A. ULAMA YANG MEMBOLEHKAN QADHA’ AQIQAH

1. Ibnu Hajar Al Haitsami dalam kitab Majmauz Zawaid Juz 2 hal 64

Dari Anas bin Malik beliau berkata : “Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam melakukan aqiqah (menyembelih hewan aqiqah) untuk dirinya sendiri setelah beliau diutus sebagai Rasul”. (HR. Bazzar dan Thabrani, para perawi Thabrani semuanya adalah perawi shahih kecuali Haitsam bin Jamil, beliau adalah terpercaya/tsiqah). (Dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah hadits nomer 2726)

2. Imam Abu Bakar Ad Dimyathy dalam kitab ‘Ianatuth Thalibin Juz 2 hal 382

“…. Dan disunnahkan melakukan aqiqah untuk dirinya (setelah dewasa) berdasarkan hadits Rasulullah. Adapun pernyataan Imam Nawawi bahwa hadits ini (HR. Bazzar & Thabrani) adalah dha’if, sama sekali tidak benar, bahkan hadits ini adalah hadits Hasan”.

3. Imam Ath Thablawy dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj juz 14 hal 173

“…. Mereka yang menyatakan bahwa hadits ini lemah hanyalah mengikuti hasil penelian Imam Baihaqi tanpa lebih dahulu mentarjih. Padahal dalam riwayat Ahmad, Bazzar dan Thabrani melalui sanad yang berbeda dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al Haitsamy bahwa semua perawinya adalah perawi shahih sedang satu lagi adalah tsiqoh”.

4. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud

Diriwayatkan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka memperbolehkan mengqadha’ aqiqah bagi mereka yang sudah dewasa. Di antara nya adalah :

  • Imam Hasan Al Bashri (tabi’in) : “Jika orangtuamu belum mengaqiqahi kamu, maka aqiqahlah untuk dirimu sendiri ketika kamu sudah dewasa”.
  • Muhammad bin Sierin (tabi’in) : “Aku mengaqiqahi diriku sendiri dengan seekor unta ketika aku sudah dewasa”.
  • Dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal (tabiut tabi’in) nahwa beliau menganggap baik (istihsan) bagi mereka yang belum diaqiqahi saat bayi, lalu mengaqiqahi dirinya ketika sudah dewasa.

B. ULAMA YANG MELARANG QADHA’ AQIQAH

Umumnya para ulama yang tidak memperbolehkan qadha’ aqiqah menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani, Bazzar dan Ahmad adalah dhaif (lemah) juga yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Padahal hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani.

Berikut adalah di antara ulama yang melarang

1. Imam Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab Fathul Bari juz 15 hal 397

“Seandainya pun hadits ini shahih, itu adalah termasuk kekhususan buat Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam sebagaimana beliau berqurban untuk dirinya dan ummatnya”.

2. Syaikh Muhammad Al Amin As Sanggiti dalam kitab Syarah Zadul Mustaqni’

“Saya tidak pernah menemukan satupun hadits shahih tentang hal ini, kecuali beberapa hadits Dhaif dan cerita-cerita dari para ulama masa lalu ……”

C. BOLEHKAH QURBAN DENGAN NIAT MENGQADHA’ AQIQAH ?

  • Tidak ada satupun dalil yang menjelaskan (memerintahkan) untuk berqurban dengan niat sekaligus mengqadha’ Aqidah.

KESIMPULAN :

  • Pendapat yang Rajih (lebih kuat) adalah dibolehkan mengqadha’ aqiqah. Berdasarkan hadits-hadits shahih yg disebutkan di atas
  • Ulama yg menyatakan tidak sahnya qadha’ aqiqah karena menyimpulkan bahwa hadits-hadits di atas adalah DHAIF, padahal sebenarnya hadits itu shahih, sehingga pendapat mereka tertolak.
  • Qadha’ aqiqah tidak bisa dibarengkan dengan qurban,

Wallohu a’lamAl Faqir Ilallah

Abu Izzuddin Al Hazimi dari berbagai kitab rujukan

About these ads