Beranda

WANITA : BAHAN BAKAR UTAMA NERAKA

Tinggalkan komentar

  • SIKAP SEORANG MUKMINAH TERHADAP PERINTAH ALLAH DAN RASUL-NYA 

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ [النور/51، 52]

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menetapkan aturan hukum di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan” (QS An Nuur 51 – 52)  

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب/36]

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”  (QS Al Ahzab 36)

Lagi

Iklan

TAWADHU’ : HIKMAH YANG HILANG DARI PARA PENUNTUT ILMU

2 Komentar

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallama  bersabda :

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat di atas Mizan (timbangan amal di akhirat nanti) dibandingkan akhlaq yang baik” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi,  dan beliau menyatakan bahwa Hadits ini Shahih)

” Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS Asy Syu’ara’ 215)

“Dan rendahkanla dirimu terhadap orang-orang yang beriman”. (QS Al Hijr 88)

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan  dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS Luqman 18 – 19)

Lagi

KALAU TEPUK TANGAN DAN SIULAN SAJA DISEBUT IBADAH, APALAGI HORMAT BENDERA

Tinggalkan komentar

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Tidaklah sholat (ibadah) mereka (kaum musyrik) di sekitar Baitullah itu, kecuali hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. (QS Al Anfal 35)

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam Bersabda

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukanlah golongan kami, mereka yang mengajak kepada Nasionalisme”,. (HR Abu Dawud)

« مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ »

“Barangsiapa yang berperang dengan slogan primordialisme, mendakwahkan (mengajak & menyerukan) nasionalisme atau membantu menegakkan nasinalisme, lalu ia mati MAKA IA MATI DALAM KEADAAN JAHILIYYAH”. (HR. Muslim)

Lagi

Pilih Sendiri Surga Mana Yang Kamu Suka

Tinggalkan komentar


  • PILIH SENDIRI SURGAMU

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada shahibul Qur’an , bacalah dan tingkatkanlah bacaanmu serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil ketika di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, Tirmidzi berkata, hadits hasan shahih)

Shahibul Qur’an bukan sekedar membaca Al Qur’an tetapi tidak memahami isinya dan bahkan bertentangan antara kehidupannya dengan kandungan dan  isi Al Qur’an yg dibacanya. Shahibul Qur’an adalah orang yang membacanya, menghafalkannya, mentadabburinya, memahami isinya, berakhlaq dengan akhlaq Al Qur’an, menghalalkan yg dihalalkan Al Qur’an dan mengharamkan yang diharamkannya. Patuh pada yang muhkamat dan beriman terhadap yang mutasyabihat. Memahami tafsir Al Qur’an, hukum-hukum syari’ah dalam Al Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, undang-undang dasarnya dan sebagai Imam atau pemimpin bagi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Inilah di antara makna Ahul Qur’an atau Shahibul Qur’an.

Lagi

CARA “MUDAH” MERAIH JANNAH

Tinggalkan komentar

  • SOSOK ORANG BIASA CALON PENGHUNI SURGA

Dari Anas Bin Malik Radhiyallohu ‘Anhu belia meriwayatkan :

Suatu ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam tiba-tiba belia bersabda : “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki ahli surga”. Tidak lama kemudian datanglah seseorang –yang tidak begitu dikenal- dari kalanagn Anshar, yang jenggotnya masih basah dengan air wudhu’ sambil menenteng sandal di tangan kirinya. Keesokan harinya kami duduk-duduk bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam dan beliau mengatakan hal sama dan muncullah orang yang sama dengan melakukan hal yang sama pula. Demikian terjadi hingga tiga hari berturut-turut.

Ketika Rasulullah berdiri dari tempat duduk beliau –dan majlis tersebut bubar- Abdullah bin Amr  bin Ash mengikuti laki-laki tersebut seraya berkata : “Aku sedang bertengkar dengan ayahku dan aku bersumpah tidak akan pulang ke rumah sampai tiga hari ini. Bolehkah aku menginap di rumahmu wahai saudaraku ?” Orang itu ternyata mengijinkan.

Kemudian Anas bin Malik melanjutkan : “Setelah Abdullah bin Amr bin Ash menginap selama tiga hari, ia pun menceritakan apa yang dilihatnya. Ternyata ia tidak melihat orang itu bangun malam untuk sholat tahajjud, kecuali hanya terjaga sebentar lalu tidur lagi. Dan setiap kali ia terjaga, ia hanya berdzikir dan bertakbir lalu kembali tidur hingga datang waktu sholat Shubuh. Akan tetapi selama tiga hari itu Abdullah bin Amr bin Ash tidak pernah mendengar satu ucapan pun yang keluar dari bibirnya kecuali ucapan yang baik”.

Bahkan Abdullah bin Amr Amr bin Ash berkata : “Hampir-hampir aku menyepelakan amalan orang ini (tetapi aku tahan) dan aku pun berkata kepada orang itu : “Wahai saudaraku, sebenarnya tidak terjadi apa-apa antara aku dengan ayahku. Aku hanya penasaran kepadamu. Selama tiga hari berturut-turut setiap kali engkau datang ke masjid, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam selalu bersabda : “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki ahli surga”, maka aku sangat ingin mengetahui amal ibadah apa yang telah engkau lakukan sehingga aku bisa menirumu. Tetapi selama tiga hari ini aku bersamamu aku tidak melihat sesuatu yang istimewa dari dirimu. Apa sebenarnya yang telah engkau lakukan sehingga Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam berkata seperti itu ?”

“Memang tidak ada yang istimewa dalam diriku kecuali yang telah engkau saksikan sendiri selama tiga hari ini”. Jawab orang itu

“Maka aku pun segera pergi meninggalkan orang itu”, kata Abdullah bin Amr Amr bin Ash. Seketika itu ia memanggilku dan berkata : “Tidak ada yang istimewa dalam diriku kecuali yang telah engkau saksikan sendiri selama tiga hari ini, hanya saja aku tidak pernah terdetik sedikit pun dalam hatiku buruk sangka terhadap saudaraku sesama muslim dan aku tidak pernah merasa iri terhadap nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada seseorang di antara mereka”.

Abdullah bin Amr Amr bin Ash pun menjawab : “Inilah kelebihan yang engkau miliki dan yang tidak dapat kami lakukan”.

(HR Ahmad dan Nasa’i dengan derajat Shahih)

Allah Azza Wa Jalla Berfirman  :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hasyr 10)

Duhai seandainya seluruh aktifis harakah Islam memahami hadits ini, lalu bersama-sama bahu membahu memperjuangkan tegaknya Syar’ah dan Khilafah Islamiyyah .

Allahumma allif baina quluubinaa wa wahhid shaffana : Ya Allah pertautkanlah hati-hati kami dan satukanlah shaff kami

AL FAQIR ILAA MAGHFIRATI RABBIHIL QADIIR

WAHAI AHLI IBADAH DI DUA TANAH HARAM, IBADAHMU HANYA MAIN-MAIN

Tinggalkan komentar

  • WAHAI AHLI IBADAH DI DUA TANAH HARAM, IBADAHMU HANYA MAIN-MAIN

Diriwayatkan dari Al Hafidz Ibnu Asakir dalam biografi Ibnul Mubarak, beliau mengatakan : “Suatu hari Ibnul Mubarak menulis beberapa bait syair sebelum beliau berangkat berjihad, (Ibnul Mubarak adalah seorang ulama yang termasyhur di zamannya sekaligus seorang panglima perang yang sangat disegani) saat itu tahun 170 Hijriyah. Syair tersebut akan beliau kirimkan kepada Imamul Haramain Al Fudhoil  Bin Iyadh

يا عابدَ الحرمين لَوْ أبْصَرْتَنا … لَعَلمْتَ أنكَ في العبادِة تلعبُ

من كان يخضب خدَّه بدموعِه … فَنُحورنا بدمائنا تَتَخضَّب

أو كان يُتْعِبُ خَيْلَه في باطلٍ … فخُيولنا يومَ الصبِيحة تَتْعبُ

ريحُ العبيرِ لكم ونحنُ عبيرُنا … وَهجُ السنابِك والغبارُ الأطيبُ

ولَقَد أتانا من مَقَالِ نبينا … قول صَحيح صادق لا يَكْذبُ

لا يستوي وَغُبَارَ خيل الله في … أنف امرئ ودخانَ نار تَلْهَبُ

هذا كتاب الله يَنْطق بيننا … ليس الشهيدُ بمَيِّت لا يَكْذبُ

“Wahai orang yang tak pernah putus beribadah di Haramain

Andai engkau saksikan kami, engkau pasti ‘kan tahu

betapa engkau hanya bermain-main dengan ibadahmu

Jika orang-orang membasahi pipi mereka dengan airmata,

kami basahi tengkuk kami dengan cucuran darah kami.

Atau  kuda-kuda mereka kelelahan dalam hal-hal yang bathil,

sedang kuda-kuda kami telah lelah lunglai semenjak pagi (dlm Jihad)

Debu jalanan yang mengotori kalian,

sedang kami kotor oleh debu suci dan  abu bekas pertempuran” 

Ibnu ‘Asakir mengatakan : “Lalu aku segera menjumpai Imam Haramain, Al Fudhail Ibnu Iyadh,aku lihat matanya berlinangan dan beliau menangis tersedu-sedu. Lalu beliau berkata : “Abu Abdurrahman (Ibnul Mubarak) benar. Wahai saudaraku, tulislah hadits ini sebagai jawaban surat beliau”. lalu Imam Haramain mendiktekan kepadaku sebuah hadits Rasulullah -Shollallohu ‘alaihi wa sallam- :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ « لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ ». قَالَ فَأَعَادُوا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ « لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ ». وَقَالَ فِى الثَّالِثَةِ « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لاَ يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى

Dan dari Abû Huroiroh Radhiyallohu ‘Anhu  berkata : Seseorang bertanya : “Wahai Rosululloh, apa yang bisa menyamai jihad di jalan Alloh?” beliau menjawab: “Kalian tidak akan sanggup melakukannya.” Para sahabat terus mengulangi pertanyaan itu sebanyak dua atau tiga kali, tetapi semuanya beliau jawab: “Kalian tidak akan sanggup melakukannya.” Kemudian beliau bersabda:“Sesungguhnya perumpamaan orang yang berjihad di jalan Alloh itu seperti orang yang berpuasa dan sholat dan selalu patuh dengan ayat-ayat Alloh, ia tidak membatalkan puasanya dan menghentikan sholat sampai orang yang berjihad di jalan Alloh itu pulang.”  (Muttafaq ‘Alaih, dan ini lafadz Muslim, lihat Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 203)

  • DUHAI ANDAI KAKIKU TERSENTUH DEBU JIHAD

Tatkala hendak wafat, Yunus bin Ubaid rahimahullah, tabi’in yang agung, memandangi kedua kakinya, lalu menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya, “Wahai Abu Abdillah, apa yang menyebabkan engkau menangis ?” beliau menjawab: “Kedua telapak kakiku ini belum pernah tersentuh debu jihad di jalan Allah. Kalau saja kedua kakiku pernah tersentuh debu jihad di jalan Allah, tentulah aku merasa aman dari azab Allah.”

Sedemikian tingginya tingkat wara’ dan cita-cita para salaf shalih. Mereka berangan-angan untuk mampu meraih puncak kebaikan supaya tidak terlewat satu pun pintu kebaikan. Inilah Yunus bin Ubaid, pemilik motto, “Bersegera dalam ketaatan di setiap saat dan menunaikan kewajiban di setiap kesempatan.”

Demikian hebatnya keimanan dan ketaatan beliau, sampai-sampai orang berkata, “Tiada datang hak-hak Allah melainkan Yunus bin Ubaid telah menunaikannya.”

Namun demikian, beliau masih menyesali dirinya tatkala menjelang wafat, karena belum terbuka kesempatan bagi beliau untuk berjihad fi sabilillah yang beliau isyaratkan dengan istilah “debu jihad di jalan Allah…!!!!

  • KEUTAMAAN DEBU DI JALAN ALLOH

Dari Abu Abbas, Abdurrahhman bin Jabr Radhiyallohu ‘Anhu berkata : Rosululloh Shollallohu ‘alaihi Wasallam  bersabda :  “Tidaklah dua kaki seorang hamba berdebu jalan Alloh, kemudian keduanya akan tersentuh api neraka.” (HR. Bukhari)

Dan dari Abu Huroiroh Radhiyallohu ‘Anhu  berkata : Rosululloh Shollallohu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Alloh, hingga air susu kembali kepada putingnya. Dan tidak akan berkumpul menjadi satu pada diri seorang hamba debu Jihad Fi Sabilillah  dan asap neraka Jahannam.” (HR. Tirmizi)

  • TIDAK SHODAQOH DAN TIDAK JIHAD, LALU DENGAN APA ENGKAU AKAN MASUK SURGA ?

عَنْ بَشِيْرِ بْنَ الْخَصَاصِيَةِ t قاَلَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ  eلأُبَايِعَهُ عَلَى الإِسْلاَمِ فَاشْتَرَطَ عَلَىَّ :«تَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَتُصَلِّى الْخَمْسَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا اثْنَتَانِ فَلاَ أُطِيقُهُمَا أَمَّا الزَّكَاةُ فَمَا لِى إِلاَّ عَشْرُ ذَوْدٍ هُنَّ رِسْلُ أَهْلِى وَحَمُولَتُهُمْ وَأَمَّا الْجِهَادُ فَيَزْعُمُونَ أَنَّهُ مَنْ وَلَّى فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنْ اللَّهِ فَأَخَافُ إِذَا حَضَرَنِى قِتَالٌ كَرِهْتُ الْمَوْتَ وَجَشِعَتْ نَفْسِى قَالَ فَقَبَضَ رَسُولُ اللَّهِ e يَدَهُ ثُمَّ حَرَّكَهَا ثُمَّ قَالَ :« لاَ صَدَقَةَ وَلاَ جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ ». قَالَ ثُمَّ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أُبَايِعُكَ فَبَايَعَنِى عَلَيْهِنَّ كُلِّهِنَّ  ﴿رَوَاهُ البيهقي والطبراني والحاكم في المستدرك على الصحيحين وقال«هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه  

Dari Basyir bin al-Khoshoshiyyah Radhiyallohu ‘anhu  berkata, : “Aku datang kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam  untuk berbai’at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku agar bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, sholat lima waktu, puasa Romadhon menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan berjihad di jalan Allah”.

Basyir melanjutkan, “Lalu aku berkata : “Wahai Rasulullah, ada dua hal yang aku tidak mampu, yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu pun kecuali beberapa ekor unta yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa mereka yang lari (ketika perang) akan mendapat kemurkaan dan adzab dari Allah, sedangkan aku khawatir  jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin lari (menyelamatkan) jiwaku.

Rasulullah menggenggam tangannya kemudian menggerakkannya lalu berkata, “Tidak shadaqah dan tidak jihad ? Dengan apa engkau akan masuk surga?”

Maka aku pun  berkata : “Ya Rasulullah aku akan berbai’at kepadamu maka baiatlah aku atas semua itu”

(Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Imam Ath Thabrani dan Imam al-Hakim dalam Al Mustadrok dengan sanad shahih, juga dinyatakan  shohih oleh Imam adz-Dzahaby).

MEMINDAHKAN HATI KE AKHIRAT

Tinggalkan komentar

 وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Barangsiapa mengharapkan akhirat, kemudian berusaha untuk mendapatkannya sedang ia seorang Mukmin, maka usahanya akan diberikan imbalan (oleh Allah).”(QS. Al Israa’ : 19)

Kita ini dalam perjalanan pulang. Pulang ke kampung akherat. Tapi orang-orang bodoh, mereka bekerja mati-matian untuk bekal dunia. Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tertipu. Dan lebih bodoh lagi kalau ada orang yang mau berjihad fii sabilillah tujuannya dunia. Ngeri orang seperti itu. Akibat sikap orang-orang seperti ini, akhirnya Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam giginya patah dalam perang Uhud.

Pemanah-pemanah dalam perang Uhud itu turun rebutan ghanimah. “Minhum man yuriidu dunya minhum man yuriidu akhiroh”. Para perindu akhirat inilah yang menjadi perisai-perisai Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam. Yang menghendaki akhirat pada waktu itu, adalah Anas bin Nadhr. Yang ketika dia mati, di dadanya terdapat lebih dari tujuh puluh lubang akibat terkena tombak dan panah.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan “Kalau hati ini sehat dari penyakit ini, maka hati kita ini akan pindah ke akhirat.”Jasadnya saja di dunia. Itulah orang yang akalnya sehat. Dia sadar bahwa dia sekarang sedang berjalan ke akherat. Dia tamak sekali menumpuk kekayaan untuk akherat. Seperti tamaknya ahli dunia menumpuk harta kekayaan di dunia”.

Sebagaimana ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha. Beliau menabung, sampai mendapatkan seratus ribu dirham dan dia punya daftar nama-nama orang yang hendak dibagikan. Tatkala beliau mendapat seratus ribu dirham itu, senangnya bukan main. Senang bukan karena tamak dengan dunia, tapi tamak dengan akhirat. Target nama-nama yang dikumpulkan beliau terpenuhi.

Kakaknya, Asma’ binti Abu Bakar Ash Shiddiq, lain lagi. Beliau tidak mau menabung sebagaimana ‘Aisyah radliyallohu’anha. Pokoknya harta yang didapatkan hari itu, habis Isya’ harus habis. Semuanya disedekahkan sebelum tidur, besoknya mencari yang baru. Besok pagi adalah urusan besok pagi. Sikap Asma’ ini sama nilainya dengan ‘Aisyah.

Benar kata Ibnul Qayyim al Jauziyah ini, kalau hati kita sehat akan berpindah ke akherat.

Bagaimana caranya agar hati kita pindah dari dunia ke akherat ?

Kalau kita berkumpul hanya membicarakan masalah dunia, meetingnya hanya masalah dunia dan tak pernah ngaji, tidak pernah membicarakan halal dan haram, maka hati kita akan semakin mendalam terhadap dunia. Maka hati akan menjadi sakit.

Seorang ‘Alim berkata : “Kasihan ahli dunia (para pecinta dunia), keluar dari dunia tidak pernah merasakan sesuatu yang paling nikmat di dunia.” Sebagian orang bertanya, “Apa sesuatu yang paling nikmat di dunia itu?” Berkata sang ‘Alim, “Mahabatullah.”Merasa tenang berinteraksi dengan Allah, rindu segera bertemu dengan Allah, dan merasa nikmat tatkala berdzikir kepadaNya dan melaksanakan ketaatan-Nya.

Berikutnya ciri orang-orang yang merasakan sesuatu yang paling nikmat di dunia adalah

  1. Merasa nikmat tatkala berinteraksi dengan Allah.
  2. Dia merasa nikmat tatkala bangun jam dua malam melakasanakan qiyamul lail. Merasa tentram dan tenang. Kemudian rindu ingin bertemu denganNya. Alkisah, para mujahidin Arab, sebagian dari Yaman, Syiria, Qathar, dan Saudi, yang tadinya ikut jihad di Afghanistan, merasa sedih karena jihad di Afghanistan usai.

Mereka merasa sedih dan seakan tak punya harapan lagi untuk meraih manisnya mati syahid. Seperti pedagang pasar yang pasarnya sepi. Mereka berkata, “Kalau jihad sudah tak ada bagaimana nasib kita ini?” Jadi akhirnya mereka pulang negerinya masing-masing di jazirah Arab.

Kemudian mereka mendengar ada tragedi pembantaian umat Islam di Bosnia. Mereka mendengar bahwa di Bosnia ada jihad. Mereka merasa senang sekali pergi ke sana. Mereka berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru dunia. Senangnya mereka itu seperti senangnya ahlu dunia mengejar pasar. Kenapa mereka bisa seperti itu, karena rindunya akan segera bertemu dengan Allah sudah tak tertahankan.

Orang-orang yang hatinya telah pindah ke akherat, mereka merasa nikmat dengan ketaatan yang ia laksanakan. Kenikmatan yang besar karena ia selalu ingat Allah, merasa diawasi oleh-Nya. Orang-orang seperti inilah yang patut mengatakan, “Kasihan ahlu dunia, mereka tidak bisa merasakan sesuatu yang paling nikmat di dunia. Cita-citanya sangat dangkal!”

Kepada para perindu akherat lah kita seharusnya ‘mendongakkan muka’ dan iri dengan watak mereka.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir”. (QS Al Isra” 18)

(Dirangkum dari taushiyah Syaikhul Mujahid Al Ustadz Abdullah Sungkar –rahimahullah- dikutip dari sebuah blog)

Older Entries