Beranda

JAUHILAH MAKSIAT WAHAI MUJAHID (nasehat dari hamba Allah yang faqir untuk para Mujahid penolong Sunnah dan Tauhid)

Tinggalkan komentar

DIENUL ISLAM ADALAH NASEHAT 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

 “Dienul Islam adalah Nasehat”. kami bertanya : “Milik (bagi) siapakah ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : “Milik Allah, Kitab-Nya (Al Qur’an), Rasul-Nya dan juga kaum muslimin, baik  para  pemimpinnya maupun orang-orang awam”. (HR Bukhari Muslim)

Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam suri teladan kita, agar kita saling memberi nasehat  menuju ketaqwaan dan kebajikan  dan ini pula yang mendorong penulis untuk menyusun nasehat ini.

Semoga Allah mengampuni kelemahan penulis dan kekurangannya dalam memadukan antara ilmu dan amal, antara tulisan dan tindakan. Semoga nasehat ini bermanfaat bagi penulis dan keluarga khususnya, dan juga bagi kaum muslimin seluruhnya. Amien.

إِلَهِى لاَ تُعَذِّبْنىِ فإَِنِّى              مُقِرّاً بِالَّذِى قَدْ كاَنَ مِنِّى

يَظُنُّ النّاَسُ بِى خَيْراً فَإِنِّى    لَشَرُّ الْخَلْقِ لَوْ لَمْ تَعْفُ عَنِّى

فَماَ لِي حِيْلَةٌ إِلاَّ رَجاَئِيْ    وَعَفْوَكَ إِنْ عَفَوْتَ وَحُسْنَ ظَنِّي

Ya Allah….  janganlah Engkau siksa diriku  

karena aku telah mengakui segala dosa-dosaku

Manusia menyangka diriku adalah orang baik,

Padahal akulah se buruk-buruk makhluk-Mu,

 Jika Engkau tak  sudi Mengampuniku

Tak ada lagi dayaku selain mengharap rahmat dan ampunan-Mu

Serta husnudzdzon akan belas kasih-Mu

 

IMAN ADALAH KEKUATAN

Tidak sedikit dari kita yang merasa bahwa kekuatan fisik, besarnya jumlah pasukan dan canggihnya peralatan lah yang akan membuat kita menang atas musuh-musuh kita. Padahal fakta di medan jihad di berbagai belahan bumi Allah ini telah membuktikan bahwa semua itu tidak ada artinya sama sekali di depan para mujahidin yang hanya bersenjatakan perlengkapan seadanya, namun mereka memiliki kekuatan yang luar biasa : Iman dan Islam yang kuat menghunjam di dada.

Abdullah bin Rawahah Rodhiyallohu ‘anhu , salah seorang shahabat pemberani yang syahid di perang Mu’tah mengingatkan kita dari mana sesungguhnya sumber kekuatan seorang mukmin dalam membela Dienul Islam dan menegakkan Syari’ah-Nya. Beliau berkata :

“Kita berjihad melawan musuh-musuh Allah bukan dengan mengandalkan kekuatan kita, bukan pula besarnya jumlah pasukan kita, kita berperang hanya berbekal Dienul Islam yang kita pegang  sekuat tenaga dan penuh keteguhan jiwa, dengan Islam itulah Allah telah memuliakan dan memenangkan kita semua”. [1]

Nasehat ini seharusnya menyadarkan kita agar kita benar-benar memegang kuat Dienul Islam serta menjaga  syari’ah Allah melebihi kuatnya seorang mujahid memegang erat senjatanya di kala perang berkecamuk. Manakala sedikit saja kita lengah dan terlena dalam memegang Dienul Islam, saat itu juga hilang segala harapan kita untuk mendapatkan pertolongan Allah, bahkan tak akan ada lagi asa yang tersisa untuk memperoleh kejayaan dan kemenangan. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan pertolongan-Nya hanya bagi mereka yang benar-benar taat  pada syari’ah-Nya, ikhlas dalam berjuang, memenuhi semua hal yang yang menjadi syarat-syarat datangnya pertolongan, berpegang teguh pada Dienul Islam dan hanya bertawakkal kepada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (Dien)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”(QS Al Hajj 40)

Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab Rodhiyallohu ‘anhu lebih takut terhadap maksiat yang dilakukan pasukannya dibandingkan dengan besarnya jumlah pasukan musuh. Sehingga beliau selalu mengingatkan pasukannya : “Jika kita tidak memperoleh kemenangan disebabkan ketaatan kita kepada Allah, pastilah musuh-musuh kita akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka”. [2]

BALASAN MAKSIAT DATANG SECEPAT KILAT

Tidak sedikit dari kita menyangka bahwa Allah akan memberikan toleransi kepada kita manakala kita bermaksiat kepada-Nya karena merasa bahwa kita telah sekian lama berkomitmen pada Syari’ah-Nya dan tidak pernah lelah sepanjang waktu berjuang dan beramal demi tegaknya Syari’ah Allah di bumi ini. Sedangkan maksiat yang kita lakukan itu hanyalah dosa kecil yang –kita sangka- pasti akan diampuni oleh Allah. Padahal yang sebenarnya terjadi tidaklah demikian.

Saat seorang mujahid telah menganggap remeh maksiat dan dosa yang dilakukannya atau menganggap dirinya mendapatkan toleransi untuk berada dalam wilayah syubhat, sesungguhnya ia akan mendapatkan balasan maksiat itu dari Allah dengan serta merta melebihi cepatnya balasan yang ditimpakan Allah kepada orang lain. Inilah yang tidak pernah terpikir dalam benak sebagian besar ikhwah mujahid dan para aktivis penegakan syari’ah di negeri ini. Mereka terlena dengan banyak perbuatan yang sia-sia, bersenda gurau terlalu berlebihan seakan-akan masalah dan problematika umat ini bisa diselesaikan dengan senda gurau, berlarut-larut dengan perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya, merasa dirinya atau jama’ahnya lah yang paling benar dan sebagainya.

Tatkala kita bemaksiat kepada Allah, kita tidak pernah menyangka akan secepat kilat Allah membalas maksiat itu. Padahal jika kita memahami hakikat Dienul Islam, pastilah kita akan tahu bahwa Allah amat sangat “cemburu” Melihat hamba-hamba pilihan-Nya terlena dalam kemaksiatan dan syubhat, sehingga tanpa menunda waktu lagi Allah langsung mengingatkan mereka. Apalagi seharusnya mereka adalah orang-orang yang paling takut melakukan maksiat, paling jauh dari syubhat dan paling menghindari dosa-dosa, bahkan dosa kecil sekalipun. Karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengingatkan ummat agar menjauhi maksiat dan dosa-dosa, tetapi mereka justru terlena dan berkubang di dalamnya. Maka wajar lah jika balasan Allah sangat cepat bahkan melebihi cepatnya balasan yang Allah timpakan kepada musuh-musuh Islam dan orang-orang yang melampaui batas dan kufur.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang melakukan kejahatan (maksiat dan dosa), niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. (QS An Nisa’ 123)

Para shahabat menyatakan bahwa inilah ayat Al Qur’an yang paling berat bagi mereka, sebagaimana diriwayatkan  oleh Ibnu Abi Hatim bahwa Aisyah mengatakan kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bahwa inilah ayat Al Qur’an yang terasa paling berat bagi dirinya. [3]

DAMPAK MAKSIAT BAGI JIWA

Ibnul Jauzi menjelaskan tentang dampak maksiat bagi jiwa seseorang : “Dan di antara contoh keajaiban balasan maksiat di dunia adalah ketika saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam mencelakakannya serta menjualnya dengan harga yang sangat rendah, tidak berapa lama Allah menghinakan mereka dengan menjadikan mereka  peminta-minta di hadapan Yusuf, orang yang telah mereka celakakan. Al Qur’an menceritakan kisah ini : 

 Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata : Hai Al Aziz (Yusuf), kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah takaran untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf 88) [1]

kemudian Allah butakan mata hatinya dan ia menjadi berat untuk tahajjud, serta matanya sulit menghayati ayat-ayat Al Qur’an dan menangisi dosa-dosa dan sebagainya, lalu Allah hilangkan kejernihan dan kepekaan jiwanya. Atau ia dengan gampang mengkonsumsi makanan yang berasal dari , (nurani) orang itu. Atau membiarkan mulutnya mengatakan ucapan-ucapan kasar, jorok, Kadangkala balasan itu bukan bersifat fisik seperti sakit, bangkrut, bencana alam dan sebagainya tetapi justru berupa balasan maknawi. Kita saksikan betapa banyak orang yang membiarkan matanya jelalatan memandang hal-hal yang diharamkan Allah, kemudian tanpa disadarinya Allah telah mencabut cahaya-Nya dari 

Ada pula dampak yang tidak kalah berbahaya, yaitu dengan menjadikannya bergelimang maksiat, karena dosa kecil atau maksiat yang diremehkannya telah menyebabkan dirinya terseret ke jurang kemaksiatan lainnya. Sesungguhnya maksiat yang dilakukan oleh seseorang setelah ia melakukan satu maksiat adalah balasan Allah atas maksiat yang pertama.

Demikian pula orang yang merasa bahwa setelah ia melakukan maksiat ternyata tidak terjadi sesuatu pun pada dirinya, harta dan keluarganya. Sesungguhnya ia tidak sadar bahwa kelalaiannya akan balasan dari Allah adalah balasan atas dosa-dosanya.

Diriwayatkan bahwa seorang pendeta Bani Israil pernah bermunajat kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah betapa banyak aku telah bermaksiat kepada-Mu namun Engkau tidak sedikit pun menimpakan balasan atas diriku”. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yang diutus saat itu : “Katakan kepadanya : “Betapa besarnya balasan yang telah Aku timpakan kepadamu, sedangkan engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah mengharamkan bagimu manisnya beribadah kepada-Ku, sehingga engkau tak pernah lagi merasakan nikmatnya bermunajat kepada-Ku”[2]

Abu Darda’ Radhiyallohu ‘anhu berkata : “Hindarkan diri kalian dari kebencian orang-orang mukmin terhadap kalian. Tahukah kalian apa sebabnya ? Sesungguhnya jika seorang hamba Allah telah banyak berbuat maksiat kepada Rabb nya, maka Allah akan melontarkan kebencian-Nya ke dalam hati orang-orang mukmin (agar mereka benci terhadap orang itu) dengan tanpa disadari orang itu” [3]

Ketika ada yang bertanya kepada Wuhaib bin Al Warad, seorang ulama salaf  : “Apakah orang yang banyak maksiat dapat merasakan nikmatnya ibadah ? beliau menjawab : “Jangankan yang banyak bermaksiat, bahkan yang baru berniat untuk bermaksiat saja tidak akan merasakan nikmatnya ibadah”  [4]

MAKSIAT SESEORANG, BERDAMPAK BAGI KAUM MUSLIMIN SECARA KESELURUHAN

Ironisnya , dampak dari maksiat yang dilakukan oleh seseorang, bukan hanya ditimpakan Allah atas dirinya saja, tetapi juga kepada seluruh jama’ah, tandzim dan bahkan kepada  seluruh kaum muslimin. Ujian dan cobaan yang Allah timpakan kepada suatu tandzim, bukan tidak mungkin adalah sebagai akibat dari maksiat  yang dilakukan oleh segelintir orang. Semakin besar maksiat dan dosa yang dilakukan, akan semakin besar pula balasan yang Allah timpakan kepada mereka. Lebih-lebih jika yang melakukan maksiat itu adalah mereka yang diberi amanah sebagai pemimpin, atau yang dipercaya menjadi teladan bagi yang lain.

Bahkan yang sangat jarang disadari sebagai maksiat yang tidak kecil adalah sikap kita membiarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita yang justru dilakukan oleh saudara kita sesama aktifis Jihad. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS Al Anfal 25) 

Perang Uhud telah memberikan pelajaran yang amat sangat berharga kepada kita, bahwa maksiat yang dilakukan oleh sebagian kecil kaum muslimin telah menyebabkan bencana pada seluruh umat Islam. Betapa dahsyatnya dampak yang Allah perlihatkan kepada kita atas ketidak patuhan para pemanah yang diperintahkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam agar tetap pada posisi mereka di atas bukit Uhud walau apapun yang terjadi di medan tempur di bawah mereka. Meskipun jumlah mereka tidak lebih dari 4 persen dari seluruh pasukan Islam, lihatlah dampak maksiat mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Tujuh puluh shahabat pilihan gugur syahid, tubuh mereka dicincang-cincang, perut mereka dirobek-robek bahkan jantung Hamzah bin Abdul Muthallib dicabut dari tubuhnya yang suci. Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam robek pipinya dan patah beberapa giginya terkena anak panah musuh. Namun meskipun demikian Allah telah mengampuni mereka semua :

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu (agar tetap pada posisi mereka) dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (harta rampasan perang). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka (Maksudnya: kaum muslimin tidak berhasil mengalahkan mereka) untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman”.(QS Ali Imran 152)

Seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Bashri : “Bagaimana mungkin Allah akan memaafkan mereka, sedangkan perbuatan mereka telah mengakibatkan gugurnya 70 orang shahabat ?”. Beliau menjawab : “Kalau bukan karena ampunan Allah, pastilah Allah telah membinasakan mereka semuanya tanpa tersisa”. [5] 

Ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak dan balasan yang Allah timpakan kepada kaum muslimin bukan karena mereka semua bermaksiat kepada-Nya tetapi hanya karena segelintir saja dari mereka yang bermaksiat. Ternyata balasan yang Allah berikan sungguh luar biasa. Sehingga kalau bukan karena Maha Pengampun nya Allah, pastilah mereka akan dibinasakan seluruhnya tanpa tersisa (700 orang shahabat seluruhnya, bukan hanya 70 orang saja.. !!!)

Kekalahan dan gugurnya banyak shahabat seperti di perang Uhud terulang kembali pada perang Hunain. Saat itu jumlah pasukan muslimin jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pasukan musuh. Sehingga sebagian mereka begitu yakin akan memenangkan pertempuran karena tidak berimbangnya kekuatan. Mereka lupa bahwa kemenangan-kemenangan yang mereka dapatkan dalam berbagai pertempuran semata-mata karena pertolongan Allah, bukan karena yang lain. Saking yakinnya, sampai-sampai di antara mereka ada yang berkata :  “Saat ini tidak mungkin kita dapat dikalahkan karena jumlah kita begitu besar”.

Maka terjadilah peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya pada perang Uhud. Bumi yang luas seakan menjadi sempit bagi kaum muslimin, pasukan yang besar seakan tidak berarti apapun dan para shahabat pun berguguran syahid satu demi satu, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an :

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai kaum mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) akan perang Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai”. (QS At Taubah 25)

Kalau shahabat yang begitu berhati-hati terhadap syubhat dan sangat kuat memegang syari’ah-Nya pun dapat terpeleset dalam maksiat seperti ini lalu bagaimanakah dengan kita yang setiap hari bergelimang dosa bergulat dengan maksiat ? Allahul Musta’an, hanya kepada Allah lah kita sepantasnya memohon perlindungan.

BERBANGGA  DENGAN KELOMPOK : BENCANA SEBELUM DATANGNYA BENCANA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS Al Anfal 46)

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Sesungguhnya (Dien tauhid) ini, adalah Dien kamu semua, Dien yang satu, dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan Dien mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. (QS Al Mukminun 52 -53)

Ibnul Atsir menyebutkan dalam Al Kamil Fit Tarikh tentang peristiwa yang memilukan hati berikut ini :

“Pada tahun 548 Hijriyyah, pasukan kerajaan Prancis mengepung kota Asqalan, Mesir selama 40 hari 40 malam, namun ternyata penduduk kota itu tetap sabar dan istiqomah menjaga setiap sudut benteng sehingga pasukan Prancis tidak mampu menembus sejengkal pun pintu gerbang kota itu. Bahkan karena putus asa, pasukan Prancis mulai kehilangan semangat tempur mereka sehingga ketika hal itu diketahui oleh pasukan muslim, mereka pun segera mengatur strategi untuk menyergap musuh yang berkemah di perbatasan kota Asqalan. Atas pertolongan Allah, pasukan Prancis dapat dipukul mundur keluar jauh dari kota. Namun ketika mereka bergegas hendak meninggalkan Asqalan, mendadak datang berita dari mata-mata mereka bahwa kaum muslimin di dalam kota Asqalan sedang bertikai sesama mereka, hingga terjadi pertumpahan darah dan tidak sedikit yang tewas karenanya. Sungguh menyedihkan, kaum muslimin justru saling bertikai hanya gara-gara masing-masing kelompok merasa paling berjasa dala006D memukul mundur pasukan Prancis. Mereka merasa bahwa kemenangan ini adalah atas jasa kelompok mereka sedang kelompok lain hanya diam saja demikian pula yang lain merasa sebaliknya. Terjadilah perang saudara antara kaum muslimin di kota Asqalan dan akhirnya……. dengan mudah pasukan Prancis menaklukkan kota itu dan menjajahnya hingga berabad-abad”. [6] 

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai bashiroh(nurani)”. (QS Al Hasyr 2)

NASEHAT PARA SHAHABAT  RODHIYALLOHU ‘ANHUM TENTANG MAKSIAT

– Ali Bin Abi Thalib Rodhiyallohu ‘Anhu

“Semua yang halal (mubah) di dunia ini, kelak di akhirat akan diperhitungkan hisabnya, sedangkan yang haram, pasti akan mendapatkan azab atasnya”. [7]

Jika yang halal (mubah) pun kelak akan dihitung oleh Allah, Sang Maha Pembalas amal dan dosa, lalu bagaimana pula dengan yang syubhat apalagi yang haram dari ucapan kita, tingkah laku kita, makanan, minuman, pakaian dan rizki yang kita peroleh ? Padahal menghadapi audit dari manusia saja banyak orang sudah ketakutan akan terbongkar kecurangannya, apalagi di hadapan Yang Maha Melihat, Yang Maha Mengetahui. Allahul Mus’taan.

– Abdullah Bin Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma

          “Wahai orang yang berbuat dosa, janganlah engkau merasa aman dari dosa-dosamu. Ketahuilah bahwa akibat dari dosa yang engkau lakukan, adalah jauh lebih besar dari dosa dan maksiat  itu sendiri”.

          “Ketahuilah bahwa hilangnya rasa malu kepada malaikat yang menjaga di kiri kananmu saat engkau melakukan dosa dan maksiat, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Sesungguhnya ketika engkau tertawa saat melakukan maksiat sedangkan engkau tidak tahu apa yang akan Allah lakukan atas kamu, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Kegembiraanmu saat engkau melakukan maksiat yang menurutmu menguntungkanmu, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Dan kesedihanmu saat engkau tidak bisa melakukan dosa dan maksiat yang biasanya engkau lakukan, adalah jauh lebih besar dosanya dosanya dari dosa dan maksiat  itu”.

          “Ketahuilah bahwa perasaan takut aib dan maksiatmu akan diketahui orang lain, sedangkan engkau tidak pernah merasa takut dengan Pandangan dan Pengawasan Allah, adalah jauh lebih besar dosanya dari aib dan maksiat  itu”.

          “Tahukah engkau apa dosa Nabi Ayyub sehingga Allah mengujinya dengan sakit kulit yang sangat menjijikkan selama bertahun-tahun, ditinggalkan keluarganya dan habis harta bendanya ? Ujian Allah itu hanya disebabkan karena seorang miskin yang didzalimi datang meminta bantuan kepadanya, tetapi Nabi Ayyub tidak membantunya”. [8]

 

– Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘anhu

Saat beliau menderita sakit sebelum beliau wafat, para shahabat beliau menjenguknya seraya bertanya :

Wahai Abu Darda’ sakit apa yang engkau rasakan saat ini ? Beliau menjawab : “aku merasakan sakit yang amat sangat akibat dosa-dosaku”. Para shahabat beliau bertanya lagi : “Lalu apa yang engkau inginkan saat ini ?” Beliau menjawab : “Hanya ampunan dari Rabb ku yang aku harapkan saat ini”.

Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘anhu salah seorang shahabat yang terkenal sangat zuhud terhadap dunia dan sangat takut berbuat maksiat, merasa kesakitan di saat sakaratul maut akibat dosa-dosanya dan hanya satu yang diharapkannya yaitu maghfiroh dari Allah, lalu bagaimana dengan kita yang tidak pernah melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap semua dosa dan kesalahan kita ?

– Syidad Bin Aus Rodhiyallohu ‘anhu

Ubadah bin Nasyi meriwayatkan : “Suatu hari aku menemui Ubadah Bin Aus di tempat ia biasa sholat, aku dapati ia sedang menangis tersedu-sedu. Lalu aku bertanya : “Wahai Abu Abdurrahman, apa yang telah membuatmu menangis ?”. Beliau menjawab : “Aku menangis karena teringat hadits Rasulullah, suatu hari aku bersama beliau, tiba-tiba aku lihat perubahan raut  wajah beliau, lalu aku bertanya : “Ya Rasulullah, apa yang membuatmu mengerutkan wajahmu ?”. “Aku takut terhadap perkara yang akan terjadi pada ummatku sepeninggalku”. Jawab Rasulullah. “Apakah perkara itu ya Rasulullah ?”. “Syirik dan syahwat yang tersembunyi (kecil)”. Jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi : “Ya Rasulullah, apakah umatmu akan berbuat syirik sepeninggalmu ?”. “Wahai Syidad, mereka mungkin tidak menyembah matahari, bulan, berhala atau batu, tetapi mereka memamerkan amal ibadah mereka di hadapan manusia (riya’)”. Aku bertanya : “Ya Rasulullah, apakah riya’ termasuk syirik ? “Ya”, jawab beliau. “Lalu apakah yang dimaksud dengan syahwat yang tersembunyi”, tanyaku lagi. “Yaitu ketika seseorang telah berniat puasa sunnah di pagi hari, lalu di siang hari ia melihat berbagai macam godaan syahwat dunia (makan, minum, jima’ dsb –pen-)  lalu ia membatalkan puasanya. (Hadits Hasan Shahih Riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak) 

 

Riya’ dan syahwat kecil telah membuat Syidad bin Aus Rodhiyallohu ‘anhu menangis tersedu-sedu, sedangkan kita justru sebaliknya, ghibahnamimah (adu domba) fitnah, dusta dan maksiat lainnya malah membuat kita tertawa-tawa gembira.

– Umar Bin Khattab Rodhiyallohu ‘anhu

“Bermuhasabah lah kalian (menghitung-hitung kesalahan dan dosa) sebelum datang yaumul hisab (hari perhitungan amal), timbanglah amal kalian sebelum ditimbang Allah, dan bersiap-siaplah kalian akan datangnya hari di mana semua perbuatan akan diperlihatkan dan tidak ada satu pun yang tersembunyi, lalu beliau membaca ayat “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabb-mu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS Al Haqqah 18)[9] 

 

Diriwayatkan bahwa Umar selalu memukul-mukul badannya setiap kali beliau mengingat dosa-dosanya. [10]

CUKUPLAH SAKARATUL MAUTNYA RASULULLAH SEBAGAI IBROH BAGI KITA

Diriwayatkan dari Aisyah Rodhiyallohu ‘anha bahwa menjelang wafatnya, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya ke dalam bejana yang diisi air lalu diusapkan ke wajahnya seraya bersabda : “La Ilaaha Illallah, sungguh setiap kematian akan merasakan pedihnya sakaratul maut”.

Aisyah Rodhiyallohu ‘anha mengatakan : “Sungguh aku belum pernah menyaksikan orang merasakan kesakitan melebihi rasa sakit yang dialami Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut beliau”. (HR Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah) [11]  

Jika kekasih Allah -yang atas izin Allah beliau akan memberikan syafa’at udzma kepada seluruh ummat manusia, yang di tangannya kunci surga, yang ma’shum dan diampuni seluruh dosa yang telah lalu dan yang akan datang- merasakan sakitnya sakaratul maut, bahkan belum pernah ada rasa sakit yang dilihat oleh Aisyah melebihi rasa sakit yang dialami Rasulullah saat maut menjemput beliau, lalu bagaimana dengan kita ? Hamba yang lemah, sombong dan bergelimang dengan dosa ini ??

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَحَبِيْبِناَ وأُسْوَتِناَ وَعَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، عَدَدَ خَلْقِكَ وَرِضَى نَفْسِكَ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ، وَمِدَاد كَلِمَاتِك، وَسَلِّمَ تَسْليِْماً كَثيِْراً.

“Ya Allah limpahkanlah sholawat atas pemimpin kami, kekasih kami, teladan kami, hamba dan Rasul-Mu Muhammad sebanyak makhluk ciptaan-Mu, sebesar Ridho-Mu (kepadanya), sholawat yang menjadi hiasan Arsy-Mu, dan sebanyak limpahan kasih sayang-mu dalam tanda-tanda kebesaran-Mu, dan limpahkanlah keselamatan yang tiada batasnya atas beliau”.

اَلَّلهُمَّ إِلَيْكَ نَشْكُو ضُعْفَ قُوَّتِناَ.. وَقِلَّةَ حِيْلَتِناَ.. وَهَوَانَناَ عَلىَ النَّاسِ.. أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَأَنْتَ رَبُّناَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ  

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadukan lemahnya kekuatan kami, sedikitnya daya upaya kami dan betapa rendahnya kami di hadapan manusia (karena dosa-dosa kami). Engkaulah Rabb orang-orang yang teraniaya, Engkaulah Rabb kami dan Engkaulah Yang Maha Pengasih di antara yang mereka-mereka yang mengasihi”.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tidak ada Ilaah yang berhak diibadahi kecuali Engkau, aku memohon ampunan dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu”


Bumi Allah akhir Dzulhijjah 1430 H

hamba yang lemah yang mencintai saudara-saudaranya karena Allah

Abu Izzuddin

==================================

FOOTNOTES

[1]  Shoidul Khotir Halaman 73

[2]  Hilyatul Au;iya’  karangan Al Hafidz Abu Nuaim Al Ishfahani Juz 10 halaman 168

[3]  Hilyatul Au;iya’  karangan Al Hafidz Abu Nuaim Al Ishfahani Juz 1 halaman 215

[4]  Fathul Bari, Kitabul Iman : Ibnu Rajab juz 1/23, Hilyatul Auliya’ Juz 8 hal 144, Syu’abul Iman Al Baihaqi juz 5 hal 447

[5]  Risalah Ila Kulli Man Ya’malu Lil Islam : DR. Najih Ibrahim, Mimbar Tauhid Wal jihad

[6]  Disarikan dari Al Kamil Fit Tarikh Ibnul Atsir juz 4 halaman 363

[7]  Tafsir Ar Razi juz 12 hal 332

[8]  Suwar min Hayatis Shohabah jilid 3 hal 60 – 61

[9]  Tafsir Ibnu Katsir juz I hal 134

[10]  Tafsit At Tasturi juz I hal 210

[11]  Fathul Baari juz 12 hal 261

Iklan

KAMILAH YANG TELAH BERBAI’AT KEPADA MUHAMMAD UNTUK TERUS BERJIHAD SELAMA NYAWA MASIH DI KANDUNG JASAD

Tinggalkan komentar

Hari itu udara sangat dingin menusuk tulang, rasa lapar mendera Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabat di tengah kekhawatiran akan  datangnya musuh yang setiap saat dapat menyerang, para shahabat bahu membahu menggali parit perlindungan di sekeliling Madinah sebagaimana usulan Salman Al Farisi Radhiyallohu ‘anhu . Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan setiap sepuluh orang shahabat agar menggali sepanjang 40 hasta (-+ 30 meter).

Saat itu musuh yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu pasukan koalisi (Ahzab) tengah mengepung kota Madinah. Tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali mempertahankan Madinah sampai titik darah penghabisan.  Dalam kondisi yang demikian mencekam ini, Rasulullah dan para shahabat beliau  masih dibayang-bayangi rasa khawatir akan adanya kemungkinan pengkhianatan kaum Yahudi Bani Quraidhah yang saat itu tinggal di dalam kota Madinah dan mengikat perjanjian damai dengan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Saking dinginnya udara dan kuatnya deraan rasa lapar,  tidak sedikit dari para shahabat yang mengganjal perut mereka dengan batu yang diikatkan ke perut mereka. Bahkan Rasulullah pun melakukan hal yang sama. Beratnya rasa lapar ini dikisahkan oleh Anas bin Malik yang saat itu ikut menggali parit :

“Mereka hanya memiliki sebanyak dua telapak tangan gandum yang mereka masak hingga mengembang lalu mereka letakkan di atas nampan kemudian dikelilingkan di antara mereka agar mereka dapat mencium baunya dan sedikit menghikangkan rasa lapar mereka”(HR Bukhari)  Allahu akbar walillahil hamd…!!!

Namun demikian, semua itu tidak mengurangi ketaatan dan semangat mereka menggali parit perlindungan di sekeliling Madinah sebagaimana diperintahkan oleh panglima perang dan amir mereka Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Menyaksikan itu semua, Rasulullah berdo’a kepada Allah :

اللَّهُمَّ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الآخِرَهْ        فَاغْفِرْ لِلأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ

“Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirah (akhirat),

maka ampunilah dosa kaum Anshar dan Muhajirah (Muhajirin)”.

Mendengar do’a Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam serta merta para shahabat Anshar dan Muhajirin menjawab dengan serempak :

نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدًا          عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدًا

“Kamilah yang telah berbai’at kepada Muhammad  

Untuk terus berjihad selama nyawa masih di kandung jasad”.

(Shahih Bukhari juz 10 hal 257, Ar Rakhiqul Makhtum hal 269, Shiroh Ibnu Katsir juz 3 hal 184)

Melihat kondisi kaum muslimin yang sudah terkepung sekian lama di dalam kota Madinah, sehingga kelaparan mulai menyiksa hampir seluruh penduduk Madinah, sementara di saat yang sama, kaum Yahudi Bani Quraidzah dan Bani Ghathafan sudah nyata-nyata mengkhianati Rasulullah dan membantu kaum musyrik Quraisy, maka Rasulullah berusaha keras mencari siasat dan taktik yang jitu untuk mengalahkan pasukan koalisi tersebut. Beliau lalu memanggil para shahabatnya untuk bermusyawarah.

Maka berdiri lah Nuaim bin Mas’ud bin Amir, salah seorang dari Bani Ghathafan yang sudah masuk Islam namun tidak ada seorang pun dari kaumnya yang mengetahui keislamannya. Mereka mengira Nuaim masih beragama yahudi dan mendukung pengkhianatan mereka terhadap Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Dengan keadaannya yang demikian ini Nuaim Radhiyallohu ‘anhu ingin melakukan strategi memecah-belah kekuatan musuh. Ia berkata kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam :

“Ya Rasulullah, kini aku sudah masuk Islam (sedangkan mereka tidak tahu tentang hal ini) maka perintahkan kepadaku apapun  yang engkau mau (demi kemenangan Islam)”.

Rasulullah bersabda :

“Wahai Nuaim, engkau hanya seorang diri (di tengah-tengah ribuan musuh) maka lakukanlah tipu muslihat dan strategi apapun yang bisa engkau lakukan demi kemenangan kita, sesungguhnya perang ada tipu muslihat”.

Nu’aim bin Mas’ud pun  bergegas  pergi menemui kaum Yahudi bani Quraidzah, yang belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam. Pada zaman jahiliyah ia bergaul rapat sekali dengan mereka. Diingatkannya kembali hubungan dan persahabatan mereka masa dahulu itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah mendukung suku Quraisy dan Ghathafan dalam menghadapi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, sedangkan suku Quraisy maupun Ghathafan mungkin tidak akan tahan lama tinggal di tempat itu. Kedua kabilah ini tentu akan berangkat pulang, dan mereka akan ditinggalkan sendirian menghadapi kaum muslimin yang tentunya nanti akan menghajar mereka pula. Oleh karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau ikut golongan itu sebelum mendapatkan sandera beberapa orang dari pimpinan mereka sebagai jaminan dari kedua suku itu. Dengan demikian Quraisy dan Ghathafan tidak akan meninggalkan mereka. Kaum Yahudi bani Quraidzah merasa puas dengan keterangan Nu’aim bin Mas’ud tersebut.

Selanjutnya Nu’aim bin Mas’ud pergi lagi menemui para pembesar suku Quraisy dengan membisikkan, bahwa sebenarnya pihak Bani Quraidzah merasa menyesal sekali atas tindakannya melanggar perjanjian dengan Muhammad dan pengikutnya dan bahwa mereka sekarang berusaha hendak mengambil hati Muhammad dan mengadakan perjanjian damai lagi dengan jalan hendak menyerahkan pemimpin-pemimpin Quraisy kepadanya untuk dijadikan sandera atau dibunuh. Oleh karena itu lalu disarankannya, bahwa bilamana nanti pihak Yahudi Bani Quraidzah mengutus orang meminta beberapa orang pemimpin Quraisy untuk dijadikan jaminan, jangan dikabulkan, karena sebenarnya mereka akan diserahkan kepada Muhammad dan pengikutnya.

Seperti halnya terhadap Quraisy, kemudian Nu’aim melakukan hal yang sama pula terhadap Bani Ghathafan. Keterangan Nu’aim ini telah menimbulkan keraguan dalam hati para pemimpin suku Quraisy dan Bani Ghathafan.

Maka para pembesar musyrikin Quraisy pun segera berunding. Abu Sufyan lalu mengutus orang menemui pemimpin Bani Quraidzah dengan pesan : “Kami sudah cukup lama tinggal di tempat ini dan mengepung Muhammad dan para pengikutnya. Menurut pendapat kami, besok pagi kalian harus sudah menyerbu Muhammad dan kami dibelakang kalian.”

Tetapi utusan Abu Sufyan itu kembali dengan membawa jawaban dari pemimpin Bani Quraidzah :“Besok adalah hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun.”

Serasa tersentak, Abu Sufyan naik pitam. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan kepada pihak bani Quraidzah : “Cari Sabtu-sabtu  lain saja sebagai pengganti Sabtu besok, sebab besok Muhammad harus sudah diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak ikut serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya bubar, dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum Muhammad.”

Pernyataan Abu Sufyan itu oleh kaum Yahudi Bani Quraidzah tetap dijawab dengan mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Allah karena telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan mereka itu.

Mendengar permintaan semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi akan keterangan yang telah diberikan Nu’aim itu. Terpikir olehnya sekarang apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini dibicarakan dengan pihak Bani Ghathafan ternyata mereka juga masih ragu-ragu hendak memerangi Muhammad dan pengikutnya. Mereka sebenarnya sudah mulai jemu dan kelelahan, karena begitu lama mereka mengadakan pengepungan dengan segala jerih payah yang mereka hadapi selama itu. Mereka melakukan semua ini hanya karena memenuhi ajakan Huyayy bin  Akhtab dan orang-orang Yahudi yang menjadi pengikutnya. Di samping itu mereka juga sudah mulai terpengaruh dengan janji yang pernah diberikan Muhammad kepada mereka, bahwa sepertiga hasil perkebunan kota Madinah nanti untuk mereka dengan syarat mereka mau berhenti melakukan pengepungan dan kembali ke kampungnya.

Sebagai salah satu strategi memecah belah kekuatan musuh, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam memang telah mengirimkan utusan kepada kaum Yahudi Bani Ghathafan yang menjanjikan sepertiga hasil perkebunan Madinah untuk mereka jika mereka mau menghentikan pengepungan. (Zaadul Ma’ad juz 3 hal 240, Ar Rakhiqul Makhtum hal 271, Shiroh Ibnu Katsir juz 3 hal 214, Shiroh Ibnu Hisyam juz 2 hal 228)

Hingga sampailah di suatu malam yang gelap gulita di mana seseorang tak lagi dapat melihat tangannya sendiri. Udara begitu dingin luar biasa disertai angin badai yang bertiup kencang serasa hendak menyapu apapun yang di depannya, Rasulullah mengumumkan sebuah  tawaran tiket menuju surga Firdaus bersama beliau Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Sebagaimana dikisahkan oleh Shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman, beliau bersabda :

“Siapa di antara kalian yang bersedia menyelinap dan menyusup ke dalam pasukan Ahzab lalu melaporkan keadaan mereka kepadaku ? Tapi dengan satu syarat, ia harus kembali kepadaku apapun yang terjadi. Niscaya aku akan meminta kepada Rabb-ku agar ia menjadi teman karibku nanti di surga Firdaus” 

Namun tak seorang pun di antara shahabat beliau yang beranjak dari tempat duduknya menyambut tawaran beliau Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, karena suasana yang amat sangat mencekam dan kelaparan yang hampir-hampir tidak dapat lagi tertahankan.

Melihat tidak ada satu pun yang berdiri, Rasulullah lalu memanggilku (Hudzaifah), rasanya tidak ada alasan buatku untuk menolak panggilan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Beliau bersabda :“Wahai Hudzaifah pergilah engkau dan menyusup ke dalam pasukan Ahzab lalu laporkan keadaan mereka kepadaku dan ingat, jangan melakukan tindakan apapun sampai engkau menemuiku kembali”.

Akhirnya Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallohu ‘anhu pun  menyusup ke tengah-tengah musuh demi melaksanakan perintah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam walaupun dalam situasi dan kondisi yang sangat sulit dan penuh bahaya.

Hudzaifah melanjutkan : “Saat itu aku sudah berada di tengah-tengah pasukan Ahzab, sementara angin dan badai mulai menghebat. Tentara Allah itu memporak-porandakan periuk dan peralatan makan mereka. Demikian pula api unggun dan kemah mereka telah berantakan rata dengan tanah.Abu Sufyan bin Harb (panglima pasukan Ahzab) berkata, : “Wahai kaum Quraisy, hendaknya setiap orang dari kalian melihat siapa teman duduk di sebelahnya”.

Hudzaifah melanjutkan ceritanya : “(sebelum didahului pertanyaan) Aku segera memegang tangan orang di sebelahku dan bertanya, ‘Siapa kamu?’ Dia berkata : ‘Saya Fulan bin Fulan.’ Kemudian Abu Sufyan berkata : ‘Wahai sekalian Quraisy, demi Allah, sesungguhnya kalian tidak berada di tempat yang aman. Perbekalan kita telah musnah, sedangkan Bani Quraizhah telah mengkhianati kita. Sudah sampai kepada kita berita yang tidak kita sukai. Dan kitapun dihantam oleh angin kencang ini seperti yang kalian lihat. Demi Allah, periuk tidak lagi tempatnya, api unggun juga sudah padam semuanya, tenda-tenda kita roboh berserakan, maka pulanglah kalian. Karena sesungguhnya aku juga akan pulang”.

Abu Sufyan menghampiri untanya yang tertambat, lalu duduk di atasnya. Setelah itu dia memukulnya hingga unta itu bangkit seiring dengan lepasnya tali ikatan. Pasukan Ahzab pimpinannya juga lari tunggang langgang dengan kekalahan. 

Hudzaifah lalu berkata : “Kalau bukan karena janjiku kepada  Rasulullah  agar jangan berbuat sesuatu sampai aku menemui beliau, tentu aku akan memanahnya sampai mati.”

“Kemudian aku kembali menemui Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam yang sedang shalat dengan kain selimut bergaris milik salah seorang istrinya. Melihat kedatanganku, beliau memasukkan aku ke dalam kemahnya dan menghamparkan ujung selimut itu untukku, sementara beliau masih melanjutkan rukuk dan sujudnya. Setelah selesai salam, aku pun menceritakan hasilnya kepada beliau.” (Musnad Ahmad juz 5 hal 392, Shiroh Ibnu Katsir juz 3 hal 218, Shiroh Ibnu Hisyam juz 2 hal 231, Umdatul Qaari Syarah Shahih Bukhari juz 21 hal 303)

MENGAPA HANYA JIHAD ?

Tinggalkan komentar

MENGAPA HANYA JIHAD SATU-SATUNYA SOLUSI ?

Menegakkan Dienul Islam adalah kewajiban setiap muslim tidak terkecuali. Karenanya, tidak ada satupun individu muslim yang dapat mengelak dari tanggung jawab menegakkan Syari’ah Allah dan Kalimah-Nya di muka bumi ini. Allah Ta’ala Berfirman :

Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Ad Dien, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah Ad Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. .!!” Amat berat bagi orang-orang musyrik Dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS Asy Syuraa 13)

Namun demikian banyak sekali kerancuan yang muncul tentang cara dan tahapan yang harus dilakukan untuk mewujudkan tegaknya Dienul Islam dan Syari’ah Allah di atas bumi ini. Bahkan tidak sedikit dari kaum muslimin yang akhirnya terjerumus ke dalam perangkap musuh-musuh Allah dan bergelimang dalam lumpur kemusyrikan dan kekufuran Demokrasi.

Tidak sedikit pula yang terlena dalam lembah kesesatan tasawwuf dan aliran sufisme. Ada juga yang kemudian melarang para pemuda untuk berjihad karena mereka belum melalui tahapan Tarbiyah dan Tashfiyyah (pendidikan dan pembersihan hati), atau belum cukup ilmu syari’ah yang dipahaminya atau fiqh jihad yang dipelajarinya.

Berikut adalah penjelasan  mengapa hanya jihad yang bisa mengembalikan kejayaan umat ini dan menegakkan syari’ah Allah di muka bumi ini ?

1.      Karena hanya Jihad yang bisa mengangkat kehinaan yang tengah menimpa umat ini

Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ (قال المناوى : بسند حسن رواه أحمد و أبو دادود و البيهقى

“Jika kalian telah kembali berjual beli dengan baiul inah (riba), kalian ikuti ekor sapi (menjadi peternak), kalian lebih merasa senang dengan bercocok tanam lalu kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, pastilah Allah akan timpakan kehinaan atas kalian yang tidak mungkin bisa diangkat kecuali kalian kembali kepada Dien kalian” (Hadits Hasan Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Al Baihaqi)

Yang dimaksud dengan Dien dalam hadits ini adalah Jihad, karena sholat, zakat, puasa, haji dan dzikir tidak akan mampu mengangkat umat ini dari kehinaan. Semua ibadah ini memang merupakan bagian dari Ad Dien dan mempunyai peran penting dalam melenyapkan kehinaan ini tetapi sesungguhnya kehinaan, keterpurukan dan kenistaan  ini hanya bisa dihilangkan dengan cara melenyapkan sebab terjadinya kehinaan itu sendiri : yaitu karena umat Islam telah meninggalkan jihad sebagaimana dengan jelas disebutkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam hadits lain juga disebutkan :

Tidaklah suatu kaum meninggalkan Jihad kecuali Allah akan timpakan kehinaan atas mereka” [1]

Karena itu jika masih ada yang mencari jalan lain untuk menegakkan Dienul Islam, sungguh ia telah melakukan kesalahan besar.

2.      Karena Jihad adalah Kehidupan  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada “sesuatu yang akan menghidupkan kamu” (QS Al Anfal 24)

 yang dimaksud “sesuatu yang akan menghidupkan kamu”  adalah jihad

Hidup tidak di bawah naungan Islam, sesungguhnya adalah kematian, dan yang akan membuatnya hidup kembali adalah dengan jihad, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas.

3.      Karena Jihad adalah pemenuhan janji kita kepada Allah, dan janji adalah hutang 

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur (syahid). Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”(QS Ahzab 23)

Menepati janji kepada Allah dalam ayat ini hanya ada dua pilihan : berjihad hingga ia gugur syahid atau tetap sabar, konsisten, tsabat, istiqomah dan tidak mundur selangkah pun dari jalan Jihad ini, seberat apapun resiko yang harus ditanggung.

4.      Karena Al Jannah (surga) amat mahal harganya

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad  di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya” (QS Ali Imron 142)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS Al Baqarah 214) 

Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan keluhan beberapa shahabat Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wasallam karena beratnya teror, tekanan dan siksaan yang mereka alami. Lalu Rasulullah bersabda :

“Sungguh orang-orang sebelum kalian telah mengalami siksaan yang jauh lebih pedih, ada yang dikubur hidup-hidup dalam tanah, ada yang tubuhnya digergaji hingga terbelah dua, ada juga yang kulitnya disisir dengan sisir besi hingga kulitnya mengelupas dari tulangnya, akan tetapi semua itu tidak mampu membuat mereka mundur dari membela Dienullah. Demi Allah, urusan ini (Dien Allah) pasti akan mendapatkan kemenangan sehingga seseorang yang berjalan antara Shan’a dan Hadramaut tidak sedikit pun merasa takut selain kepada Allah, demikian pula ia tidak takut kambing gembalaannya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang tergesa-gesa” (HR. Bukhari) [2]

Jika para shahabat yang sudah teruji keteguhan imannya, kesabarannya dan kesungguhannya dalam membela syari’ah Allah saja dikatakan tergesa-gesa dan tidak sabar, lalu bagaimana dengan mereka yang tanpa malu-malu mengatakan bahwa cara yang paling rasional, sesuai dengan zaman dan tidak membahayakan ummat adalah terlibat dalam demokrasi, parlemen dan partai politik ? Allahul musta’an.

5.      Karena yang ditunggu-tunggu seorang mukmin sejati hanya dua pilihan (Hidup Mulia Atau Mati Syahid) 

“Katakanlah : “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS At Taubah 52)

6.      Karena kita telah  menjual semua yang kita miliki –jika kita mengaku sebagai mukmin-, dan Allah lah yang membelinya.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS At Taubah 111)

Syaikh Asy Syahid –insya Allah- Abu Mus’ab Az Zarqowy Rahimahullah menjelaskan  “Jika pembeli telah menerima barang dagangan, maka terserah Dia mau diapakan dagangan tersebut. Terserah mau Dia letakkan di mana; kalau Dia berkehendak akan diletakkan-Nya di istana, kalau Dia berkendak akan diletakkannya di penjara, kalau Dia berkehendak akan diberinya pakaian paling gagah, kalau Dia berkehendak akan menjadikannya telanjang kecuali sebatas penutup aurat, kalau Dia berkehendak akan menjadikannya kaya, kalau Dia berkehendak akan dijadikannya fakir miskin, kalau Dia berkehendak akan dijadikanya tergantung di tiang gantungan, atau menjadikan musuh menguasainya lantas membunuh atau mencincangnya.”  [3]

7.      Karena Jihad adalah Furqon (pembeda) antara mukmin dan munafiq serta manhaj Allah dalam memilih kader pembela Dien-Nya 

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang (golongan munafik) yang dikatakan kepada mereka,”Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sholat dan tunaikan zakat !” Maka setelah diwajibkan kepada mereka berperang (Jihad), tiba-tiba sebahagian dari mereka takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata : “Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (QS An Nisa’ 77)

Sebelum datangnya perintah qital (jihad) semua orang mengaku paling berani dalam jihad, paling merindukan mati syahid dan sebagainya, tetapi saat perintah jihad itu telah diturunkan, ternyata tidak sedikit yang berguguran di tengah jalan, bahkan memusuhi jihad dan mujahidin.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala Berfirman :

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah 249)

Syaikh Mujahid Abu Qatadah Al Filishthiny menjelaskan tentang ayat ini :

Jika ada ulama yang mensyaratkan bahwa untuk berjihad, seseorang harus melalui tahapan tarbiyyah dan tashfiyyah dulu, atau harus hafal dulu 40 hadits Rasul, atau kekuatan jama’ahnya harus sepadan dengan musuh-musuh Allah, atau harus menunggu izin dari ulil amri (menurut mereka) maka ketahuilah bahwa semua syarat itu tidak pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Apakah Thalut mensyaratkan ini dan itu kepada pasukannya sebelum mereka berangkat jihad ataukah syarat itu justru disampaikannya saat pasukannya tinggal selangkah lagi bertemu dengan musuh ?

Inilah hikmah yang sangat besar dari kisah Thalut dan pasukannya, di mana seorang pimpinan baru bisa melihat kesungguhan tekad, keteguhan niat, ketsabatan pasukannya dan kesabaran mereka menghadapi cobaan, teror dan ujian setelah mereka berhadap-hadapan dengan musuh-musuh Allah.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang pemimpin baru bisa memahami umat yang dipimpinnya ketika ia terjun langsung bersama-sama dengan mereka dalam kecamuk pergolakan jihad dan penegakan syari’ah Allah, bukan hanya dari balik meja kerja atau dari dalam bilik perpustakaannya, atau dari balik meja mengajarnya”. [4]

Dalam Tafsir At-Thobary disebutkan bahwa sebelum berangkat ke medan jihad, pasukan Thalut berjumlah 80.000 mujahid. Kemudian Thalut menerangkan kepada pasukannya bahwa Allah akan menguji mereka dengan sebuah sungai yang akan mereka lewati,  mereka tidak boleh meminumnya kecuali seteguk dua teguk.  Namun pada akhirnya ketika mereka benar-benar menemui sungai itu, sebagian besar mereka lupa dan meminum airnya dengan puas.  Hingga mereka tidak bisa mengikuti Thalut berperang melawan pasukan Jalut.  Dan jumlah pasukan yang taat kepada Thalut hanya sekitar 4.000 mujahid, dalam riwayat yang lain sejumlah 300 mujahid lebih belasan, dari jumlah 80.000 pasukan Thalut.

Namun yang paling kuat adalah riwayat yang menyatakan bahwa pasukan yang mengikuti Thalut sama dengan jumlah pasukan Badar, yaitu 300 lebih belasan.  Sebagaimana dalam riwayat Al Barra’ bin Azib, beliau berkata :

أن عِدَّةُ أَصْحَابُ بَدْرٍ عَلىَ عِدَّةِ أَصْحَابُ طَالُوْت الذين جَاوَزُوا النَهَرَ مَعَهُ، وَلمَ يُجَاوَزُ مَعَه إِلاّّّ مُؤْمِن: ثَلاَثُمِئَة وَبِضَعَة عَشَرَ رَجُلاً.

Artinya : “Bahwasannya jumlah Ashabu (pasukan) Badar atas (sama dengan) jumlah pasukan Thalut, yaitu sejumlah orang-orang yang melewati sungai bersamanya, dan tidaklah mereka melewati sungai itu, kecuali mereka termasuk orang mukmin ; yaitu 300 lebih belasan pasukan (mujahid).” [5]

Jadi kalau pasukan Thalut jumlahnya 80.000 mujahid dan yang ikut berperang bersama Thalut hanya 300 lebih belasan mujahid, maka sisanya sejumlah 79.680-an sekian mujahid terjebak dengan ujian sungai, kemudian terlena dan mereka tidak termasuk orang-orang mukmin. Lahaula wala quwwata illaa billah!! Berapa persen jumlah pasukan 300 lebih sedikit dibandingkan 79.680 pasukan ? Kurang dari 1 % nya, Allahu Akbar !!!

Sungguh indah apa yang dikatakan Sayyid Quthb Rahimahullah ketika mengomentari firman Allah :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya :“ Betapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah dan allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 249)

Beliau berkata, “Ayat ini adalah kaidah dalam perasaan orang-orang yang yakin bahwa mereka pasti akan berjumpa dengan Allah, kaidah ini menyatakan bahwa kelompok orang-orang beriman itu sedikit, sebab kelompok inilah yang bisa menapaki tangga ujian yang berat hingga puncaknya, sehingga mereka mencapai predikat sebagai pasukan pilihan. Meski sedikit, tapi merekalah yang menang, sebab mereka memiliki kontak dengan sumber segala kekuatan, dan mewakili kekuatan yang pasti menang; yaitu kekuatan Allah yang pasti memenangkan urusan-Nya, Dzat Yang Maha Pemaksa di atas hamba-hamba-Nya, yang menghancurkan orang-orang bengis, menghinakan orang-orang dzolim, dan menundukkan orang-orang yang sombong.”

Dalam riwayat Imam Bukhori sebagaimana riwayat yang lain, di sebutkan (dalam menafsirkan ayat 249 Surat Al-Baqarah) …

وَلمَ يُجَاوَزُ مَعَه إِلاّّّ مُؤْمِن

“Dan tidaklah melewati (sungai) itu bersama (Thalut), kecuali (statusnya) sebagai mukmin,” [6]

Di sini jelas sekali para mujahidin yang telah bertekad berjihad di jalan Allah bersama pemimpin mereka yaitu Thalut, namun kemudian terlena, lupa dan tenggelam dengan ujian (kenikmatan) sungai.  Maka Rasulullah menghukumi mereka sebagai orang yang bukan mukmin.   Karena  itu, perhatikanlah hal ini wahai saudara-saudaraku para mujahid..!!

Tidak ada musibah bagi seorang mujahid yang lebih besar melebihi hilangnya status mukmin dalam dirinya, ini adalah hal yang sangat serius, bukan hal remeh temeh.  Ingatlah wahai saudaraku, hal ini berkaitan dengan ketaatan pada syariat Allah, bahwa Allah mewajibkan kaum mukminin berjihad di jalan-Nya.  Baik ringan atau berat, baik kaya maupun miskin, baik sibuk ataupun lapang, lebih-lebih  pada saat jihad menjadi fardhu ‘ain bagi setiap mukmin.

Mereka yang lebih memilih hidup tenang, hidup mewah dan segala kesenangan duniawi, tidak peduli dan tidak mau menyambut seruan hijrah dan jihad setelah iman, maka tidaklah bermanfaat iman mereka.  Bahkan Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka jahannam dan tidak bermanfaat (hilang) iman mereka yang selama ini mereka bangun. Allahu Akbar !!! Tidak ada musibah yang lebih besar melebihi hilangnya status iman seseorang, status mukmin seseorang. Allahul musta’an

 

Wallahu a’lamu bish showaab

 

Abu Izzuddin Al Hazimi

[1]  Hadits riwayat Ibnu Murdawaih dalam Kanzul Ummal, disebutkan juga dalam tafsir Ad Duur Al Mantsur dan dinukil oleh Syaikh Abu Qatadah Al Filisthini dalam Al Jihad wal Ijtihad halaman 17

[2]  Tafsir Ad Duur Al Mantsur juz 1 hal 489,  Tafsir An Nisaburi juz 2 hal 20,

[3]  Washoyaa Lil Mujahidin : Abu Mush’ab Az Zarqowy hal 16 terbitan Minbar Tauhid Wal Jihad

[4]  Al Jihad Wal Ijtihad  : Dar Al Bayariq Cetakan I 1419 H hal 152

[5]  Diriwayatkan oleh Imam Thobary dengan 6 jalan/sanad, seluruhnya dari Al Barra’ bin Azib, lihat Tafsir Ath Thobary; dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Imam Bukhori, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Baihaqy

[6]  Riwayat Bukhary, Bab Al-Maghozy, 7/290. lihat Tafsir Baghowy, 1/302. Maktabah Syamilah, dan beberapa riwayat lain yang shahih

Wawancara Imaginer Dengan Seorang Mujahid Di Penjara Guantanamo

Tinggalkan komentar

Wawancara Imaginer Dengan Seorang Mujahid Di Penjara Guantanamo

Seorang mujahid tertangkap oleh kepolisian Republik Indonesia dan dijebloskan ke dalam penjara. Ia telah terjun di banyak medan jihad di berbagai penjuru bumi Allah ini. Dari Afghanistan ia hijrah ke Moro, lalu ke Rohingnya (Myanmar)  ke Pattani (Thailand), Ambon dan Poso  sebelum akhirnya tertangkap dalam sebuah penggerebegan yang dilakukan oleh Densus 88 antiteror. Karena kiprahnya itulah ia dianggap sebagai salah satu di antara gembong teroris dunia. Pemerintah Indonesia lalu menyerahkannya kepada Amerika, tuannya. Mujahid itu pun dijebloskan ke penjara Guantanamo yang terkenal sangat menyeramkan. Suatu hari datang seorang wartawan muslim mengunjunginya. Berikut dialog antara mereka :

Wartawan      : “Bagaimana keadaanmu di penjara yang terkenal sangat menyeramkan ini saudaraku ?”

Mujahid          : “Alhamdulillah aku sungguh gembira dan hanya Allah yang tahu tentang hal ini, walaupun terkurung dalam penjara dan setiap hari harus menjalani bermacam-macam siksaan”.

Wartawan      : “Kamu sangat bahagia dan gembira ? Kamu sedang mengejekku atau pura-pura mengatakan yang manis kepadaku ?”

Mujahid          : “Subhanallah… bagaimana mungkin aku mengejekmu saudaraku ?”

Wartawan      : “Tapi bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa kamu dalam kegembiraan dan sukacita sedangkan kamu di dalam penjara yang menyeramkan seperti ini ?”

Mujahid          “Jangan kaget wahai saudaraku, lihatlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau sendirian  dalam penjara yang sempit lagi  pengap namun beliau malah mengatakan  “Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku kepadaku ? Surga dan taman-tamanku ada di dalam dadaku, penjara bagiku adalah khalwat (menyepi dan bermunajat kepada Allah), jika aku terbunuh, maka aku syahid –insya Allah- sedangkan jika aku diusir dari negeriku, itu bagiku adalah seperti rihlah (tamasya)”.

Wartawan      : “Tapi, apa sebenarnya tuduhan yang didakwakan mereka kepadamu ?”

Mujahid          : “Mereka mempersalahkan aku dan menuduhku sebagai teroris yang kejam, hanya karena aku pergi membela saudara-saudaraku yang tanah airnya direbut secara paksa dan dijajah oleh anak cucu kera dan babi. Mereka juga menangkapku  karena aku ingin menghapus air mata dan kesedihan anak-anak yatim yang orangtuanya dibunuh oleh para penjajah itu, dan juga karena aku ingin membela para jompo dan orang-orang lemah yang tertindas dan tak lagi punya daya dan upaya untuk melawan”. Aku hanya melaksanakan Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini  yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” (QS An Nisa’ 75)

Wartawan      : Ada urusan apa engkau dengan mereka itu ? Bukankah kita di Indonesia, sedangkan mereka nun jauh di Moro, Chechnya, Irak, Palestina dan Afghanistan sana ?”

Mujahid          : “Masya Allah, ada apa dengan dirimu saudaraku, sudah matikah ghirah Islam mu ? Di manakah pembelaanmu terhadap saudara-saudaramu seiman dan seaqidah ?”

Wartawan      : “Bukan begitu… tak tahukah kamu betapa besarnya kepedulianku terhadap keluargaku, saudara-saudaraku dan kerabatku ? Tak akan kubiarkan seorang pun menghina mereka apalagi sampai menyakiti mereka “.

Mujahid          : “Subhanallah … apakah engkau lupa sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh-musuhnya”. Mereka semua yang nun jauh di Moro, Chechnya, Irak, Palestina dan Afghanistan sana adalah saudara kita, kita pun saudara mereka”.

Wartawan      : ”Astaghfirullah …… selama ini aku telah melupakan hak-hak saudara-saudaraku sesama muslim yang sedang teraniaya dan terjajah. Ya Allah ampunilah aku atas kebodohan dan kelalaianku ini. Aku telah tersibukkan dengan urusan duniaku, aku telah tersihir oleh tipu daya musuh-musuh Mu ya Allah”.

Mujahid          : “Jangan sedih saudaraku, Allah Maha Pengampun atas hambanya yang bertaubat dan menyesali kesalahannya”.

Wartawan      : “Akan tetapi yang aku dengar dari para ulama, mereka mengatakan bahwa para pemuda seperti kamu lah yang menyebabkan Amerika menyalahkan negara kita lalu mereka akan menyerang kita atau setidaknya mengembargo kita dan memasukkan negara kita dalam deretan negara sarang teroris. Ini sangat merugikan negara kita saudaraku”.

Mujahid          : “Bagaimana mungkin para ulama itu menyalahkan para pemuda mujahid itu ? Padahal justeru merekalah para pemuda gagah berani yang rela menyerahkan nyawanya demi membela kehormatan Islam dan kaum muslimin, atau mungkin yang kamu maksudkan adalah lain lagi ?”

Wartawan      : “Maksudku begini, jika para pemuda Islam Indonesia berduyun-duyun datang ke Moro, Chechnya, Irak, Palestina atau Afghanistan untuk membela saudara-saudaranya yang dibantai oleh Yahudi Israel, Amerika dan antek-anteknya, lalu pemerintah kita diam saja, dan tidak melarang mereka, pastilah Amerika akan menyalahkan pemerintah kita bahkan bukan tidak mungkin mereka akan menyerang kita, atau setidaknya mengembargo kita seperti dulu mereka pernah lakukan terhadap Libya dan Irak. Lihatlah bagaimana dampaknya. Kita semua akan mengalami krisis ekonomi, krisis pangan, kelaparan dan sebagainya”.

Mujahid          : “Semoga Allah memberimu hidayah wahai saudaraku …… Apakah engkau sangka Amerika dan antek-anteknya akan rela dan senang kepadamu dan seluruh kaum muslimin, jika kalian semua menutup mata terhadap nasib saudara-saudara kalian di Moro, Irak, Afghanistan, Palestina, Chechnya dan di berbagai tempat lainnya ? Lupakah kamu dengan firman Allah :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama dan cara hidup mereka” (QS Al Baqarah 120).

Kalaupun seandainya Allah takdirkan mereka tidak memusuhi kita, lalu di manakah pembelaanmu terhadap saudara-saudaramu sesama muslim yang teraniaya dan terjajah ? Lupakah kamu akan sabda Nabimu Shollallohu ‘alaihi wa Sallam ; Kalian akan saksikan orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang sesama mereka bagaikan satu tubuh, jika satu bagian tubuh mereka  sakit, seluruh tubuh mereka ikut merasakan demam dan tak bisa tidur“.

Di mana kepedulianmu terhadap mereka, ataukah imanmu telah lenyap sehingga engkau tidak lagi merasa sebagai salah satu bagian dari mereka ? Apa yang akan kalian katakan di hadapan Allah kelak ketika Dia bertanya kepadamu : “Aku sakit, engkau tak menjenguk-Ku, Aku haus engkau tak memberi-Ku minum, Aku lapar engkau tak memberi-Ku makan ? Bukankah kau lihat saudara-saudaramu kesakitan meregang nyawa, kelaparan dan kehausan ? Tahukah kamu, seandainya engkau peduli kepada mereka dan membela mereka pasti akan engkau dapatkan Aku di dekat mereka”. 

Wartawan      : “Terima kasih saudaraku, sekarang aku paham bagaimana aku harus bersikap. Tapi yang masih menjadikan aku bingung, bagaimana mungkin para pemuda  Islam yang terpelajar dan paham Islam bisa  terlena dan tidak ikut peduli terhadap saudara-saudaranya ? Sedangkan para ulama tidak juga menfatwakan kewajiban  Jihad untuk membela mereka ? Bukankah seandainya hukum jihad saat ini fardhu kifayah, maka ukurannya adalah sampai adanya  perlawanan yang berimbang ? Sampai jiwa yang teraniaya dapat tertolong ?”.

Mujahid          : “Aku tidak begitu terkejut kalau ruh jihad ini telah mulai pudar dari sanubari para pemuda muslim. Jangankan mereka, bahkan para ulama pun kini telah menutup mata dengan fenomena menyedihkan ini. Aku jadi teringat sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam Dari Abdullah bin Amr bin Ash : “Akan datang pada manusia suatu zaman di mana hati mereka adalah hati orang asing. Aku bertanya : “Apa maksudnya”. “Mereka sangat cinta dunia” Rasulullah melanjutkan : “Tradisi mereka adalah tradisi Arab, rizki yang dilimpahkan kepada mereka, mereka habiskan untuk hewan-hewan, mereka menganggap Jihad sebagai sebuah bencana dan zakat sebagai kerugian”.[1]

Wartawan      : “ Aku juga sering mendengar dari para ulama yang mengatakan bahwa saat ini belum waktunya untuk jihad memanggul senjata. Saat ini prioritas kita adalah  thalabul ilmi dan berdakwah mengajak manusia menuju Tauhid”.

Mujahid          : “Allahul Musta’an …. Apa mereka belum pernah mendengar sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam : “Akan selalu ada sekelompok kecil dari ummatku yang berperang dan berjihad menegakkan al haq dan mereka akan dimenangkan hingga hari kiamat”.

Wartawan      : “Benar, ini semua sungguh memilukan, tetapi tidak ada yang bisa kita perbuat kecuali bersabar”.

Mujahid          : (ia terhenyak karena terkejut) Sabar ? Sabar atas apa ? Sabar atas penjajahan, pemerkosaan, penindasan dan penistaan tempat-tempat suci kaum muslimin ? Ini bukan sabar yang dikehendaki Allah, bahkan Allah pasti murka kalau kita terus seperti ini.

Wartawan      : “Lalu kesabaran seperti apa yang dicintai Allah ?

Mujahid          : “Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga : sabar di atas ketaatan kepada Allah, sabar untuk tidak bermaksiat kepada Allah dan sabar atas taqdir Allah. Adapun yang dilakukan kaum muslimin saat ini adalah sabar untuk terus bermaksiat kepada Allah bukan sabar untuk taat pada perintah Allah”.

Wartawan      : “Apakah jika aku tetap seperti ini dan hanya menunggu pertolongan Allah datang, aku termasuk di antara orang yang berdosa dan bermaksiat kepada Allah ? Apa dasar ucapanmu itu ?”

Mujahid          : “Bukan aku yang ngomong seperti itu, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Jika kamu tidak berangkat untuk berjihad, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS At Taubah 39)

Dan juga Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Tidaklah seorang muslim yang mengkhianati saudara yang saat itu sedang dilecehkan kehormatannya dan direndahkan harkat dan martabatnya, kecuali kelak di hari kiamat Allah akan meninggalkannya, di mana saat itu ia sangat membutuhkan pertolongan-Nya”. [2]

Tidak dapat kita pungkiri lagi, sikap masa bodoh kita melihat saudara-saudara kita ditumpahkan darahnya, dilecehkan kehormatannya dan diinjak-injak harga dirinya adalah pengkhianatan yang tiada terkira. Semoga Allah mengampuni kita semua atas kelalaian ini.

Wartawan      : “Amien…. Akan tetapi saudaraku, bukankah Islam adalah satu-satunya Dien yang Allah Ridhoi ? Maka Allah lah yang akan Menolong Dien Nya. Apakah usaha kita ini ada pengaruhnya ? Aku rasa sama saja, kita membela Dien Islam atau kita diam saja, Allah pasti memenangkan Dien Nya.

Mujahid          : “Bagus sekali pendapatmu. Allah lah yang akan Memenangkan Islam ini, dan kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berserah diri sesuai kehendak-Nya. Namun jangan lupa, Allah juga lah yang memerintahkan kita untuk menolong Dien nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS Muhammad 7)

Jika kita menolong Islam, pastilah Allah akan menolong kita namun sebaliknya, jika kita mengkhianati Islam, pasti lah Allah akan membinasakan kita.

Wartawan      : “Aku paham apa yang engkau katakan bahwa saat ini jihad hukumnya Fardhu ‘ain. Tapi aku belum pernah mendengar seorang ulama’ pun yang menfatwakan demikian”.

Mujahid          : “Jangan salah sangka saudaraku, bahkan para ulama salaf sejak dahulu kala telah berfatwa bahwa hukum jihad adalah fardhu ‘ain yang artinya diwajibkan atas setiap individu muslim yaitu manakala musuh telah memasuki dan merebut salah satu wilayah kaum muslimin. Sedangkan para ulama masa kini yang berfatwa demikian adalah Syaikh Asy Syahid –Insya Allah- DR. Abdullah Azzam. Beliau mengatakan : “Jihad hukumnya fardhu ‘ain sejak jatuhnya Andalusia (Spanyol) ke tangan tentara Salib”.

                        Demikian juga ulama yang lain seperti Syaikh Umar Abdurrahman, Syaikh Abu Anas Asy Syami, Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, Syaikh Aiman Adz Dzawahiri, Syaikh Abu Abdillah Usamah bin Laden, Syaikh Asy Syahid –Insya Allah- Abu Mush’ab Az Zarqowi, Syaikh Abu Qatadah Al Filishtini dan masih banyak lagi para ulama Mujahid yang karena fatwa mereka tentang jhad dan keteguhan mereka menyerukan jihad di kalangan kaum muslimin sehingga pemerintah Thaghut dan antek-anteknya memenjarakan mereka, meneror mereka bahkan beberapa di antara mereka masih mendekam di dalam penjara-penjara para thoghut itu. Semoga Allah segera membebaskan mereka… Amien.

Wartawan      : “Para ulama yang angkau sebutkan itu mempunyai pendapat dan ijtihad seperti itu, sedangkan para ulama dan syaikh-syaikh kami juga mempunyai ijtihad sendiri. Bukankah kita bebas memilih ijtihad mana saja yang sesuai dengan kami.

Mujahid          : “Tetapi mestinya kita mengikuti pendapat yang tidak hanya berdasarkan hawa nafsu saja. Kita harus tahu apa dalil para ulama Mujahid ini dan apa dasar ijtihad syaikh-syaikh yang kamu ikuti”.

Wartawan      : “Para Syaikh kami berpendapat bahwa jihad saat ini sangat membahayakan diri kita, apalagi kekuatan kita tidak sebanding dengan kekuatan musuh-musuh Islam”.

Mujahid          : Saudaraku, coba engkau cermati perkataanmu tadi lalu engkau buka lembar-lembar sejarah kejayaan Islam, siapakah yang selalu mengucapkan perkataan seperti itu ? Para shahabat yang mulia kah atau para munafiq pengecut ? Tidak diragukan lagi, itu adalah ucapan para munafiqin –semoga Allah melindungi kita dari sifat nifaq ini-.

Allah Ta’ala Berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ 

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata : “Kami takut akan mendapat bencana (bahaya).” (QS Al Maidah 52)

                        Kaum munafiq itulah yang selalu merasa ketakutan akan tertimpa bahaya atau bencana manakala mereka diperintahkan berjihad bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam.

Kaum munafiq pulalah yang menyuruh rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam dan para shahabat agar takut dan menyerah manakala kaum kafir Quraisy telah mengepung mereka sebagaimana firman Allah yang artinya : “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang (munafiq) yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia (orang kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamukarena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imron 173)

Karena itu jika aku diperintahkan agar takut kepada Amerika dan antek-anteknya, maka akan aku jawab sebagaimana para shahabat yang mulia itu telah menjawab

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Wartawan      : Kita berlindung kepada Allah dari sifat nifaq ini, tetapi para ulama itu menyatakan bahwa masih terdapat perbedaan pendapat dan perselisihan di antara jama’ah-jama’ah jihad, sedangkan kamu tidak tahu harus bergabung di bawah panji yang mana saat kamu berjihad.

Mujahid          : “Saudaraku, bukan berarti jika masih ada perbedaan pendapat atau perselisihan di antara para komandan jihad atau antara jama’ah jihadiyah kemudian menghapuskan kewajiban jihad yang sangat agung ini. Bukankah sejak dulu pun telah terjadi ikhtilaf dan perbedaan pendapat di antara para ahli ilmu (ulama’) ? Lalu apakah  semua ikhtilaf itu kemudian menghapuskan kewajibantholabul ilmi bagi setiap mukmin ? Adapun soal panji (komando) jihad, setiap mujahid pasti tahu kepada siapa seharusnya mereka memberikan ketaatannya dan berada di bawah  panji apa mestinya mereka berjihad. Hanya saja para ulama itu tidak pernah terjun langsung ke kancah jihad, lalu bagaimana mereka akan tahu kondisi sesungguhnya yang terjadi di medan jihad ?

Wartawan      : “Engkau benar saudaraku, tapi bukankah jumlah, kekuatan dan perlengkapan perang kita sangat tidak sebanding dengan kekuatan musuh-musuh Islam? Mereka amat sangat jauh lebih kuat dan lebih banyak dibandingkan kita. Inilah yang selalu menjadi alasan  para ulama kami melarang kami terjun ke kancah jihad sampai suatu saat nanti kekuatan kita telah mampu menandingi kekuatan mereka”.

Mujahid          : “Apa yang kamu katakan itu benar adanya, secara dzahirnya kekuatan para mujahid sangat jauh dibandingkan dengan kekuatan dan jumlah musuh-musuh Allah. Akan tetapi cobalah engkau cermati kembali dalam sejarah Islam, hampir semua kemenangan besar yang diperoleh para mujahidin justru di saat kekuatan mereka sangat tidak sebanding dengan kekuatan musuhnya.Bukankah Allah telah mengabadikan kemenangan sebuah kelompok kecil ini dalam firmannya :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah 249) 

                        Saat itu jumlah pasukan panglima Thalut hanya 313 mujahid namun mereka berhasil mengalahkan puluhan ribu pasukan raja Jalut dengan izin Allah. Kunci kemenangan mereka bukan pada besarnya jumlah, lengkapnya peralatan tempur atau jitunya strategi, tetapi terletak pada kesabaran mereka, besarnya tawakkal mereka kepada Allah dan tingginya keimanan mereka akan janji Allah yang akan memenangkan para pembela risalah-Nya. Mereka tak pernah berhenti berdo’a :

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah 250)

Wartawan      : Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Apa pendapatmu tentang sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam kepada seorang pemuda yang ingin berjihad namun ia justru disuruh meminta izin terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya. Lalu beliau Shollallohu ‘alaihi Wasallam mengatakan bahwa jihad yang paling utama bagi anak muda itu adalah berbakti kepada kedua orangtuanya ?

Mujahid         : “Akan aku katakan kepadamu apa yang telah difatwakan oleh para ulama, dan ini bukan pendapatku. Ketahuilah, para ulama telah sepakat bahwa hadits ini berkaitan dengan jihad di saat hukumnya fardhu kifayah, bukan saat fardhu ‘ain. Artinya, di saat kekuatan kaum muslimin telah dianggap cukup (kifayah) menghadapi musuh-musuhnya. Cukuplah aku sebutkan penjelasan  Imam Ibnu Hajar Al Asqholani tentang hadits ini dalam kitab Fathul Bari:

                        Mayoritas (jumhur)  ulama’ berpendapat bahwa jihad diharamkan bagi seseorang manakala kedua orangtuanya  atau salah satu dari mereka melarangnya. Dengan syarat : keduanya adalah muslim. Karena berbakti kepada keduanya hukumnya fardhu ‘ain sedangkan jihad (saat itu) hukumnya fardhu kifayah. Namun ketika hukum jihad telah berubah menjadi fardhu ‘ain, maka tidak diperlukan lagi izin dari mereka. Hal ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban melalui jalan periwayatan yang berbeda. Dari Abdullah bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu : “Suatu hari datang seorang laki-laki menemui Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam lalu bertanya tentang amal ibadah yang paling utama. Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam menjawab : “Sholat”. Lalu apa Ya Rasulullah ? “Jihad fi sabilillah”. Jawab Rasul. “Akan tetapi aku masih punya dua orangtua ya Rasulullah”, tanyanya lagi. Rasul menjawab : “Aku perintahkan agar engkau berbuat baik dan berbakti kepada mereka”. Lelaki itu menjawab : “Demi Dzat Yang Mengutus engkau sebagai Nabi dengan haq, sungguh aku akan berangkat berjihad dan aku tinggalkan mereka berdua”. Lalu Rasul bersabda : “Engkau lebih tahu tentang keadaanmu”.[3]

Ibnu Hajar menjelaskan : Ini berkaitan dengan jihad di saat hukumnya telah menjadi fardhu ‘ain. Kesimpulan ini berdasarkan penggabungan antara dua hadits di atas”.[4]

Saudaraku… sepertinya waktu kunjungan tahanan sudah habis. Hanya satu saja nasehat terakhirku : “Jangan sekali-kali engkau mengambil fatwa, pendapat atau nasehat tentang jihad dari ulama yang tidak pernah terjun langsung ke medan jihad sebagaimana yang telah dinasehatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Asy Syahid – kama nahsabuh- Sayyid Quthb  dan Syaikh Asy Syahid – kama nahsabuh- Abdullah Azzam”

Sampaikan salam saya untuk semua saudaraku kaum muslimin yang sedang berjihad di mana pun mereka berada “uhibbuhum fillaahi :aku sangat mencintai mereka karena Allah” dan tolong bacakan kepada mereka ayat Allah ini : 

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا  لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu  dan mereka tidak merobah (janjinya),supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS Al Ahzab 23 -24)

Bumi Allah Jumada Al Tsaniyah 1431 H

[1] HR Ahmad, Baihaqi dan Al Hakim, beliau menyatakan hadits ini shahih

[2] HR Abu Dawud, Tirmidzi, Abu Syaikh dan Imam Ahmad, dinukil juga dalam Subulus Salam oleh Imam Ash Shon’ani

[3]  Shahih Ibnu Hibban, Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadits ini Hasan

[4]  Fathul Bari juz 9 hal 208 bab Al Jihad Bi Idznil Abawain

BERGABUNG DALAM JAMA’AH, LANGKAH AWAL MENUJU JIHAD

1 Komentar

JAMA’AH, BAGIAN DARI I’DAD

Walaupun mendapatkan tekanan dan halangan yang tidak henti-hentinya, perlahan-lahan tapi pasti muncul beberapa tanzhim atau jama’ah dakwah wal jihad  di bumi Indonesia ini. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada sebagian kaum muslimin yang tertarik berkomitmen (iltizam) dengan jama’ah ini belum paham sepenuhnya dengan sistem dan konsep jama’ah. Mereka masih menganggap sistem jama’ah  tidak ada bedanya dengan organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan pada umumnya. Sehingga tidak jarang mereka menjadikan aktifitas dan kegiatan dalam jama’ah  hanya sebagai aktifitas sambilan, pengisi waktu luang atau hanya sebagai aktifitas kumpul-kumpul belaka.

Padahal jika kita pahami dengan seksama, sistem jama’ah sangat berbeda jauh dengan sistem organisasi. Bergabung dalam suatu jama’ah berarti melaksanakan syari’ah berjama’ah, yang berarti pula mempersiapkan diri untuk berjihad fi sabilillah demi tegaknya Syari’ah Allah di atas bumi ini. Dan itu tidak bisa dianggap sebagai kegiatan paruh waktu atau pengisi waktu luang melainkan harus disikapi sebagai sebuah jalan hidup dan prioritas utama dalam gerak dan langkah kita, detik demi detik hari demi hari hingga maut menjemput kita.

Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz menjelaskan :

I’dad dalam rangka Jihad dimulai dengan pembentukan jama’ah sebagaimana sabda Rasulullah Shollallohu ‘alaihi  wasallam:

وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ آمُرُكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِى سَبِيلِ اللَّه 

“Dan aku perintahkan kalian dengan lima perkara yang telah Allah Perintahkan kepadaku : dengan berjama’ah, mendengar dan taat, hijrah dan jihad fi sabilillah”.  (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Kewajiban Jihad dimulai dengan melakukan I’dad. Itulah I’dad yang oleh Allah dijadikan sebagai pembeda antara mukmin sejati dengan orang munafiq(Terjemah Al Umdah fi I’dadil Uddah : Syam Publishing Cetakan I Rajab 1430 hal 16)

Karena membentuk jama’ah adalah salah satu bagian dari I’dad yang diwajibkan bagi setiap muslim, maka semua aktifitas yang telah ditentukan oleh jama’ah, seharusnya disikapi oleh setiap individu anggota sebagai I’dad untuk mewujudkan niat mereka menuju  jihad fi sabilillah. Dengan demikian, disiplin, taat kepada amir dan tidak memandang remeh setiap aktifitas jama’ah adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.   Bagi yang memandang sepele, berarti ia telah bermaksiat kepada Allah sedangkan bagi yang sungguh-sungguh berarti telah taat kepada Allah dan berusaha menyempurnakan imannya.

DISIPLIN, SYARAT SEMPURNANYA IMAN

Pada kenyataannya, tidak sedikit dari kaum muslimin yang sudah berkomitmen dan bermua’ahadah dalam Jama’ah dakwah wal Jihad justru menyepelekan berbagai aktifitas dan kegiatan yang telah disepakati bersama dan diperintahkan oleh Amir hanya karena alasan yang dibuat-buat atau keperluan yang seharusnya bisa ditunda atau dilakukan di lain waktu. Atau merasa bahwa aktifitas itu tidak terlalu penting karena tidak berhubungan langsung dengan Jihad atau I’dad secara fisik.

Mereka sama sekali tidak meminta izin atau memberitahukan ketidakhadiran mereka dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Padahal Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam telah mengatur berbagai adab dalam kehidupan sehari-hari termasuk adab dalam amal jama’i

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [النور/62]

Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan (kehadiran seluruh kaum muslimin tanpa kecuali), mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An Nuur 62)

Dalam ayat di atas jelas sekali Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk meminta izin kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam manakala mereka tidak bisa datang atau udzur tidak bisa memenuhi kewajiban menghadiri pertemuan dengan Rasulullah.

Pertemuan yang dimaksud di sini bukan hanya urusan jihad saja tetapi semua urusan yang memerlukan kehadiran kaum muslimin tanpa kecuali. Dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir dan Imam Ath Thabari menjelaskan makna “sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan” !!! bukan hanya peperangan, pertemuan atau musyawarah saja tetapi termasuk juga sholat Jum’at, Sholat Ied,   )lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 6 hal 88, Tafsir Ath Thobari juz 19 hal 228)

Betapa pentingnya izin dari Rasulullah dan para pemimpin sepeninggal beliau Shollallohu ‘alaihi wasallam sehingga Allah menjadikan hal ini sebagai salah satu syarat kesempurnaan iman seseorang. Dan kalau tidak bisa datang berjama’ah sholat lima waktu saja, seorang muslim harus izin terlebih dahulu, apalagi dalam urusan jama’ah yang merupakan bagian dari I’dad dan jihad ..!!!

Syaikh Abdurrahman As Sa’dy menjelaskan dalam tafsirnya :

“Ini merupakan nasehat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba Nya yang beriman manakala mereka diperintahkan untuk hadir dalam urusan yang memerlukan kehadiran mereka secara keseluruhan mengingat pentingnya masalah tersebut seperti urusan jihad, musyawarah dan sebagainya, yang mana keikutsertaan dan kehadiran mereka amat sangat diperlukan, maka seorang yang benar-benar  beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak akan mangkir atau tidak ikut hadir karena alasan-alasan tertentu. Tidak pantas bagi mereka untuk pulang meninggalkan pertemuan itu tanpa izin dari Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam atau para pemimpin dan para amir yang ditunjuk oleh kaum muslimin sepeninggal beliau Shollallohu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan permintaan izin sebelum meninggalkan pertemuan atau tidak hadir dalam pertemuan tersebut sebagai salah satu di antara syarat sempurnanya iman seseorang serta memuji orang-orang yang senantiasa meminta izin kepada Rasulullah dan para pemimpin setelah beliau Shollallohu ‘alaihi wasallam.

 “Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya

Akan tetapi tidak semua permintaan izin bisa dipenuhi kecuali dengan dua syarat yaitu :

  1. Urusan yang dijadikan alasan untuk meminta izin haruslah benar-benar urusan yang penting dan tidak bisa diwakilkan atau dikerjakan orang lain sehingga ia dengan sangat terpaksa tidak hadir atau meninggalkan pertemuan lebih dahulu sebelum selesai.
  2. Pemberian izin kepada seseorang lebih mendatangkan mashlahah atau kebaikan bagi keseluruhan kaum muslimin dan tidak mendatangkan madharat atau bahaya.

Kemudian setelah izin diberikan, Rasulullah (dan para pemimpin sepeninggal beliau Shollallohu ‘alaihi wasallam)  diperintahkan Allah untuk memintakan ampunan bagi orang yang meminta izin tadi, karena bisa jadi udzur atau keperluan yang dijadikan alasan meminta izin hanyalah alasan yang dibuat-buat atau keperluan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman (yang artinya) :

“Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Tafsir As Sa’dy juz I hal 576)

Namun sayangnya, dalam realita kehidupan berjama’ah saat ini, kita banyak sekali menemukan kejadian yang bertolak belakang dengan ayat di atas. Banyak di antara kita yang tidak hadir mengikuti kajian, musyawarah atau kegiatan I’dad yang telah diperintahkan amir tanpa izin atau pemberitahuan sama sekali. Seolah-olah hal ini bukan merupakan maksiat kepada Allah dan amir. Bahkan lebih menyedihkan lagi ternyata tidak jarang yang mangkir dari pertemuan, kajian, i’dad atau kegiatan-kegiatan lainnya justru mereka yang diberi amanah sebagai amir, mas’ul (penanggung jawab) atau orang yang seharusnya memberikan contoh dan keteladanan. Padahal Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya

“Jika salah seorang di antara kalian tidak bisa hadir dalam suatu  majlis, atau akan meninggalkan majlis, maka hendaklah ia mengucapkan salam (meminta izin), dan . (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dan beliau menyatakan hadits ini Hasan)

“….dan tidaklah yang pertama kali datang lebih utama dari yang belakanganmenunjukkan tidak adanya dispensasi atau pengecualian di antara mereka, baik yang datang lebih awal atau yang terakhir, yang tua atau yang muda, anggota atau pemimpin, semuanya sama saja.Dari sini dapat kita pahami  bahwa yang wajib meminta izin atau memberitahukan ketidakhadiran atau udzur adalah pemimpin dan yang dipimpin.

SULITNYA MERUBAH POLA PIKIR

Kenyataan di atas mungkin tidak akan terjadi bila kita semua telah mampu merubah pola pikir yang telah tertanam selama puluhan tahun dalam diri kita bahwa menghadiri rapat, pertemuan atau kajian adalah sebuah rutinitas dan kegiatan sukarela, boleh ikut boleh tidak. Boleh datang kapan saja pulang kapan saja. Terlambat datang atau malah tidak datang sama sekali bukan suatu dosa dan maksiat kepada Allah dan Amir. Dan bahwa jama’ah tidak jauh beda dengan organisasi, hanya sebagai pengisi waktu luang atau kegiatan sosial kemasyarakatan biasa yang hukumnya mubah.

Padahal  sebenarnya jika seseorang telah terikat dengan sumpah setia, bai’ah  atau mu’ahadah dalam suatu tandzim dakwah wal jihad maka semestinya telah tertanam dalam dirinya bahwa ia bukan lagi seorang muslim biasa sebagaimana kebanyakan orang. Seharusnya ia telah mulai menanamkan dalam diri dan keluarganya bahwa kehidupan mereka adalah kehidupan mujahid. Setiap langkah dan gerak-gerik mereka adalah gerak-gerik mujahid. Yang akan mendapatkan pahala jika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam dan akan berdosa jika menyelisihi keduanya.

Dalam bukunya, Al Umdah Fi  I’dadil Uddah, Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz menjelaskan

“Seiring dengan benarnya niat, wajib bagi seorang muslim untuk mengetahui bahwa kesungguhan apapun yang ia lakukan dalam jihad, sedikit atau banyak adalah amal shalih yang mendapatkan pahala, Insya Allah. Baik ia mendapatkan pertolongan maksimal dan kemenangan ataupun tidak mendapatkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman (yang artinya)

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) Karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS At Taubah 120 – 121)

Oleh karenanya kita beribadah kepada Allah dengan I’dad dan Tadrib yang sempurna sebagaimana kita beribadah kepada Allah dengan Jihad, shalat dan puasa…. “ (terjemah Al Umdah fi I’dadil Uddah : Syam Publishing Cetakan I Rajab 1430 hal 29 – 30)

 

Wallohu a’lam

DAKWAH DAN JIHAD THOIFAH MANSHUROH

Tinggalkan komentar

Mujahid adalah Mujtahid, Mujtahid adalah Mujahid

Allah Ta’ala berfirman:

 “Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman pergi berperang  semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, sekelompok orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (berdakwah) apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka berhati-hati.”  (Qs At Taubah 122)

Syaikh Abu Qotadah Al Filisthini – semoga Allah membebaskan beliau dari penjara thoghut Inggris- menjelaskan :

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala  membagi orang-orang beriman menjadi dua golongan : Mujahid dan Mujtahid, dan tidak ada lagi yang lebih baik dari mereka.Karena itu, seorang Mujahid seharusnya adalah juga Mujtahid demikian juga seorang Mujtahid mestilah Mujahid. Karena kata “Jihad” dan “Ijtihad” menurut pengertian bahasa, berasal dari kata الجَهد  yang berarti ( التعب و المشقّة) atau kepayahan dan kesulitan atau dari kata الجُهد yang berarti (الوسع و الطاقة) atau daya kemampuan dan kekuatan. [1]

Lebih tegas lagi Asy Syahid –Insya Allah- Sayyid Quthb menjelaskan : “”Dienul Islam tidak mungkin dapat dipahami secara benar kecuali dalam kancah perjuangan dan jihad. Lebih-lebih pada saat jihad sudah menjadi fardhu ‘ain, maka Dien ini tidak bisa dipahami hanya berdasarkan penjelasan dari seorang ahli ilmu syari’ah (faqih) yang hanya duduk di belakang meja dikelilingi kitab dan makalah tanpa merasakan langsung kecamuk jihad fi sabilillah…. 

Jelaslah bagi kita bahwa jihad tidak bisa dipisahkan dengan ijtihad, ataupun sebaliknya. Sedang kita pun tahu, dakwah di era modern seperti sekarang ini  mutlak memerlukan kemampuan seorang da’i untuk berijtihad menghadapi berbagai fenomena perkembangan science, teknologi, peradaban dan pemikiran manusia yang amat sangat pesat.

Mengharapkan metode dakwah yang jauh dari kecamuk pertarungan antara al haq dan bathil, adalah sebuah kemustahilan.. Apalagi jika kita memahami sifat perseteruan antara al haq dan al bathil sebagaimana Firman Allah :

Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap” (QS Al Anbiya’ 18) 

Syaikh Abu Qotadah -fakkallohu asroh- menjelaskan : “Al Haq (kebenaran) harus dilontarkan karena seperti itulah sifat aslinya, dan ia tidak mungkin berubah dari sifat itu karena Allah telah menciptakan unsur kekuatan itu dalam dirinya”. [3]

Melontarkan sesuatu jelas membutuhkan kekuatan, apalagi melontarkan al haq untuk melenyapkan kebathilan. Tentu tidak hanya dibutuhkan kekuatan semata. Lebih dari itu, dibutuhkan kesabaran, konsistensi, tsabat, strategi dan pengorganisasian yang rapi dan berbagai perangkat lainnya.

Hikmah dan Nasehat dalam Dakwah

Dalam menafsirkan ayat 125 surah An Nahl yang artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik…”, Sayyid Quthb menjelaskan :

“Inilah manhaj dan pedoman dalam berdakwah, selama itu masih berkisar dalam lingkup dakwah yang bersifat lisan, maka yang digunakan adalah hujjah (argument yang kuat) dan nasehat yang baik. Akan tetapi jika terjadi penentangan bahkan permusuhan terhadap para da’i dan penyeru syari’ah Allah, maka kondisinya menjadi berubah. Penentangan dan permusuhan adalah tindakan fisik yang harus dihadapi dengan tindakan yang setara sebagai bentuk penghormatan dan pembelaan terhadap al haq serta untuk menjaga agar jangan sampai kebathilan mengalahkan al haq……….. karena Islam adalah Dien yang lurus dan menjunjung tinggi keadilan ……….. dan Islam mewajibkan pemeluknya untuk membelanya dari segala bentuk tindakan yang melampaui batas. Sebagaimana firman Allah : “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu” (An Nahl 126). [4]

Dari sini dapat kita pahami bahwa hikmah dan nasehat yang baik hanyalah salah satu metode dan tahapan dalam berdakwah. Namun pada akhirnya tetap saja musuh-musuh Allah akan menggunakan segala cara untuk memadamkan cahaya Islam. Inilah salah satu arti penting jihad yaitu sebagai penjaga keberlangsungan dakwah.

Dakwah Thoifah Manshuroh

Imam Nasa’i meriwayatkan dari Salamah bin Nufail Al Kindy Radhiyallohu ‘Anhu dengan sanad shahih, beliau berkata : “Saat aku duduk-duduk bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam tiba-tiba seseorang berteriak “Orang-orang telah menambatkan kuda dan peralatan perang mereka, seraya berseru “Sekarang tidak ada lagi jihad, perang telah usai !!” serta merta Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam menolehkan wajahnya dan berseru “Mereka bohong !!”. Saat ini juga jihad dimulai, dan senantiasa akan ada sebagian dari umatku yang berperang menegakkan al haq, lalu Allah menjadikan hati orang-orang memusuhi mereka sehingga Allah jadikan rizki mereka melalui perantaraan orang-orang itu (ghanimah) hingga hari kiamat tiba dan hingga janji Allah terwujud (kemenangan Islam atas kaum kafir)”.

Ini hanyalah salah satu dari puluhan hadits tentang Thoifah Manshuroh yang karena saking banyaknya riwayat sehingga Syaikh Salman Audah dalam buku Silsilatul Ghuroba’ menyatakan bahwa hadits tentang Thoifah Manshuroh telah mencapai derajat Mutawatir Ma’nawy.

Dari sekian banyak hadits tersebut, tidak ada satupun hadits yang tidak menyebut jihad sebagai salah satu sifat dan ciri utama Thoifah Manshuroh. Bahkan dalam hadits di atas diterangkan bahwa rizki untuk mereka pun diperoleh dari Ghanimah mereka dalam berjihad. Allah mencukupi kebutuhan mereka, menghapus gundah gulana dan kecemasan mereka, serta berbagai macam problematika kehidupan karena kecintaan mereka kepada jihad fi sabilillah. Sehingga jihad adalah ruh dan jasad mereka, jihad adalah jiwa dan nyawa mereka. Karena sesungguhnya tanpa adanya ruh jihad dalam diri seseorang, sejatinya ia telah mati sebelum nyawanya dicabut oleh Sang Khaliq.

Adalah mustahil jika kita ingin dimasukkan dalam Thoifah Manshuroh, tetapi kemudian memilih metode dan manhaj dakwah yang tidak “nyerempet-nyerempet” dengan jihad, hanya karena kita takut disebut teroris. Dakwah dan jihad adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Memisahkan dakwah dari jihad sama dengan memisahkan jasad dari ruhnya. Dakwah akan mati dan jihad pun akan musnah. Tidak berlebihan rasanya jika kemudian Abu Qotadah menyimpulkan bahwa Thoifah Manshuroh adalah Thoifatul Jihad wal Ijtihad.

Lalu di manakah posisi kita saat ini ? Mujahid kah atau Mujtahid kah ?

Wallohu ‘a’lamu bishshowab.

[1]  Al Jihad wal Ijtihad hal 5 terbitan Darul Bayarik cetakan pertama tahun 1999M/1419H

[2]  Fi Dzilalil Qur’an hal 1735

[3]  Al Jihad wal Ijtihad hal 14  terbitan Darul Bayarik cetakan pertama tahun 1999M/1419H

[4]  Fi Dzilalil Qur’an 14/2202

HUSNUDZON (BAIK SANGKA) : CARA MUDAH MERAIH JANNAH (mudah dikatakan, sangat sulit diamalkan)

Tinggalkan komentar

Dari Anas Bin Malik Radhiyallohu ‘Anhu belia meriwayatkan :

Suatu ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam tiba-tiba belia bersabda :

«يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

“Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki ahli surga”.

Tidak lama kemudian datanglah seseorang –yang tidak begitu dikenal- dari kalangan Anshar, yang jenggotnya masih basah dengan air wudhu’ sambil menenteng sandal di tangan kirinya.

Keesokan harinya kami duduk-duduk bersama Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam dan beliau mengatakan hal sama lalu muncul orang yang sama dengan melakukan hal yang sama pula. Demikian terjadi hingga tiga hari berturut-turut. Ketika Rasulullah berdiri dari tempat duduk beliau Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti laki-laki tersebut seraya berkata : “Aku sedang bertengkar dengan ayahku dan aku bersumpah tidak akan pulang ke rumah sampai tiga hari ini. Bolehkah aku menginap di rumahmu wahai saudaraku ?” Orang itu ternyata mengijinkan.

Kemudian Anas bin Malik melanjutkan : “Setelah Abdullah bin Amr bin Ash menginap selama tiga hari, ia pun menceritakan apa yang dilihatnya. Ternyata ia tidak melihat orang itu bangun malam untuk sholat tahajjud, kecuali hanya terjaga sebentar lalu tidur lagi. Dan setiap kali ia terjaga, ia hanya berdzikir dan bertakbir lalu kembali tidur hingga datang waktu sholat Shubuh.

Selama tiga hari berturut-turut setiap kali engkau datang ke masjid, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam selalu bersabda : “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki ahli surga”, maka aku sangat ingin mengetahui amal ibadah apa yang telah engkau lakukan sehingga aku bisa menirumu. Tetapi selama tiga hari ini aku bersamamu aku tidak melihat sesuatu yang istimewa dari dirimu. Apa sebenarnya yang telah engkau lakukan sehingga Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam berkata seperti itu ?”.

“Memang tidak ada yang istimewa dalam diriku kecuali yang telah engkau saksikan sendiri selama tiga hari ini”. Jawab orang itu. “Maka aku pun segera pergi meninggalkan orang itu”, kata Abdullah bin Amr Amr bin Ash. Seketika itu ia memanggilku dan berkata :

« مَا هُوَ إِلاَّ مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّى لاَ أَجِدُ فِى نَفْسِى لأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلاَ أَحْسُدُ أَحَداً عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ »

Tidak ada yang istimewa dalam diriku kecuali yang telah engkau saksikan sendiri selama tiga hari ini, HANYA SAJA TIDAK PERNAH TERDETIK SEDIKIT PUN DALAM HATIKU BURUK SANGKA TERHADAP SAUDARAKU SESAMA MUSLIM DAN AKU TIDAK PERNAH MERASA IRI TERHADAP NIKMAT DAN KARUNIA YANG ALLAH BERIKAN KEPADA SESEORANG DI ANTARA MEREKA”.

Abdullah bin Amr Amr bin Ash pun menjawab :

« هَذِهِ الَّتِى بَلَغَتْ بِكَ وَهِىَ الَّتِى لاَ نُطِيقُ »

“Inilah kelebihan yang engkau miliki dan yang tidak mungkin dapat kami lakukan”.

(HR Ahmad dan Nasa’i dan dinyatakan Shahih oleh Syaikh Syuaib Al Arnauth berdasar syarat-syarat Bukhari & Muslim)

CATATAN PENULIS

  Kepada semua ikhwah yg pernah tersinggung, terluka atau sakit hati karena tulisan, ucapan maupun komentar saya yg disebabkan oleh su’udzon dan buruk sangka serta rasa iri dan dengk dalam hati saya, imohon dibukakan pintu maaf. Seakan-akan saya baru baca hadits ini hari ini.

إِلَهِي لاَ تُعَذِّبْنِي فَإِنِّي مُقِرٌّ باِلَّذِي قَدْ كاَنَ مِنِّي

Ya Rabbi .. janganlah Engkau siksa diriku

Karena aku t’lah mengakui semua dosaku

يَظُنُّ الناَّسُ بِي خَيْراً فَإِنِّي لَشَرُّ الْخَلْقِ لَوْ لَمْ تَعْفُ عَنِّي

Manusia menyangka diriku seorang yg shalih

Padahal akulah seburuk-buruk makhluk-Mu

Jika Engkau tak  sudi mengampuniku

فَماَ لِي حِيْلَةٌ إِلاَّ رَجاَئِيْ    وَعَفْوَكَ إِنْ عَفَوْتَ وَحُسْنَ ظَنِّي

Tak ada lagi dayaku selain mengharap rahmat dan ampunan-Mu

Serta husnudzdzon akan belas kasih-Mu