa Engkau juga telah ridho kepada kami”. 

Allah memberitahukan hal ini kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam kemudian beliau berkata kepada para shahabat nya :  “Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah terbunuh syahid, dan sesungguhnya mereka telah berkata : “Ya Alloh sampaikanlah kondisi kami kepada Nabi kami, bahwa kami menjumpai-Mu dalam keadaan ridho kepada-Mu dan Engkau pun ridho kepada kami.” (Muttafaq ‘Alaih, lafadz hadits dari Imam Muslim).

Maka kemudian Allah turunkan surat Ali Imron ayat 169 – 170  di atas.

Imam Ibnu Katsir berkata : “Seakan-akan para syuhada tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok, di antara mereka ada yang ruh-ruhnya beterbangan di dalam jannah, dan di antara mereka ada yang berada pada sungai di pintu jannah, dan bisa jadi perjalanan terakhir mereka pada sungai ini dan mereka berkumpul di sana, mereka diberikan rizki yang berlimpah baik pada waktu pagi atau petang.

“Dan kami telah meriwayatkan di dalam musnad Imam Ahmad sebuah hadits yang menjelaskan tentang kabar gembira bagi setiap orang yang beriman, bahwa ruh mereka berada di jannah, beterbangan di dalam nya, makan dari buah yang berada di jannah, dia memandang padanya apa-apa yang membuat mereka senang dan berseri-seri, dia juga menyaksikan apa-apa yang dipersiapkan oleh Allah subhanahu wata’ala bagi mereka berupa kemuliaan”.

Sanad hadits ini shahih disepakati oleh oleh tiga dari empat imam madzhab, karena Imam Ahmad meriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i dari Imam Malik bin Anas dari Imam Az Zuhri dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari bapaknya radhiallahu anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :  “Ruh seorang mukmin di jannah menjadi seekor burung yang bergantung pada pohon-pohon sehingga Allah mengembalikannya ke dalam tubuhnya pada hari dia dibangkitkan”  

 “Maksud bergantung di pohon adalah mereka mendapatkan makanan dari pohon ituDi dalam hadits ini disebutkan bahwa jiwa orang yang beriman seperti burung di dalam jannah, sementara ruh para syuhada’ berada pada tembolok burung yang berwarna hijau maka dia bagai bintang-bintang jika dibandingkan dengan ruh kaum mukminin pada umumnya, dia terbang sendiri-sendiri. Kita memohon kepada Allah yang Maha Memberi untuk mematikan kita di dalam keimananWallahu A’lam” [2]

  • DI ANTARA KEUTAMAAN SYUHADA’

Dan dari Ubadah bin Shomit Radhiyallohu ‘Anhu  berkata : Rosululloh Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda :

إِنَّ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الإِِيمَانِ ، وَيُزَوَّجَ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ ، وَيُجَارَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَيَأْمَنَ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ وَيُوضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ، وَيُزَوَّجَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ ، وَيُشَفَّعَ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ 

“Sesungguhnya orang yang mati syahid memiliki tujuh keutamaan di sisi Alloh :  diampuni dosanya ketika darah pertamanya menetes, diperlihatkan tempat duduknya di jannah, disematkan perhiasan iman, diselamatkan dari siksa kubur, diamankan dari kegoncangan terbesar (hari kiamat), diletakkan mahkota kemuliaan di kepalanya di mana satu mutiara yang ada padanya lebih baik daripada dunia seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua isteri dari Huurun ‘Ien (bidadari bermata jeli), dan diberi kesempatan memberi syafaat kepada tujuh puluh keluarganya.” (HR. Ahmad dan Thabranî, sanad Ahmad adalah hasan)

 

  • SEBUAH IBROH DARI SYAHIDNYA SA’AD BIN MUADZ RADHIYALLOHU ‘ANHU 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda : “Arsy Allah berguncang karena kematian Sa’ad bin Muadz” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan “Kematiannya mengguncang ‘Arsy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, pintu yang banyak, kesyahidannya disaksikan oleh 70.000 malaikat, maka sesungguhnya ia mengalami himpitan kubur, kemudian Allah melapangkannya.”

“Jika ada orang yang selamat dari himpitan kubur, pastilah Sa’ad bin Muadz termasuk orang yang selamat”  (Hadits Shahih)

“Sesungguhnya setiap kubur pasti akan menyempit dan menghimpit orang yang di dalamnya. Seandainya ada orang yang bisa selamat dari himpitan kubur, pastilah Sa’ad bin Muadz selamat dari himpitannya” (Hadits Shahih) [3]

Kalau Sa’ad bin Mu’adz,  seorang shahabat yang mulia, hamba yang shalih dan mendapatkan mati syahid dengan disaksikan 70.000 malaikat, beliau hampir mengalami himpitan kubur, lalu bagaimana dengan saya dan anda ???!!!

  • ORANG YANG MATI SYAHID TIDAK MERASAKAN SAKITNYA LUKA

“Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali sebagaimana seorang di antara kalian merasakan (sakitnya) gigitan serangga.” (HR. Ahmad,  Tirmidzi, Nasa’i dengan sanad hasan)

Asy Syahid –Insya Allah- Dr. Abdullah Azzam menceritakan : ”Kami melihat hal ini pada saudara kami, Khalid Al Kurdi dari Madinah Al Munawwaroh ketika ranjau meledak mengenainya, sehingga terbang kakinya, terbelah perutnya, keluar ususnya dan terkena luka ringan pada tangan luarnya. Datanglah Dr. Shalih Al Lybie mengumpulkan ususnya dan mengembalikan ke dalam perutnya seraya menangis bercucuran air mata. Maka bertanyalah Khalid Al Kurdie kepadanya, “Mengapa engkau menangis, dokter?  Ini hanya luka ringan di tanganku.”

Dan tinggalah Khalid Al Kurdie berbincang-bincang dengan mereka selama 2 jam hingga akhirnya ia menjumpai Allah. Dia tidak merasakan bahwasanya kakinya telah terpotong, perutnya terbuka dan ususnya terburai.” Allahu Akbar …!!!!  

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) :

“Tidaklah suatu luka tergores di jalan Alloh, melainkan luka itu akan datang pada hari kiamat, lukanya masih mengeluarkan darah, warnanya warna darah dan aromanya aroma misik.” (Muttafaq ‘Alaih)

 

  • MATA PARA PENGECUT TIDAK AKAN PERNAH TERPEJAM..!!!

Mati syahid di medan jihad adalah rizki yang tidak ternilai harganya, dan tidak sembarang orang mendapatkannya dengan mudah, bahkan setelah mengikuti ratusan medan jihad sekalipun. Saifullah Al Maslul (Pedang Allah Yang Terhunus) Khalid bin Walid contohnya, beliau Insya Allah syahid namun bukan di medan jihad seperti yang diimpikannya, beliau wafat di atas kasurnya, cara kematian yang sangat tidak diinginkannya.

Ibnu Zanad menyebutkan : “Saat maut akan menjemput Khalid  bin Walid beliau menangis seraya berkata : “Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkal pun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku terkulai di atas ranjangku menunggu maut seperti seekor unta yang sekarat. Sungguh mata para pengecut tak akan pernah terpejam (karena kebencian mereka terhadap jihad dan mujahidin)…!!!”

Pada saat berita kematian tersebut sampai kepada Amirul Mu’minin, Umar bin Al Khattab beliau berkata : “Semoga Allah meberikan rahmatnya kepada Abu Sulaiman (Khalid bin Walid), sesungguhnya dia seperti apa yang kami perkirakan”.

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ سَألَ اللهَ تَعَالَى الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ ، وَإنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Siapa meminta kesyahidan kepada Allah Ta‘ala dengan jujur, Alloh akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid, meskipun ia mati di atas kasurnya.”(HR. Muslim) [4]

[1]  Fathul Bari Juz 6 hal 5 Bab “Angan-angan mujahid agar dikembalikan ke dunia” . (The Miracle of Shaheed Hal 129 – 130) 

[2]  Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 164

[3]   Siyaru A’lamin Nubala’ juz 1 hal 291

[4] Mukhtashor Tarikh Dimasyq juz 3 hal 42, Siyar A’lam An Nubala’ juz 1 hal 383(The Miracle of Shaheed Hal 129 – 130)