Hari itu udara sangat dingin menusuk tulang, rasa lapar mendera Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabat di tengah kekhawatiran akan  datangnya musuh yang setiap saat dapat menyerang, para shahabat bahu membahu menggali parit perlindungan di sekeliling Madinah sebagaimana usulan Salman Al Farisi Radhiyallohu ‘anhu . Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan setiap sepuluh orang shahabat agar menggali sepanjang 40 hasta (-+ 30 meter).

Saat itu musuh yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu pasukan koalisi (Ahzab) tengah mengepung kota Madinah. Tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali mempertahankan Madinah sampai titik darah penghabisan.  Dalam kondisi yang demikian mencekam ini, Rasulullah dan para shahabat beliau  masih dibayang-bayangi rasa khawatir akan adanya kemungkinan pengkhianatan kaum Yahudi Bani Quraidhah yang saat itu tinggal di dalam kota Madinah dan mengikat perjanjian damai dengan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Saking dinginnya udara dan kuatnya deraan rasa lapar,  tidak sedikit dari para shahabat yang mengganjal perut mereka dengan batu yang diikatkan ke perut mereka. Bahkan Rasulullah pun melakukan hal yang sama. Beratnya rasa lapar ini dikisahkan oleh Anas bin Malik yang saat itu ikut menggali parit :

“Mereka hanya memiliki sebanyak dua telapak tangan gandum yang mereka masak hingga mengembang lalu mereka letakkan di atas nampan kemudian dikelilingkan di antara mereka agar mereka dapat mencium baunya dan sedikit menghikangkan rasa lapar mereka”(HR Bukhari)  Allahu akbar walillahil hamd…!!!

Namun demikian, semua itu tidak mengurangi ketaatan dan semangat mereka menggali parit perlindungan di sekeliling Madinah sebagaimana diperintahkan oleh panglima perang dan amir mereka Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Menyaksikan itu semua, Rasulullah berdo’a kepada Allah :

اللَّهُمَّ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الآخِرَهْ        فَاغْفِرْ لِلأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ

“Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirah (akhirat),

maka ampunilah dosa kaum Anshar dan Muhajirah (Muhajirin)”.

Mendengar do’a Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam serta merta para shahabat Anshar dan Muhajirin menjawab dengan serempak :

نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدًا          عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدًا

“Kamilah yang telah berbai’at kepada Muhammad  

Untuk terus berjihad selama nyawa masih di kandung jasad”.

(Shahih Bukhari juz 10 hal 257, Ar Rakhiqul Makhtum hal 269, Shiroh Ibnu Katsir juz 3 hal 184)

Melihat kondisi kaum muslimin yang sudah terkepung sekian lama di dalam kota Madinah, sehingga kelaparan mulai menyiksa hampir seluruh penduduk Madinah, sementara di saat yang sama, kaum Yahudi Bani Quraidzah dan Bani Ghathafan sudah nyata-nyata mengkhianati Rasulullah dan membantu kaum musyrik Quraisy, maka Rasulullah berusaha keras mencari siasat dan taktik yang jitu untuk mengalahkan pasukan koalisi tersebut. Beliau lalu memanggil para shahabatnya untuk bermusyawarah.

Maka berdiri lah Nuaim bin Mas’ud bin Amir, salah seorang dari Bani Ghathafan yang sudah masuk Islam namun tidak ada seorang pun dari kaumnya yang mengetahui keislamannya. Mereka mengira Nuaim masih beragama yahudi dan mendukung pengkhianatan mereka terhadap Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Dengan keadaannya yang demikian ini Nuaim Radhiyallohu ‘anhu ingin melakukan strategi memecah-belah kekuatan musuh. Ia berkata kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam :

“Ya Rasulullah, kini aku sudah masuk Islam (sedangkan mereka tidak tahu tentang hal ini) maka perintahkan kepadaku apapun  yang engkau mau (demi kemenangan Islam)”.

Rasulullah bersabda :

“Wahai Nuaim, engkau hanya seorang diri (di tengah-tengah ribuan musuh) maka lakukanlah tipu muslihat dan strategi apapun yang bisa engkau lakukan demi kemenangan kita, sesungguhnya perang ada tipu muslihat”.

Nu’aim bin Mas’ud pun  bergegas  pergi menemui kaum Yahudi bani Quraidzah, yang belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam. Pada zaman jahiliyah ia bergaul rapat sekali dengan mereka. Diingatkannya kembali hubungan dan persahabatan mereka masa dahulu itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah mendukung suku Quraisy dan Ghathafan dalam menghadapi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, sedangkan suku Quraisy maupun Ghathafan mungkin tidak akan tahan lama tinggal di tempat itu. Kedua kabilah ini tentu akan berangkat pulang, dan mereka akan ditinggalkan sendirian menghadapi kaum muslimin yang tentunya nanti akan menghajar mereka pula. Oleh karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau ikut golongan itu sebelum mendapatkan sandera beberapa orang dari pimpinan mereka sebagai jaminan dari kedua suku itu. Dengan demikian Quraisy dan Ghathafan tidak akan meninggalkan mereka. Kaum Yahudi bani Quraidzah merasa puas dengan keterangan Nu’aim bin Mas’ud tersebut.

Selanjutnya Nu’aim bin Mas’ud pergi lagi menemui para pembesar suku Quraisy dengan membisikkan, bahwa sebenarnya pihak Bani Quraidzah merasa menyesal sekali atas tindakannya melanggar perjanjian dengan Muhammad dan pengikutnya dan bahwa mereka sekarang berusaha hendak mengambil hati Muhammad dan mengadakan perjanjian damai lagi dengan jalan hendak menyerahkan pemimpin-pemimpin Quraisy kepadanya untuk dijadikan sandera atau dibunuh. Oleh karena itu lalu disarankannya, bahwa bilamana nanti pihak Yahudi Bani Quraidzah mengutus orang meminta beberapa orang pemimpin Quraisy untuk dijadikan jaminan, jangan dikabulkan, karena sebenarnya mereka akan diserahkan kepada Muhammad dan pengikutnya.

Seperti halnya terhadap Quraisy, kemudian Nu’aim melakukan hal yang sama pula terhadap Bani Ghathafan. Keterangan Nu’aim ini telah menimbulkan keraguan dalam hati para pemimpin suku Quraisy dan Bani Ghathafan.

Maka para pembesar musyrikin Quraisy pun segera berunding. Abu Sufyan lalu mengutus orang menemui pemimpin Bani Quraidzah dengan pesan : “Kami sudah cukup lama tinggal di tempat ini dan mengepung Muhammad dan para pengikutnya. Menurut pendapat kami, besok pagi kalian harus sudah menyerbu Muhammad dan kami dibelakang kalian.”

Tetapi utusan Abu Sufyan itu kembali dengan membawa jawaban dari pemimpin Bani Quraidzah :“Besok adalah hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun.”

Serasa tersentak, Abu Sufyan naik pitam. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan kepada pihak bani Quraidzah : “Cari Sabtu-sabtu  lain saja sebagai pengganti Sabtu besok, sebab besok Muhammad harus sudah diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak ikut serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya bubar, dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum Muhammad.”

Pernyataan Abu Sufyan itu oleh kaum Yahudi Bani Quraidzah tetap dijawab dengan mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Allah karena telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan mereka itu.

Mendengar permintaan semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi akan keterangan yang telah diberikan Nu’aim itu. Terpikir olehnya sekarang apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini dibicarakan dengan pihak Bani Ghathafan ternyata mereka juga masih ragu-ragu hendak memerangi Muhammad dan pengikutnya. Mereka sebenarnya sudah mulai jemu dan kelelahan, karena begitu lama mereka mengadakan pengepungan dengan segala jerih payah yang mereka hadapi selama itu. Mereka melakukan semua ini hanya karena memenuhi ajakan Huyayy bin  Akhtab dan orang-orang Yahudi yang menjadi pengikutnya. Di samping itu mereka juga sudah mulai terpengaruh dengan janji yang pernah diberikan Muhammad kepada mereka, bahwa sepertiga hasil perkebunan kota Madinah nanti untuk mereka dengan syarat mereka mau berhenti melakukan pengepungan dan kembali ke kampungnya.

Sebagai salah satu strategi memecah belah kekuatan musuh, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam memang telah mengirimkan utusan kepada kaum Yahudi Bani Ghathafan yang menjanjikan sepertiga hasil perkebunan Madinah untuk mereka jika mereka mau menghentikan pengepungan. (Zaadul Ma’ad juz 3 hal 240, Ar Rakhiqul Makhtum hal 271, Shiroh Ibnu Katsir juz 3 hal 214, Shiroh Ibnu Hisyam juz 2 hal 228)

Hingga sampailah di suatu malam yang gelap gulita di mana seseorang tak lagi dapat melihat tangannya sendiri. Udara begitu dingin luar biasa disertai angin badai yang bertiup kencang serasa hendak menyapu apapun yang di depannya, Rasulullah mengumumkan sebuah  tawaran tiket menuju surga Firdaus bersama beliau Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Sebagaimana dikisahkan oleh Shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman, beliau bersabda :

“Siapa di antara kalian yang bersedia menyelinap dan menyusup ke dalam pasukan Ahzab lalu melaporkan keadaan mereka kepadaku ? Tapi dengan satu syarat, ia harus kembali kepadaku apapun yang terjadi. Niscaya aku akan meminta kepada Rabb-ku agar ia menjadi teman karibku nanti di surga Firdaus” 

Namun tak seorang pun di antara shahabat beliau yang beranjak dari tempat duduknya menyambut tawaran beliau Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, karena suasana yang amat sangat mencekam dan kelaparan yang hampir-hampir tidak dapat lagi tertahankan.

Melihat tidak ada satu pun yang berdiri, Rasulullah lalu memanggilku (Hudzaifah), rasanya tidak ada alasan buatku untuk menolak panggilan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Beliau bersabda :“Wahai Hudzaifah pergilah engkau dan menyusup ke dalam pasukan Ahzab lalu laporkan keadaan mereka kepadaku dan ingat, jangan melakukan tindakan apapun sampai engkau menemuiku kembali”.

Akhirnya Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallohu ‘anhu pun  menyusup ke tengah-tengah musuh demi melaksanakan perintah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam walaupun dalam situasi dan kondisi yang sangat sulit dan penuh bahaya.

Hudzaifah melanjutkan : “Saat itu aku sudah berada di tengah-tengah pasukan Ahzab, sementara angin dan badai mulai menghebat. Tentara Allah itu memporak-porandakan periuk dan peralatan makan mereka. Demikian pula api unggun dan kemah mereka telah berantakan rata dengan tanah.Abu Sufyan bin Harb (panglima pasukan Ahzab) berkata, : “Wahai kaum Quraisy, hendaknya setiap orang dari kalian melihat siapa teman duduk di sebelahnya”.

Hudzaifah melanjutkan ceritanya : “(sebelum didahului pertanyaan) Aku segera memegang tangan orang di sebelahku dan bertanya, ‘Siapa kamu?’ Dia berkata : ‘Saya Fulan bin Fulan.’ Kemudian Abu Sufyan berkata : ‘Wahai sekalian Quraisy, demi Allah, sesungguhnya kalian tidak berada di tempat yang aman. Perbekalan kita telah musnah, sedangkan Bani Quraizhah telah mengkhianati kita. Sudah sampai kepada kita berita yang tidak kita sukai. Dan kitapun dihantam oleh angin kencang ini seperti yang kalian lihat. Demi Allah, periuk tidak lagi tempatnya, api unggun juga sudah padam semuanya, tenda-tenda kita roboh berserakan, maka pulanglah kalian. Karena sesungguhnya aku juga akan pulang”.

Abu Sufyan menghampiri untanya yang tertambat, lalu duduk di atasnya. Setelah itu dia memukulnya hingga unta itu bangkit seiring dengan lepasnya tali ikatan. Pasukan Ahzab pimpinannya juga lari tunggang langgang dengan kekalahan. 

Hudzaifah lalu berkata : “Kalau bukan karena janjiku kepada  Rasulullah  agar jangan berbuat sesuatu sampai aku menemui beliau, tentu aku akan memanahnya sampai mati.”

“Kemudian aku kembali menemui Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam yang sedang shalat dengan kain selimut bergaris milik salah seorang istrinya. Melihat kedatanganku, beliau memasukkan aku ke dalam kemahnya dan menghamparkan ujung selimut itu untukku, sementara beliau masih melanjutkan rukuk dan sujudnya. Setelah selesai salam, aku pun menceritakan hasilnya kepada beliau.” (Musnad Ahmad juz 5 hal 392, Shiroh Ibnu Katsir juz 3 hal 218, Shiroh Ibnu Hisyam juz 2 hal 231, Umdatul Qaari Syarah Shahih Bukhari juz 21 hal 303)