Wawancara Imaginer Dengan Seorang Mujahid Di Penjara Guantanamo

Seorang mujahid tertangkap oleh kepolisian Republik Indonesia dan dijebloskan ke dalam penjara. Ia telah terjun di banyak medan jihad di berbagai penjuru bumi Allah ini. Dari Afghanistan ia hijrah ke Moro, lalu ke Rohingnya (Myanmar)  ke Pattani (Thailand), Ambon dan Poso  sebelum akhirnya tertangkap dalam sebuah penggerebegan yang dilakukan oleh Densus 88 antiteror. Karena kiprahnya itulah ia dianggap sebagai salah satu di antara gembong teroris dunia. Pemerintah Indonesia lalu menyerahkannya kepada Amerika, tuannya. Mujahid itu pun dijebloskan ke penjara Guantanamo yang terkenal sangat menyeramkan. Suatu hari datang seorang wartawan muslim mengunjunginya. Berikut dialog antara mereka :

Wartawan      : “Bagaimana keadaanmu di penjara yang terkenal sangat menyeramkan ini saudaraku ?”

Mujahid          : “Alhamdulillah aku sungguh gembira dan hanya Allah yang tahu tentang hal ini, walaupun terkurung dalam penjara dan setiap hari harus menjalani bermacam-macam siksaan”.

Wartawan      : “Kamu sangat bahagia dan gembira ? Kamu sedang mengejekku atau pura-pura mengatakan yang manis kepadaku ?”

Mujahid          : “Subhanallah… bagaimana mungkin aku mengejekmu saudaraku ?”

Wartawan      : “Tapi bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa kamu dalam kegembiraan dan sukacita sedangkan kamu di dalam penjara yang menyeramkan seperti ini ?”

Mujahid          “Jangan kaget wahai saudaraku, lihatlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau sendirian  dalam penjara yang sempit lagi  pengap namun beliau malah mengatakan  “Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku kepadaku ? Surga dan taman-tamanku ada di dalam dadaku, penjara bagiku adalah khalwat (menyepi dan bermunajat kepada Allah), jika aku terbunuh, maka aku syahid –insya Allah- sedangkan jika aku diusir dari negeriku, itu bagiku adalah seperti rihlah (tamasya)”.

Wartawan      : “Tapi, apa sebenarnya tuduhan yang didakwakan mereka kepadamu ?”

Mujahid          : “Mereka mempersalahkan aku dan menuduhku sebagai teroris yang kejam, hanya karena aku pergi membela saudara-saudaraku yang tanah airnya direbut secara paksa dan dijajah oleh anak cucu kera dan babi. Mereka juga menangkapku  karena aku ingin menghapus air mata dan kesedihan anak-anak yatim yang orangtuanya dibunuh oleh para penjajah itu, dan juga karena aku ingin membela para jompo dan orang-orang lemah yang tertindas dan tak lagi punya daya dan upaya untuk melawan”. Aku hanya melaksanakan Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini  yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” (QS An Nisa’ 75)

Wartawan      : Ada urusan apa engkau dengan mereka itu ? Bukankah kita di Indonesia, sedangkan mereka nun jauh di Moro, Chechnya, Irak, Palestina dan Afghanistan sana ?”

Mujahid          : “Masya Allah, ada apa dengan dirimu saudaraku, sudah matikah ghirah Islam mu ? Di manakah pembelaanmu terhadap saudara-saudaramu seiman dan seaqidah ?”

Wartawan      : “Bukan begitu… tak tahukah kamu betapa besarnya kepedulianku terhadap keluargaku, saudara-saudaraku dan kerabatku ? Tak akan kubiarkan seorang pun menghina mereka apalagi sampai menyakiti mereka “.

Mujahid          : “Subhanallah … apakah engkau lupa sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh-musuhnya”. Mereka semua yang nun jauh di Moro, Chechnya, Irak, Palestina dan Afghanistan sana adalah saudara kita, kita pun saudara mereka”.

Wartawan      : ”Astaghfirullah …… selama ini aku telah melupakan hak-hak saudara-saudaraku sesama muslim yang sedang teraniaya dan terjajah. Ya Allah ampunilah aku atas kebodohan dan kelalaianku ini. Aku telah tersibukkan dengan urusan duniaku, aku telah tersihir oleh tipu daya musuh-musuh Mu ya Allah”.

Mujahid          : “Jangan sedih saudaraku, Allah Maha Pengampun atas hambanya yang bertaubat dan menyesali kesalahannya”.

Wartawan      : “Akan tetapi yang aku dengar dari para ulama, mereka mengatakan bahwa para pemuda seperti kamu lah yang menyebabkan Amerika menyalahkan negara kita lalu mereka akan menyerang kita atau setidaknya mengembargo kita dan memasukkan negara kita dalam deretan negara sarang teroris. Ini sangat merugikan negara kita saudaraku”.

Mujahid          : “Bagaimana mungkin para ulama itu menyalahkan para pemuda mujahid itu ? Padahal justeru merekalah para pemuda gagah berani yang rela menyerahkan nyawanya demi membela kehormatan Islam dan kaum muslimin, atau mungkin yang kamu maksudkan adalah lain lagi ?”

Wartawan      : “Maksudku begini, jika para pemuda Islam Indonesia berduyun-duyun datang ke Moro, Chechnya, Irak, Palestina atau Afghanistan untuk membela saudara-saudaranya yang dibantai oleh Yahudi Israel, Amerika dan antek-anteknya, lalu pemerintah kita diam saja, dan tidak melarang mereka, pastilah Amerika akan menyalahkan pemerintah kita bahkan bukan tidak mungkin mereka akan menyerang kita, atau setidaknya mengembargo kita seperti dulu mereka pernah lakukan terhadap Libya dan Irak. Lihatlah bagaimana dampaknya. Kita semua akan mengalami krisis ekonomi, krisis pangan, kelaparan dan sebagainya”.

Mujahid          : “Semoga Allah memberimu hidayah wahai saudaraku …… Apakah engkau sangka Amerika dan antek-anteknya akan rela dan senang kepadamu dan seluruh kaum muslimin, jika kalian semua menutup mata terhadap nasib saudara-saudara kalian di Moro, Irak, Afghanistan, Palestina, Chechnya dan di berbagai tempat lainnya ? Lupakah kamu dengan firman Allah :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama dan cara hidup mereka” (QS Al Baqarah 120).

Kalaupun seandainya Allah takdirkan mereka tidak memusuhi kita, lalu di manakah pembelaanmu terhadap saudara-saudaramu sesama muslim yang teraniaya dan terjajah ? Lupakah kamu akan sabda Nabimu Shollallohu ‘alaihi wa Sallam ; Kalian akan saksikan orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang sesama mereka bagaikan satu tubuh, jika satu bagian tubuh mereka  sakit, seluruh tubuh mereka ikut merasakan demam dan tak bisa tidur“.

Di mana kepedulianmu terhadap mereka, ataukah imanmu telah lenyap sehingga engkau tidak lagi merasa sebagai salah satu bagian dari mereka ? Apa yang akan kalian katakan di hadapan Allah kelak ketika Dia bertanya kepadamu : “Aku sakit, engkau tak menjenguk-Ku, Aku haus engkau tak memberi-Ku minum, Aku lapar engkau tak memberi-Ku makan ? Bukankah kau lihat saudara-saudaramu kesakitan meregang nyawa, kelaparan dan kehausan ? Tahukah kamu, seandainya engkau peduli kepada mereka dan membela mereka pasti akan engkau dapatkan Aku di dekat mereka”. 

Wartawan      : “Terima kasih saudaraku, sekarang aku paham bagaimana aku harus bersikap. Tapi yang masih menjadikan aku bingung, bagaimana mungkin para pemuda  Islam yang terpelajar dan paham Islam bisa  terlena dan tidak ikut peduli terhadap saudara-saudaranya ? Sedangkan para ulama tidak juga menfatwakan kewajiban  Jihad untuk membela mereka ? Bukankah seandainya hukum jihad saat ini fardhu kifayah, maka ukurannya adalah sampai adanya  perlawanan yang berimbang ? Sampai jiwa yang teraniaya dapat tertolong ?”.

Mujahid          : “Aku tidak begitu terkejut kalau ruh jihad ini telah mulai pudar dari sanubari para pemuda muslim. Jangankan mereka, bahkan para ulama pun kini telah menutup mata dengan fenomena menyedihkan ini. Aku jadi teringat sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam Dari Abdullah bin Amr bin Ash : “Akan datang pada manusia suatu zaman di mana hati mereka adalah hati orang asing. Aku bertanya : “Apa maksudnya”. “Mereka sangat cinta dunia” Rasulullah melanjutkan : “Tradisi mereka adalah tradisi Arab, rizki yang dilimpahkan kepada mereka, mereka habiskan untuk hewan-hewan, mereka menganggap Jihad sebagai sebuah bencana dan zakat sebagai kerugian”.[1]

Wartawan      : “ Aku juga sering mendengar dari para ulama yang mengatakan bahwa saat ini belum waktunya untuk jihad memanggul senjata. Saat ini prioritas kita adalah  thalabul ilmi dan berdakwah mengajak manusia menuju Tauhid”.

Mujahid          : “Allahul Musta’an …. Apa mereka belum pernah mendengar sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam : “Akan selalu ada sekelompok kecil dari ummatku yang berperang dan berjihad menegakkan al haq dan mereka akan dimenangkan hingga hari kiamat”.

Wartawan      : “Benar, ini semua sungguh memilukan, tetapi tidak ada yang bisa kita perbuat kecuali bersabar”.

Mujahid          : (ia terhenyak karena terkejut) Sabar ? Sabar atas apa ? Sabar atas penjajahan, pemerkosaan, penindasan dan penistaan tempat-tempat suci kaum muslimin ? Ini bukan sabar yang dikehendaki Allah, bahkan Allah pasti murka kalau kita terus seperti ini.

Wartawan      : “Lalu kesabaran seperti apa yang dicintai Allah ?

Mujahid          : “Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga : sabar di atas ketaatan kepada Allah, sabar untuk tidak bermaksiat kepada Allah dan sabar atas taqdir Allah. Adapun yang dilakukan kaum muslimin saat ini adalah sabar untuk terus bermaksiat kepada Allah bukan sabar untuk taat pada perintah Allah”.

Wartawan      : “Apakah jika aku tetap seperti ini dan hanya menunggu pertolongan Allah datang, aku termasuk di antara orang yang berdosa dan bermaksiat kepada Allah ? Apa dasar ucapanmu itu ?”

Mujahid          : “Bukan aku yang ngomong seperti itu, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Jika kamu tidak berangkat untuk berjihad, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS At Taubah 39)

Dan juga Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Tidaklah seorang muslim yang mengkhianati saudara yang saat itu sedang dilecehkan kehormatannya dan direndahkan harkat dan martabatnya, kecuali kelak di hari kiamat Allah akan meninggalkannya, di mana saat itu ia sangat membutuhkan pertolongan-Nya”. [2]

Tidak dapat kita pungkiri lagi, sikap masa bodoh kita melihat saudara-saudara kita ditumpahkan darahnya, dilecehkan kehormatannya dan diinjak-injak harga dirinya adalah pengkhianatan yang tiada terkira. Semoga Allah mengampuni kita semua atas kelalaian ini.

Wartawan      : “Amien…. Akan tetapi saudaraku, bukankah Islam adalah satu-satunya Dien yang Allah Ridhoi ? Maka Allah lah yang akan Menolong Dien Nya. Apakah usaha kita ini ada pengaruhnya ? Aku rasa sama saja, kita membela Dien Islam atau kita diam saja, Allah pasti memenangkan Dien Nya.

Mujahid          : “Bagus sekali pendapatmu. Allah lah yang akan Memenangkan Islam ini, dan kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berserah diri sesuai kehendak-Nya. Namun jangan lupa, Allah juga lah yang memerintahkan kita untuk menolong Dien nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS Muhammad 7)

Jika kita menolong Islam, pastilah Allah akan menolong kita namun sebaliknya, jika kita mengkhianati Islam, pasti lah Allah akan membinasakan kita.

Wartawan      : “Aku paham apa yang engkau katakan bahwa saat ini jihad hukumnya Fardhu ‘ain. Tapi aku belum pernah mendengar seorang ulama’ pun yang menfatwakan demikian”.

Mujahid          : “Jangan salah sangka saudaraku, bahkan para ulama salaf sejak dahulu kala telah berfatwa bahwa hukum jihad adalah fardhu ‘ain yang artinya diwajibkan atas setiap individu muslim yaitu manakala musuh telah memasuki dan merebut salah satu wilayah kaum muslimin. Sedangkan para ulama masa kini yang berfatwa demikian adalah Syaikh Asy Syahid –Insya Allah- DR. Abdullah Azzam. Beliau mengatakan : “Jihad hukumnya fardhu ‘ain sejak jatuhnya Andalusia (Spanyol) ke tangan tentara Salib”.

                        Demikian juga ulama yang lain seperti Syaikh Umar Abdurrahman, Syaikh Abu Anas Asy Syami, Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, Syaikh Aiman Adz Dzawahiri, Syaikh Abu Abdillah Usamah bin Laden, Syaikh Asy Syahid –Insya Allah- Abu Mush’ab Az Zarqowi, Syaikh Abu Qatadah Al Filishtini dan masih banyak lagi para ulama Mujahid yang karena fatwa mereka tentang jhad dan keteguhan mereka menyerukan jihad di kalangan kaum muslimin sehingga pemerintah Thaghut dan antek-anteknya memenjarakan mereka, meneror mereka bahkan beberapa di antara mereka masih mendekam di dalam penjara-penjara para thoghut itu. Semoga Allah segera membebaskan mereka… Amien.

Wartawan      : “Para ulama yang angkau sebutkan itu mempunyai pendapat dan ijtihad seperti itu, sedangkan para ulama dan syaikh-syaikh kami juga mempunyai ijtihad sendiri. Bukankah kita bebas memilih ijtihad mana saja yang sesuai dengan kami.

Mujahid          : “Tetapi mestinya kita mengikuti pendapat yang tidak hanya berdasarkan hawa nafsu saja. Kita harus tahu apa dalil para ulama Mujahid ini dan apa dasar ijtihad syaikh-syaikh yang kamu ikuti”.

Wartawan      : “Para Syaikh kami berpendapat bahwa jihad saat ini sangat membahayakan diri kita, apalagi kekuatan kita tidak sebanding dengan kekuatan musuh-musuh Islam”.

Mujahid          : Saudaraku, coba engkau cermati perkataanmu tadi lalu engkau buka lembar-lembar sejarah kejayaan Islam, siapakah yang selalu mengucapkan perkataan seperti itu ? Para shahabat yang mulia kah atau para munafiq pengecut ? Tidak diragukan lagi, itu adalah ucapan para munafiqin –semoga Allah melindungi kita dari sifat nifaq ini-.

Allah Ta’ala Berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ 

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata : “Kami takut akan mendapat bencana (bahaya).” (QS Al Maidah 52)

                        Kaum munafiq itulah yang selalu merasa ketakutan akan tertimpa bahaya atau bencana manakala mereka diperintahkan berjihad bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam.

Kaum munafiq pulalah yang menyuruh rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam dan para shahabat agar takut dan menyerah manakala kaum kafir Quraisy telah mengepung mereka sebagaimana firman Allah yang artinya : “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang (munafiq) yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia (orang kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamukarena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imron 173)

Karena itu jika aku diperintahkan agar takut kepada Amerika dan antek-anteknya, maka akan aku jawab sebagaimana para shahabat yang mulia itu telah menjawab

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Wartawan      : Kita berlindung kepada Allah dari sifat nifaq ini, tetapi para ulama itu menyatakan bahwa masih terdapat perbedaan pendapat dan perselisihan di antara jama’ah-jama’ah jihad, sedangkan kamu tidak tahu harus bergabung di bawah panji yang mana saat kamu berjihad.

Mujahid          : “Saudaraku, bukan berarti jika masih ada perbedaan pendapat atau perselisihan di antara para komandan jihad atau antara jama’ah jihadiyah kemudian menghapuskan kewajiban jihad yang sangat agung ini. Bukankah sejak dulu pun telah terjadi ikhtilaf dan perbedaan pendapat di antara para ahli ilmu (ulama’) ? Lalu apakah  semua ikhtilaf itu kemudian menghapuskan kewajibantholabul ilmi bagi setiap mukmin ? Adapun soal panji (komando) jihad, setiap mujahid pasti tahu kepada siapa seharusnya mereka memberikan ketaatannya dan berada di bawah  panji apa mestinya mereka berjihad. Hanya saja para ulama itu tidak pernah terjun langsung ke kancah jihad, lalu bagaimana mereka akan tahu kondisi sesungguhnya yang terjadi di medan jihad ?

Wartawan      : “Engkau benar saudaraku, tapi bukankah jumlah, kekuatan dan perlengkapan perang kita sangat tidak sebanding dengan kekuatan musuh-musuh Islam? Mereka amat sangat jauh lebih kuat dan lebih banyak dibandingkan kita. Inilah yang selalu menjadi alasan  para ulama kami melarang kami terjun ke kancah jihad sampai suatu saat nanti kekuatan kita telah mampu menandingi kekuatan mereka”.

Mujahid          : “Apa yang kamu katakan itu benar adanya, secara dzahirnya kekuatan para mujahid sangat jauh dibandingkan dengan kekuatan dan jumlah musuh-musuh Allah. Akan tetapi cobalah engkau cermati kembali dalam sejarah Islam, hampir semua kemenangan besar yang diperoleh para mujahidin justru di saat kekuatan mereka sangat tidak sebanding dengan kekuatan musuhnya.Bukankah Allah telah mengabadikan kemenangan sebuah kelompok kecil ini dalam firmannya :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah 249) 

                        Saat itu jumlah pasukan panglima Thalut hanya 313 mujahid namun mereka berhasil mengalahkan puluhan ribu pasukan raja Jalut dengan izin Allah. Kunci kemenangan mereka bukan pada besarnya jumlah, lengkapnya peralatan tempur atau jitunya strategi, tetapi terletak pada kesabaran mereka, besarnya tawakkal mereka kepada Allah dan tingginya keimanan mereka akan janji Allah yang akan memenangkan para pembela risalah-Nya. Mereka tak pernah berhenti berdo’a :

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah 250)

Wartawan      : Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Apa pendapatmu tentang sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam kepada seorang pemuda yang ingin berjihad namun ia justru disuruh meminta izin terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya. Lalu beliau Shollallohu ‘alaihi Wasallam mengatakan bahwa jihad yang paling utama bagi anak muda itu adalah berbakti kepada kedua orangtuanya ?

Mujahid         : “Akan aku katakan kepadamu apa yang telah difatwakan oleh para ulama, dan ini bukan pendapatku. Ketahuilah, para ulama telah sepakat bahwa hadits ini berkaitan dengan jihad di saat hukumnya fardhu kifayah, bukan saat fardhu ‘ain. Artinya, di saat kekuatan kaum muslimin telah dianggap cukup (kifayah) menghadapi musuh-musuhnya. Cukuplah aku sebutkan penjelasan  Imam Ibnu Hajar Al Asqholani tentang hadits ini dalam kitab Fathul Bari:

                        Mayoritas (jumhur)  ulama’ berpendapat bahwa jihad diharamkan bagi seseorang manakala kedua orangtuanya  atau salah satu dari mereka melarangnya. Dengan syarat : keduanya adalah muslim. Karena berbakti kepada keduanya hukumnya fardhu ‘ain sedangkan jihad (saat itu) hukumnya fardhu kifayah. Namun ketika hukum jihad telah berubah menjadi fardhu ‘ain, maka tidak diperlukan lagi izin dari mereka. Hal ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban melalui jalan periwayatan yang berbeda. Dari Abdullah bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu : “Suatu hari datang seorang laki-laki menemui Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam lalu bertanya tentang amal ibadah yang paling utama. Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam menjawab : “Sholat”. Lalu apa Ya Rasulullah ? “Jihad fi sabilillah”. Jawab Rasul. “Akan tetapi aku masih punya dua orangtua ya Rasulullah”, tanyanya lagi. Rasul menjawab : “Aku perintahkan agar engkau berbuat baik dan berbakti kepada mereka”. Lelaki itu menjawab : “Demi Dzat Yang Mengutus engkau sebagai Nabi dengan haq, sungguh aku akan berangkat berjihad dan aku tinggalkan mereka berdua”. Lalu Rasul bersabda : “Engkau lebih tahu tentang keadaanmu”.[3]

Ibnu Hajar menjelaskan : Ini berkaitan dengan jihad di saat hukumnya telah menjadi fardhu ‘ain. Kesimpulan ini berdasarkan penggabungan antara dua hadits di atas”.[4]

Saudaraku… sepertinya waktu kunjungan tahanan sudah habis. Hanya satu saja nasehat terakhirku : “Jangan sekali-kali engkau mengambil fatwa, pendapat atau nasehat tentang jihad dari ulama yang tidak pernah terjun langsung ke medan jihad sebagaimana yang telah dinasehatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Asy Syahid – kama nahsabuh- Sayyid Quthb  dan Syaikh Asy Syahid – kama nahsabuh- Abdullah Azzam”

Sampaikan salam saya untuk semua saudaraku kaum muslimin yang sedang berjihad di mana pun mereka berada “uhibbuhum fillaahi :aku sangat mencintai mereka karena Allah” dan tolong bacakan kepada mereka ayat Allah ini : 

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا  لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu  dan mereka tidak merobah (janjinya),supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS Al Ahzab 23 -24)

Bumi Allah Jumada Al Tsaniyah 1431 H

[1] HR Ahmad, Baihaqi dan Al Hakim, beliau menyatakan hadits ini shahih

[2] HR Abu Dawud, Tirmidzi, Abu Syaikh dan Imam Ahmad, dinukil juga dalam Subulus Salam oleh Imam Ash Shon’ani

[3]  Shahih Ibnu Hibban, Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadits ini Hasan

[4]  Fathul Bari juz 9 hal 208 bab Al Jihad Bi Idznil Abawain