Kudekati napas dalam detak

Kuusap lembut kain putih yang membungkus jasad

Kutatap penuh lekat-lekat sesosok wajah nan teduh

Walau garis-garis ketuaan kian tergurat

Nampak jelas kulihat ketegaran

Nampak jelas kulihat ketenangan

Masih tetap tertancap kuat keteguhan

Masih lekat senyum kedamaian

Ustadz………….

Haruskah kita pedulikan pepohonan yang kini mulai bergoyang

Haruskah kita luruskan dahan-dahan yang mulai berserakan

Ingin rasanya Abdullah ini menemanimu setiap waktu

Ingin rasanya Abdullah ini mengunjungimu setiap kepulan debu

Meski sekedar tuntunkanmu usapkan hati pada air wudhu

Meski sekedar papahkanmu sujudkan wajah pada Rabb-mu

Ustadz……..

Nampak jelas keteguhan itu

Nampak tegas keberanian itu

Janji Rabb sudah kita hunjamkan

Pada seluruh alur darah kita dalam-dalam

Hingga tiada lagi celah kemusyrikan

Pada setiap detak napas yang meski tertahan

Ustadz……………………………

Ingin rasanya Abdullah ini terus bersamamu

Meski sekadar berikanmu semangkuk susu

Atau mengganti kain yang mulai basah oleh linangan air mata tasbihmu

Ustadz……………….

Ingin rasanya Abdullah ini terus lekat dalam dekapanmu

Ingin rasanya Abdullah ini kembali bercerita lewati hari-hari bersamamu

Tentang masyarakat jahiliyah yang kini dilanda kepanikan

Tentang sebuah peradaban yang mulai tunjukkan kerapuhan

Tentang ketidakmampuan mengurusi fithrah umat dalam genggaman

Tentang sebuah negeri yang centang perentang

Tentang kezaliman penguasa tiran

Tentang kapitalisme yang tumbang

Tentang demokrasi yang telah usang

Dan Islam yang kini mulai bersinar terang

Ustadz…………

Jika takdir itu sudah pasti

Jika syahidmu sudah dicatatkan oleh Rabbi

Esok pagi untuk yang terakhir kali

Kuantarkan engkau menuju pertemuan dengan Ilaahi

Pada lembutnya sekeping peluru tirani

Yang menembus ulu hati Abdullah ini

Sebelum melesat ke dalam nuranimu yang suci

Dan Ramadhan ini ‘kan kita lalui

Indahnya malam seribu bulan

Bersama gemericik Salsabila

Dan senyuman bidadari di surga

BumiAllah Ramadhan 1431 H