• KEUTAMAAN ZUHUD TERHADAP DUNIA

Ulama salaf berkata :

إِنَّ الإِبْتِلاَءَ بِالنَّعِيْمِ أَشَدُّ وَأَقْصَي مِنَ الإِبْتِلاَءِ بِالضِّيْقِ وَالْفَقْرِ ِلأَنَّهُ يُلْهِي وَيُطْغِي

“Ujian yang ditimpakan oleh Allah kepada manusia dalam bentuk kenikmatan, adalah lebih dahsyat dan berat dibandingkan dalam bentuk kesusahan dan kesulitan, karena kenikmatan cenderung melenakan dan menyebabkan keingkaran” 

Sebagian ulama berkata : “Sifat zuhud adalah jika seseorang mendapatkan bagian dari dunia, ia tidak terlalu bergembira dan jika ia kehilangan sebagian dari nikmat dunianya ia tidak bersedih dengan berlebihan”

Ibnul Mubarak berkata : “Zuhud adalah tidak menjadikan rizki yang ada di tanganmu lebih engkau yakini dan lebih membuatmu bergantung dibanding rizki  yang ada di Tangan Allah (yang masih disimpan-Nya untukmu)”.

Rasulullah bersabda :  

مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى 

“Sedikit tetapi membuatmu merasa cukup, adalah lebih baik daripada banyak tetapi membuatmu lalai dan terlena” (HR Abu Ya’la dengan sanad Shahih)

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ 

“Bukanlah kekayaan yang sebenarnya itu dengan banyaknya harta, sesungguhnya kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati” (HR Bukhari)

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا ذُخِرَ لَكُمْ مَا حَزِنْتُمْ عَلَى مَا زُوِىَ عَنْكُمْ 

“Seandainya engkau tahu apa yang Allah simpan untuk kalian, pastilah engkau tidak akan merasa sedih atas apa yang terlepas (hilang) dari kalian” (HR. Ahmad dengan periwayat yang terpercaya)

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا 

“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya  tawakkal, pastilah Allah akan limpahkan rizki-Nya kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki-Nya kepada burung-burung, berangkat di pagi hari dengan perut kosong, sore harinya sudah penuh terisi” (HR. Tirmidzi dan Al Hakin dengan sanad Shahih)

الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ 

“Orang yang kenyang dan ia bersyukur kepada Allah atas hal itu, ia mendapat pahal seperti orang yang puasa dan ia bersabar” (HR. Hakim dengan sanad Shahih)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ  e قَالَ  إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam, luangkan waktumu untuk ibadah kepada-Ku pastilah aku penuhi dadamu dengan kekayaan (hati/batin) dan Aku akan hilangkan kefaqiranmu, jika itu tidak  engkau lakukan maka Aku akan jadikan tanganmu sibuk dengan pekerjaanmu, namun Aku tidak akan hilangkan kefaqiranmu”(HR. Tirmidzi & Ibnu Hibban dengan sanad Shahih)

أَرْبَعٌ مَنْ أُعْطِيَهُنَّ أُعْطِيَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ: قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَبَدَنًا عَلَى الْبَلاءِ صَابِرًا، وَزَوْجَةً لا تَبْغِيهِ خَوْنًا فِي نَفْسِهَا وَلا مَالِهِ

“Empat hal yang apabila seseorang mendapatkannya berarti ia telah mendapatkan kebaikan dunia dan ahirat, hati yang selalu bersyukur,  lisan yang selalu berdzikir, badan yang selalu sabar saat ditimpa cobaan dan istri yang tidak pernah terfikir dalam jiwanya untuk mengkhianati suami dan hartanya”(HR. Thabrani dengan sanad Jayyid dengan periwayat Shahih)

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ [النور/37]

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati (berdzikir kepada) Allah, dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. (QS An Nuur 37)

 

  • DO’A AGAR DICUKUPKAN DENGAN RIZKI YANG HALAL DAN DIBEBASKAN DARI HUTANG YANG MENJERAT

Dari Ali Bin Thalib t, suatu hari seorang budak yang hendak memerdekakan diri datang menemuinya seraya berkata : “Sungguh aku sudah tidak mampu lagi membayar uang tebusanku”. Maka Ali Bin Thalib t berkata : “Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah kalimat (do’a) yang Rasulullah e ajarkan kepadaku, seandainya engkau mempunyai tanggungan hutang sebanyak  gunung yang runtuh (berserakan) pasti Allah akan melunasinya darimu. Bacalah :

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah jadikanlah aku merasa cukup dengan yang Engkau halalkan buatku dan janganlah aku tergiur dengan yang Engkau haramkan. Cukupkanlah aku dengan keutamaan dari-Mu dan tidak lagi mengharap dari selain-Mu” (HR. Tirmidzi, Al Hakim dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

 

  • TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA ADALAH KUNCI DIMUDAHKANNYA RIZKI DAN JALAN KELUAR DARI SEMUA MASALAH

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah pastilah Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah pastilah Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS Ath Thalaq 2 – 3)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا 

Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, pastilah Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (QS Ath Thalaq 4) 

 

  • RIZKI DARI ALLAH TELAH DITETAPKAN DAN TIDAK AKAN TERTUKAR DENGAN ORANG LAIN 

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَماَ يَهْرَبُ مِنَ الْمَوْتِ َلأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَماَ يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ 

“Seandainya manusia lari (menghindar) dari rizki yang telah Allah tetapkan untuknya seperti ia lari dari kematian, pastilah rizki itu akan mencarinya sebagaimana kematian pasti menemukannya” (HR. Abu Nuaim dan dinyatakan Hasan oleh Syaikh Al Albani)

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ

“Barangsiapa yang tujuan hidupnya hanya dunia, Allah akan jadikan urusannya berantakan porak-poranda, lalu Allah jadikan ketakutan akan kemiskinan selalu di depan matanya dan tidak ada satu pun nikmat dunia yang ia dapatkan kecuali yang telah Allah tetapkan baginya Dan barangsiapa yang tujuan hidupnya untuk (kebahagiaan) akhirat, Allah akan kumpulkan seluruh urusannya, dan Allah jadikan kekayaannya di dalam hatinya, lalu ketika kenikmatan dunia mendekatinya, ia tidak terlalu terpaut padanya. (HR. Ibnu Abdir Barr dan Ibnu Majah dengan sanad Shahih)

لاَ تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَبْدٌ لِيَمُوْتَ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ ، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، أَخْذُ الْحَلاَلِ وَتَرْكُ الْحَرَامِ 

“Janganlah kalian minta agar rizki kalian ditunda (diperlambat), karena tidak ada satu orang manusia pun yang mati kecuali Allah telah sampaikan rizki yang terakhir yang menjadi haknya, maka perbaguslah oleh kalian dalam mencarinya, (yaitu) dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram” (HR. Hakim dan dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani)

  

  • YANG HALAL SUDAH TERANG BENDERANG, YANG HARAM PUN TELAH JELAS

الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيِنِهِ وَعِرْضِهِ ، وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى ، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ . أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى ، أَلاَ إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِى أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ ، أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut (menjaga diri) terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (HR Bukhari dan Muslim)

 

  • YANG HALAL PASTI AKAN DIHISAB, YANG HARAM PASTI DIADZAB

عَنْ عَلِىٍّ t : أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الدُّنْياَ فَقاَلَ أُطِيْلُ أَمْ أُقْصِرُ ؟ فَقِيْلَ أَقْصِرْ قاَلَ حَلاَلُهاَ حِساَبٌ وَحَرَامُهاَ عَذَابٌ فَدَعُوا الْحَلاَلَ لِطُوْلِ الْحِسَابِ وَدَعُوْا الْحَرَامَ لِطُوْلِ الْعَذَابِ

Dari Ali bin Abi Thalib, beliau ditanya tentang kenikmatan dunia, maka beliau balik bertanya : “Aku jawab dengan jawaban panjang atau pendek ?”. Mereka menjawab : “Pendek saja”. Lalu beliau menjawab : “Yang jelas-jelas halal pasti akan dihisab (diperhitungkan) Allah, sedang yang haram pasti akan diadzab. Karena itu tinggalkan (ambil secukupnya saja) rizki yang halal karena lamanya hisab Allah dan jauhi yang haram karena lamanya adzab” (HR Abnu Abid Dunya, Imam Dainuri, Ibnu Asakir dan Imam Baihaqi dalam Syu’abil Iman)